Upaya Peningkatan SDM Kelautan dan Perikanan Melalui Model Pembelajaran Teaching Factory pada Satuan Pendidikan KP

2551
SAMSUNG CSC

Untuk menjadi bangsa yang besar dan berkemampuan bersaing dalam kerangka global, maka diperlukan pendidikan sebagai pijakan dalam membangun logika untuk mencerdaskan kehidupan bangsa dan mengembangkan manusia Indonesia yang memiliki pengetahuan, budi pekerti dan keterampilan. Pendidikan menjadi sangat penting bagi bangsa Indonesia dalam segala sektor, karena pendidikan merupakan bagian integral yang tidak dapat dipisahkan dari proses penyiapan Sumber Daya Manusia (SDM) yang berkualitas, tangguh dan terampil sehingga dapat lebih produktif dan berdaya bersaing tinggi. Dapat dikatakan bahwa kualitas SDM merupakan salah satu faktor penentu dalam mencapai keberhasilan program pembangunan.

Selanjutnya, dalam menghadapi era global dengan akselerasi yang cepat maka diperlukan tenaga kerja yang tidak hanya mempunyai kemampuan bekerja dalam bidangnya,namun juga sangat penting untuk menguasai kemampuan menghadapi perubahan serta memanfaatkan perubahan itu sendiri. Sehingga, menjadi tantangan pendidikan untuk dapat mengintegrasikan kedua macam komponen kompetensi tersebut secara terpadu agar mampu menyiapkan SDM utuh yang memiliki kemampuan bekerja dan berkembang pada masa yang akan datang.

Merujuk pada hal tersebut diatas, dalam rangka menyiapkan SDM Kelautan dan Perikanan yang mampu menghadapi situasi perubahan saat ini, maka kebijakan Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) melalui Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia (BSDM KP) yang memiliki Visi “Mencetak SDM Unggul Bagi Pembangunan Kelautan dan Perikanan yang Berdaya Saing dan Berkelanjutan untuk Kesejahteraan Masyarakat” dalam menyelenggarakan pendidikan vokasi dipandang sangat tepat untuk menyedikan tenaga terampil dan ahli perikanan yang kompeten dan berdaya saing. Peran Sumber Daya Manusia (SDM) yang kompeten serta handal menjadi target dan sasaran prioritas KKP untuk menopang pembangunan ekonomi nasional. Hal senada juga, menjadi perhatian khusus Pemerintah dalam pengembangan SDM berbasis kompetensi dalam menghadapi Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA) yang telah berlaku mulai tahun ini.

Arah pendidikan vokasi dengan pendekatan Teaching Factory yang diselenggarakan pada satuan pendidikan BPSDM KP adalah pengembangan pengetahuan (knowledge), keterampilan (skill) dan karakter (character building) dengan porsi sebesar 70% praktek dan 30% teori untuk pendidikan menengah dan 60% praktek dan 40% teori untuk pendidikan tinggi. Teaching Factory (TEFA) merupakan suatu konsep pembelajaran dalam suasana sesungguhnya, sehingga dapat menjembatani kesenjangan kompetensi antara kebutuhan industri dan pengetahuan pada satuan pendidikan. Teknologi pembelajaran yang inovatif dan praktek produktif merupakan konsep metode pendidikan yang berorientasi pada manajemen pembelajaran agar selaras dengan kebutuhan dunia industri. Serupa dengan itu, program Teaching Factory merupakan perpaduan pembelajaran yang sudah ada yaitu Competency Based Training (CBT) dengan Production Based Training (PBT), yang dalam pengertiannya bahwa suatu proses keahlian atau keterampilan (life skill)dirancang dan dilaksanakan berdasarkan prosedur dan standar bekerja yang sesungguhnya untuk menghasilkan produk yang sesuai dengan tuntutan pasar/konsumen.

Program pendidikan TEFA pada satuan pendidikan BPSDM KP ini, diarahkan pada upaya pembentukan dan atau output lulusan yang memiliki keterampilan, kompetensi, dan profesional di sektor kelautan dan perikanan. Sehingga para lulusan diharapkan dapat menjadi penggerak potensi kelautan dan perikanan, dan tenaga kerja yang profesional, baik sebagai pelaku utama muda modern, pelaku usaha, maupun sebagai tenaga kerja pada dunia usaha dan dunia industri (DU/DI) di sektor kelautan dan perikanan. Yang kesemuanya itu, diharapkan dapat menghasilkan impact berupa kesejahteraan pada masyarakat.

Adapun wujud nyata dari implementasi program pendidikan vokasi melalui pembelajaran TEFA yang diselanggarakan satuan pendidikan BPSDM KP, yaitu telah terlaksananya kegiatan Teaching Factory sebagaimana dimaksud. Beberapa bentuk kegiatan real Teaching Factory yang telah dilaksanakan adalah sebagai contoh; budidaya udang system busmetik (budidaya udang skala mini pada empang plastik) oleh SUPM Ladong, pengolahan BATARI (Bandeng Tanpa Duri) oleh Politeknik KP Sidoarjo, penyusunan Programa Penyuluhan Perikanan oleh STP Jurluhkan Bogor, dan masih terdapat bentuk kegiatan Teaching Factory lainnya di 8 (Delapan) SUPM dan 2 (Dua) Politeknik KP pada satuan Pendidikan BPSDM KP.

