Wujudkan Sustainable Fisheries, Indonesia Upayakan Dukungan Polandia

63
dok.humas KKP

KKPNews, Jakarta – Indonesia merupakan salah satu negara terdepan dalam mengupayakan perikanan berkelanjutan (sustainable fisheries) dan pemberantasan penangkapan ikan ilegal, tidak dilaporkan, dan tidak diatur (Illegal, Unreported, and Unregulated Fishing/IUUF). Oleh karena itu, Indonesia terus menggalang dukungan Deklarasi Internasional tentang Kejahatan Transnasional Terorganisir dalam Industri Perikanan Global (The International Declaration on Transnational Organized Crime in the Global Fishing Industry).

Deklarasi dukungan ini juga diupayakan Indonesia dari Polandia, negara dengan industri perikanan kuat yang diprediksi bakal terus tumbuh. Sabtu (8/12), dalam kunjungan kerjanya di Polandia, Menteri Kelautan dan Perikanan Republik Indonesia Susi Pudjiastuti bertemu dengan  Wakil Menteri Ekonomi Maritim dan Navigasi Darat Polandia, Anna Moskwa.

“Berbagai tindakan kejahatan perikanan telah merugikan negara-negara dunia dan mengancam keberlanjutan perikanan global. Indonesia sebagai negara perikanan layaknya Polandia menaruh perhatian khusus pada isu ini. Oleh karena itu, kami mengundang Polandia untuk menyatakan Deklarasi International tentang Kejahatan Transnasional Terorganisir dalam Industri Perikanan Global agar sumber daya perikanan dunia dapat kita selamatkan,” ajak Menteri Susi.

“Kita juga tidak akan dapat menjaga terumbu karang seperti yang kita inginkan tanpa memberantas IUUF ini terlebih dahulu,” lanjut Menteri Susi.

Ajakan Menteri Susi ini disambut baik oleh Anna Moskwa. Pasalnya, di sela-sela pelaksanaan Our Ocean Conference (OOC) 2018 pada 30 Oktober lalu keduanya juga telah sempat bertemu. Dalam pertemuan kala itu, Polandia menyambut baik ajakan Indonesia untuk bergabung dalam The International Declaration on Transnational Organized Crime in the Global Fishing Industry.

Perlu diketahui, The International Declaration on Transnational Organized Crime in the Global Fishing Industry ini telah disetujui oleh Menteri dari sembilan negara, yaitu Namibia, Kiribati, Indonesia, Ghana, Sri Lanka, Palau, Faroe Island, Kepulauan Solomon, dan Norwegia. Deklarasi disampaikan pada kegiatan 4th International Symposium on Fisheries Crime di Copenhagen  tanggal 15-16 Oktober 2018 lalu.

Dukungan juga telah dinyatakan lima negara nordik, yaitu Denmark, Faroe Island, Finlandia, Greenland, dan Swedia melalui Nordic Minister Statement on Transnational Organized Fisheries Crime yang dibacakan di Alesund, Norwegia pada 28 Juni 2017.

“Deklarasi ini bertujuan mendorong semua negara turut dalam upaya penyehatan laut, menciptakan industri perikanan dengan persaingan yang sehat, dan mengutamakan sustainable use of the ocean,” tutur Menteri Susi.

Tak hanya membicarakan dukungan deklarasi dari Polandia, pada kesempatan tersebut, Menteri Susi dan Anna Moskwa juga membicarakan peluang kerja sama perikanan kedua negara. Indonesia dan Polandia memang memiliki minat yang sama utamanya dalam pengembangan akuakultur.

Anna Moskwa mengatakan bahwa Polandia memang membutuhkan pasokan produk perikanan segar dan olahan untuk memenuhi kebutuhan bahan baku ikan di negaranya. Hal ini dapat dimanfaatkan Indonesia untuk meningkatkan volume ekspor perikanan ke negara tersebut, utamanya pada komoditas Tuna/Tongkol/Cakalang (TTC), udang, Ikan mas, nila, lele, patin, dan bandeng.

Industri pengolahan perikanan Polandia diperkirakan tumbuh jika ekspor dan investasi berjalan dengan baik. Impor memainkan peran penting guna memasok bahan mentah dikarenakan keterbatasan produksi dalam negeri Polandia, baik dari perikanan tangkap maupun budidaya

“Setiap bulan, Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) juga menyelenggarakan Marine Fisheries Business Forum. Kami mengundang para pengusaha Polandia untuk turut serta melihat peluang kerja sama atau investasi di Indonesia,” ujar Menteri Susi.

“Kami dapat membantu menyediakan bahan baku untuk industri pengolahan Polandia. Sebaliknya Polandia, dapat membantu menyerap hasil tangkapan dan budidaya ikan di Indonesia yang melimpah,” pungkas Menteri Susi.

Kerja sama perikanan Indonesia-Polandia juga dapat terlihat dari catatan neraca perdagangan kedua negara. Berdasarkan data Direktorat Jenderal Penguatan Daya Saing Produk Kelautan dan Perikanan (Ditjen PDSPKP), neraca perdagangan Indonesia terhadap Polandia tercatat surplus dalam tiga tahun terakhir.

Ekspor perikanan Indonesia terus meningkat dari nilai USD766.426 pada 2015, menjadi USD866.681 pada 2016, dan naik menjadi USD1.492.938 pada 2017. Januari-Agustus 2018, bahkan nilai ekspor telah tercatat sebesar USD1.495.095.

Sementara itu, hampir tidak tercatat adanya impor produk perikanan dari Polandia ke Indonesia dalam 3 tahun terakhir, kecuali pada tahun 2017 yang sebesar USD 89.375.

Pada kesempatan tersebut, Anna Moskwa juga menyampaikan undangan kepada Menteri Susi untuk berkunjung ke Warsawa dan dua kota besar di Laut Baltik, yaitu Gdansk dan Gydnia.  Di sana terdapat pelabuhan-pelabuhan berbasis galangan kapal milik Polandia tempat berlangsungnya aktivitas ekonomi maritim Polandia.

Terakhir, Anna Moskwa menyampaikan apresiasinya kepada Indonesia atas penyelenggaraan OOC kelima beberapa waktu lalu. ”Selamat Indonesia atas keberhasilannya menyelenggarakan OOO yang berjalan sangat baik. Saya bisa katakan, ini event kelautan terbaik yang pernah saya hadiri,” pujinya.  (Ade Fitria Nola)

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?
  • Senang (100.0%)
  • Terhibur (0.0%)
  • Terinspirasi (0.0%)
  • Tidak Peduli (0.0%)
  • Terganggu (0.0%)
  • Takut (0.0%)
  • Marah (0.0%)
  • Sedih (0.0%)

Comments

comments