Untuk Pertama Kalinya, Bayi Dugong Berhasil Diplepasliarkan di Indonesia

84
Sebelum dipelaspliarkan, bayi dugong berkelamin jantan dengan panjang 113 cm dan berat 30 kg ini telah diberikan serangkaian penanganan kesehatan yang dipimpin oleh drh. Ana dari Flying Vet Sorong dan tim Papua Dive Resort. Dok. Humas DJPRL

KKPNews, Raja Ampat – Badan Kawasan Konservasi Perairan Nasional (BKKPN) Kupang, Loka Pengelolaan Sumberdaya Pesisir dan Laut (Loka PSPL) Sorong, Polres Raja Ampat, bersama dengan tim Papua Dive Resort berhasil melakukan pelepasliaran bayi dugong pada Senin (1/4).

Bayi dugong yang diberi nama ‘Dino’ ini sebelumnya ditemukan terdampar di sebelah selatan pulau Kri, Raja Ampat oleh Max Ammer dan team dari Papua Dive Resort pada tanggal 26 Maret 2019. Petugas respon cepat Unit Pengelola Teknis (UPT) Ditjen Pengelolaan Ruang Laut (PRL) yang menerima laporan langsung menindaklanjuti dengan membentuk tim Rescue yang terdiri dari Polres Raja Ampat, Loka PSPL Sorong, anggota Satwas PSDKP Sorong, Flying Vet Sorong dan Papua Dive Resort.

Sebelum dilepasliarkan, bayi dugong berkelamin jantan dengan panjang 113 cm dan berat 30 kg ini telah diberikan serangkaian penanganan kesehatan berupa (1) pemberian asupan susu dan vitamin; (2) pemantauan perkembangan kesehatan fisik (pengukuran morfometrik, pemeriksaan kelamin, dan penimbangan tubuh); (3) pemantauan psikis bayi dugong; dan (4) pemberian pelatihan cara treatment susu kepada 3 anggota team BKKPN Kupang (Joko), Loka PSPL Sorong (Vera), dan relawan Papua Dive Resort (Risa). Rangkaian penanganan kesehatan dipimpin oleh drh. Ana dari Flying Vet Sorong dan tim Papua Dive Resort.

Sebagai informasi, dugong (Dugong dugon) merupakan salah satu jenis mamalia laut yang dilindungi karena sifatnya yang bioreproduksi dan populasinya yang terus menurun. Sebagai biota laut yang menyusui, bayi dugong sangat mudah mengalami kematian jika terpisah dari induknya. Oleh karena itu, penanganan bayi dugong sangat sulit dan berbeda dengan penanganan biota laut lainnya yang tidak menyusui.

Sementara itu, Pulau Kri Raja Ampat dan sekitarnya merupakan gugusan pulau-pulau kecil yang perairannya sangat subur sehingga memiliki keanekaragaman hayati yang sangat tinggi. Distribusi dugong di kawasan ini mencapai 18 – 20 ekor setahun karena habitat alaminya sangat luas.

Kasus kematian dugong masih kurang dan jarang ditemukan. Kendati demikian, bioreproduksi dan ancaman alami, serta penurunan luasan pakan alami (lamun) di semua daerah distribusi perlu mendapat perhatian utama karena berbagai ancaman tersebut dapat menurunkan populasi dan kehadiran dugong di kawasan tersebut secara langsung. Berbagai referensi ilmiah dan pakar telah menjelaskan bahwa bayi dugong yang terpisah dari induknya memiliki peluang sangat kecil untuk bertahan hidup karena bayi dugong membutuhkan perlindungan dan susu alami dari induknya. Kendati demikian, mamalia laut tersebut memiliki sifat sosial yang berbeda dengan biota laut lainnya sehingga jika penanganan medis dilakukan serius dan kesejahteraannya (animal welfare) diterapkan secara baik, bayi dugong dapat hidup dan dikembalikan ke habitat alaminya di sekitar lokasi ditemukannya.

Kepala BKKPN Kupang, Ir. Ikram M. Sangadji M.Si., yang memimpin langsung penanganan dugong ini menyatakan bahwa penyelamatan bayi dugong ini merupakan kejadian yang pertama kali dilakukan di Indonesia. Penanganan awal dilakukan dengan baik melalui pemberian susu dan vitamin, pemeriksaan kondisi fisik dan psikis, penanganan alam untuk aklimatisasi, serta pemantauan pergerakan induk sekitar lokasi kejadian.

Pemerintah, dalam hal ini KKP, memberikan apresiasi terhadap tim respon cepat dan masyarakat yang telah besama-sama menyelamatkan bayi dugong yang terdampar. Hal ini menunjukan komitmen akan kesadaran melindungi dan melestarikan biota laut yang dilindungi. Keberhasilan penanganan bayi dugong juga merupakan prestasi yang patut dibanggakan karena untuk pertama kalinya di Indonesia bayi dugong yang terdampar berhasil dilepasliarkan dalam kondisi hidup.

Pemerintah terus berupaya untuk melestarikan sumber daya alam hayati laut di Raja Ampat, salah satunya dengan pengelolaan kawasan konservasi perairan yang berkelanjutan.  UPT KKP yang mengelola kawasan konservasi perairan adalah BKKPN Kupang, yang mengelola KKPN di Raja Ampat, yaitu Suaka Alam Perairan di Kawasan Perairan Kepulauan Raja Ampat dan Laut Sekitarnya seluas kurang lebih 60.000 hektar, dan Suaka Alam Perairan di Kawasan Perairan Sebelah Barat Kepulauan Waigeo dalam hal ini Kepulauan Panjang dan Laut Sekitarnya seluas lebih kurang 271.630 (dua ratus tujuh puluh satu ribu enam ratus tiga puluh) hektar. Kedua KKPN ini memiliki ekosistem penting dan habitat bagi beberapa jenis biota jenis yang dilindungi, salah satunya adalah Dugong.

Dugong merupakan mamalia herbivora yang hidup tersebar di perairan dangkal Indonesia, masuk dalam family Dugongidae, marga Dugong dan spesies Dugong dugon. Sebagai mamalia herbivora, duyung memiliki peran ekologis yamg sangat penting dalam ekosistem pesisir, yaitu sebagai penstabil dan penyubur ekosistem padang lamun, serta merangsang produktivitas lamun lebih cepat. Saat memakan lamun, duyung secara tidak langsung membantu memperluas sebaran lamun melalui penyebaran biji lamun. Dengan demikian, duyung membantu menyediakan mekanisme pemulihan bagi padang lamun sebagai rumah ikan selain ekosistem terumbu karang. (Balai KKPN Kupang/Humas DJPRL)

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?
  • Terhibur (0.0%)
  • Terinspirasi (0.0%)
  • Senang (0.0%)
  • Tidak Peduli (0.0%)
  • Terganggu (0.0%)
  • Takut (0.0%)
  • Marah (0.0%)
  • Sedih (0.0%)

Comments

comments