Budidaya udang system busmetik SUPM Ladong telah diselenggarakan sejak tahun 2012, dan merupakan produk unggulan yang melibatkan taruna secara aktif yang turut didampingi oleh guru sebagai konsultan. Bahkan Teaching Factory SUPM Ladong ini, telah menjadi rujukan bagi Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) di wilayah sekitarnya. Hal ini ditunjukan dengan terjalinnya kerjasama dengan berbagai SMK untuk pemanfaatan sarana parasarana, sharring knowledge, maupun peningkatan kompetensi pendidik.

Teaching Factory pengolahan BATARI (Bandeng Tanpa Duri) merupakan produk unggulan Politeknik KP Sidoarjo yang diolah di TEFA pengolahan modern. Produk yang dihasilkan dari praktek taruna ini adalah sebagai pembelajaran Teaching Factory untuk memperoleh keterampilan yang handal dalam bidang pengolahan ikan, yang tidak terlepas dari peran serta Dosen sebagai tenaga pendidik/pendamping dalam menghasilkan BATARI berkualitas tinggi. Untuk kalangan penikmat rasa di wilayah sekitar dan lingkup satuan Pendidikan BPSDM KP, produk yang dahulunya dikenal Bandeng Tandu (Tanpa Duri) ini sudah cukup dikenal dan sudah banyak dikonsumsi. Bukan hanya dikenal saja, namun hasil praktek peserta didik ini telah berhasil masuk ke pasar retail modernserta banyak diantara Lembaga, Institusi dan Dharma Wanita yang berkunjung untuk mempelajari proses pembuatan BATARI tersebut dan bahkan melakukan program kerja sama. Di awal tahun 2015, Dharma Wanita Persatuan Provinsi Papua pun berkunjung ke Politeknik KP Sidoarjo untuk mempelajari Bandeng Tanpa Duri dan bentuk produk unggulan lainnya.

Sedangkan model pembelajaran Teaching Factory dalam penyusunan Programa Penyuluhan Perikanan yang dilaksanakan oleh STP Jurluhkan Bogor, yang juga di motori oleh Pusat Penyuluhan KP bertujuan menghasilkan SDM yang handal dalam bidang Komunikasi dan Penyuluhan Perikanan untuk menunjang kegiatan pembangunan perikanan nasional. Kegiatan TEFA ini telah dilaksanakan di Kabupaten Bogor, Karawang dan Bekasi dengan mendapatkan apresiasi positif dari Pemerintah Daerah. Dalam pelaksanaannya, taruna menggunakan metode penyuluhan partisipatif dengan didampingi oleh Penyuluh Perikanan (BP3K/BP4K) serta Dinas Kelautan dan Perikanan sebagai fasilitator dengan melibatkan pelaku utama perikanan dalam setiap tahapan kegiatan.

Teaching Factory penyusunan programa penyuluhan perikanan dimaksudkan agar taruna dapat membantu melengkapi konsep Programa Penyuluhan Perikanan yang sudah ada dengan pendekatan wilayah atau komoditas, mengevaluasi kegiatan pelaksanaan penyuluhan serta mengaplikasikan cara penyusunan konsep programa penyuluhan perikanan tingkat Desa, Kecamatan sampai pada tingkat Kabupaten sebagaimana tertuang dalam Peraturan Menteri KP Nomor. 13 tahun 2011 tentang Pedoman Penyusunan Programa Penyuluhan Perikanan.

Dari uraian implementatif diatas, jelas bahwa program Teaching Factory merupakan langkah positif untuk menyiapkan SDM Kelautan dan Perikanan yang kompeten dan berdaya saing tinggi serta professional dalam bidangnya. Namun terlepas dari itu, sebagai suatu proses pembelajaran maka kegiatan evaluasi sangat penting untuk dilakukan. Hal ini untuk mengetahui sejauh mana pelaksanaan pembelajaran, seperti halnya hambatan-hambatan apa saja yang terdapat dalam pelaksanaan Teaching Factory dan hal-hal apasaja yang harus diperbaiki dan ditingkatkan dalam proses pelaksanaan Teaching Factory, sehingga program pendidikan yang dilaksanakan dapat dicapai sesuai dengan tujuan yang diinginkan.

Olehnya itu, program pendidikan yang bermuara pada peningkatan kompetensi SDM ini perlu dilakukan secara sistematis, terus menerus, konsisten serta terarah melalui jalur pendidikan, pelatihan dan penyuluhan dalam bidang kelautan dan perikanan. Karena esensi proses pendidikan pada dasarnya bersumber dari masyarakat dan luarannya kembali ke masyarakat, dengan mengacu kepada kebutuhan dan pemecahan masalah yang dihadapi oleh masyarakat. Pendidikan dapat dikatakan efektif apabila mampu menyiapkan lulusan sesuai kepentingan masyarakat, yang bukan semata-mata menghasilkan nilai dalam proses belajar mengajar.

Penulis : Dedi Sutisna
Download Lampiran

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?
  • Senang (80.0%)
  • Tidak Peduli (20.0%)
  • Terhibur (0.0%)
  • Terinspirasi (0.0%)
  • Terganggu (0.0%)
  • Takut (0.0%)
  • Marah (0.0%)
  • Sedih (0.0%)

Comments

comments