Tawa Ceria Anak Pesisir Korban Tsunami di Sekolah Lapang

45
Dok. Humas STP

KKPNews, Pandeglang – “Siapa yang bisa menyebutkan nama-nama ikan?” tanya seorang taruna. “Saya!” teriak anak-anak kompak, bersemangat, dan penuh antusias. Demikian percakapan di sekolah lapang yang diselenggarakan Sekolah Tinggi Perikanan (STP) bagi anak-anak korban bencana tsunami, Minggu (27/1/2019), di Pandeglang, Banten.

STP, satuan pendidikan Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP), menyelenggarakan kegiatan sekolah lapang, setiap hari Sabtu dan Minggu, 11 Januari sampai 3 Maret 2019. Tema yang diusung adalah “Membangkitkan Semangat dan Cinta Kelautan dan Perikanan Melalui Sekolah Lapang bagi Anak-anak Terdampak Tsunami di Kecamatan Labuan, Kabupaten Pandeglang, Banten, Bersama Sekolah Tinggi Perikanan.”

Bertempat di Posko Majlis Taklim Al Ikhlas, Desa Karabohong, Labuan, Pandeglang, terlihat para taruna didampingi beberapa dosen memberikan materi kepada anak-anak korban tsunami disertai berbagai games, kuiz, pemutaran video feature dan film kartun tentang kelautan dan perikanan, serta berbagai lomba seperti menggambar dan mewarnai binatang laut. Lagu Baby Shark menjadi salah satu primadona anak-anak dalam bernyanyi dan menari bersama. Terlihat pernak-pernik cantik dan balon yang berwarna-warni menghiasi dekorasi panggung di halaman posko tersebut.

Materi yang diberikan antara lain pengenalan bencana di wilayah pesisir; keadaan darurat tanggap bencana; pengenalan ekosistem pesisir dan fenomena alam yang terjadi; pengenalan tentang laut, konservasi sumberdaya perikanan; perikanan (penangkapan ikan, budidaya, dan pengolahan); soft skill bagi anak-anak di wilayah pesisir; serta cinta kelautan dan perikanan dan cinta tanah air/NKRI. Tim yang bertugas terdiri dari taruna, dosen, dan tenaga kependidikan dari Kampus STP Jakarta, Bogor, dan Serang.

Ketua STP Mochammad Heri Edy mengatakan, KKP melalui Badan Riset dan Sumber Daya Manusia Kelautan dan Perikanan (BRSDM) terpanggil untuk terlibat langsung dalam kegiatan pemulihan masyarakat pesisir yang terdampak akibat tsunami di Selat Sunda pada 22 Desember 2018. Dari tiga tahapan bencana yang terdiri dari tanggap darurat, rekonstruksi, dan rehabilitasi, KKP berfokus pada tahapan ketiga yaitu rehabilitasi. Sementara dua tahapan sebelumnya merupakan wewenang lembaga lain yang memiliki prioritas dalam tindakan pasca bencana.

“Bentuk rehabilitasi yang akan dilakukan adalah berupa kegiatan sekolah lapang, yakni sekolah sementara yang ditujukan bagi putra-putri masyarakat pesisir terdampak bencana. Kegiatan ini berlangsung selama dua bulan sambil menunggu penyelesaian pemukiman yang akan disediakan oleh pemerintah,” ujarnya.

Ia melanjutkan, tujuan sekolah lapang ini adalah untuk menambah pengetahuan masyarakat pesisir terdampak selama masa tanggap bencana sampai rumah hunian sementara selesai, berupa pengetahuan tentang laut dan ekosistemnya; bahaya dan kondisi darurat di wilayah pesisir; pengetahuan tentang perikanan (penangkapan ikan, budidaya, pengolahan, konservasi, dan sumberdaya laut); trauma healing melalui sekolah lapang yang ditujukan bagi putra-putri masyarakat pesisir, menumbuhkan rasa cinta terhadap kelautan dan perikanan; serta memberikan motivasi dalam menjalani kehidupan ke depannya.

“Output yang diharapkan adalah bangkitnya kembali semangat anak-anak yang terdampak tsunami sehingga mereka bisa menata masa depan dengan penuh keyakinan diri; tumbuhnya rasa cinta terhadap sumberdaya laut dan pesisir; memahami bahaya-bahaya bencana di daerah pesisir dan cara mengatasinya; menyambung silaturahmi antara KKP dengan masyarakat wilayah pesisir Banten; meningkatkan peran dan kepedulian Satuan Pendidikan Kelautan dan Perikanan dalam hal ini difasilitasi oleh Sekolah Tinggi Perikanan,” tambahnya.

Data dari pengurus Majlis Taklim Al Ikhlas menyebutkan, per tanggal 27 Januari 2019, posko tersebut dihuni oleh 326 orang, terdiri dari 169 laki-laki, 157 perempuan, dan 85 kepala keluarga. Jumlah anak-anak (usia Balita ke atas) mencapai 74 orang, Balita 34 orang, dan bayi 7 orang.

Sebelum dimulainya sekolah lapang ini, KKP melalui BRSDM telah mengunjungi posko tersebut untuk memberikan bantuan sembako dan alat tulis pada 7 Januari 2019. Hadir pada kesempatan tersebut Kepala BRSDM Sjarief Widjaja, didampingi Kepala Pusat Pendidikan Kelautan dan Perikanan Bambang Suprakto, Ketua STP Mochammad Heri Edy, beserta pejabat lainnya. Tak hanya itu, STP juga telah menghimpun bantuan dari para pegawai yang diserahkan di Posko KKP, akhir tahun lalu, di Loka Pemeriksaan Penyakit Ikan dan Lingkungan, Serang, Banten.

Sementara itu anak-anak yang mengikuti sekolah lapang ini mengaku sangat gembira dan bersemangat. “Senang banget, karena belajar, bermain, dan banyak hadiah,” kata Muhammad Farel, salah seorang peserta, siswa kelas 6 Sekolah Dasar Teluk II, Pandeglang, yang rumahnya hancur diterjang tsunami.

Namun demikian, kini ia termasuk salah satu yang beruntung. Peraih Juara I lomba pengetahuan umum di sekolah lapang ini mendapat bantuan pendidikan untuk melanjutkan sekolah dari SMP hingga SMA dari dana pribadi salah seorang dosen STP, Ade Sunaryo. Bukan hanya karena meraih Juara I, tapi ada alasan lain yang membuatnya mendapat bantuan pendidikan. Pada saat Ade menjadi pemateri, ia bertanya kepada para peserta tentang cita-cita mereka. Ada yang menjawab dokter, pilot, astronot, dan sebagainya. Salah satu yang menarik perhatian adalah Farel yang dengan mantap menjawab cita-citanya ingin menjadi nelayan. Alasannya karena kecintaannya pada kelautan dan perikanan serta untuk meneruskan pekerjaan orang tua. Ade berharap, Farel dapat menjadi pengusaha perikanan sukses yang dapat membuka lapangan kerja untuk para nelayan kelak.

Kegiatan sekolah lapang kali ini merupakan minggu ketiga dan masih terdapat kegiatan selama lima minggu lagi. Setelah kegiatan sekolah lapang ini selesai, rencananya akan diadakan pengabdian kepada masyarakat, sebagai salah satu pilar Tri Dharma Perguruan Tinggi, ke lokasi lain yang terkena bencana tsunami Selat Sunda. Untuk itu tim STP telah melakukan survey ke daerah lainnya, dengan jarak yang lebih jauh, medan yang lebih berat, dan kondisi pasca bencana yang lebih parah, antara lain ke Kecamatan Sumur, Pandeglang. (Humas STP)

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?
  • Terhibur (0.0%)
  • Terinspirasi (0.0%)
  • Senang (0.0%)
  • Tidak Peduli (0.0%)
  • Terganggu (0.0%)
  • Takut (0.0%)
  • Marah (0.0%)
  • Sedih (0.0%)

Comments

comments