Sukses Selenggarakan OOC 2018, Indonesia Terdepan Kawal Isu Kelautan

63
dok.humas KKP

KKPNews, Bali – Indonesia sukses menjadi tuan rumah penyelenggara Our Ocean Conference 2018 yang berlangsung pada 29-30 Oktober 2018 di Nusa Dua, Bali. Berbagai hasil dan komitmen baru dalam rangka melakukan perlindungan laut muncul selama dua hari penyelenggaraan konferensi ini.

Pertama, sejak pertama kali penyelenggaraan OOC pada 2014 hingga 2017 terkumpul 663 komitmen. “Dimana sepertiga atau 206 komitmen telah terselesaikan,” jelas Anastasia Kusumawardani, Tim Pengawal Komitmen OOC 2018. “Hal ini bisa menggambarkan bahwa sepertiga negara-negara di dunia sudah menunjukan kepedulian dalam aksi menyelamatkan laut.”

Pada OOC 2018 , tambah Anastasia, menghasilkan 287 komitmen dengan nilai yang dicapai sekitar 10,7 miliar USD. “Hal yang mengejutkan adalah komitmen yang disampaikan tahun ini tak lagi didominasi oleh pemerintah, namun juga berimbang dengan stakeholder seperti Non-Government Organization, sektor swasta, dan filantropis atau perserorangan”.

Kedua, Indonesia yang menjadi tuan rumah OOC 2018 juga memberi kejutan dengan menyampaikan 23 komitmen. Padahal pada penyelenggaraan OOC 2017 di Malta, Pemerintah Indonesia hanya menyampaikan 10 komitmen saja. “Untuk tahun ini nilai komitmen yang disampaikan Indonesia untuk melakukan aksi perlindungan laut sekitar 500 juta USD,” jelasnya.

Suseno Sukoyono, Staf Ahli Kementerian Kelautan dan Perikanan bidang Kemasyarakatan dan Hubungan Antar Lembaga selaku Ketua Bidang 2 OOC 2018, menyampaikan jika dari penyelenggaraan OOC 2018, ada dua dari enam Area of Action dalam OOC yang paling banyak menjadi fokus utama pembuat komitmen. “Yaitu Marine Pollution dan Marine Protected Areas,” katanya. Hal ini bisa jadi dipicu dari semakin tingginya perhatian negara-negara di dunia terhadap pelestarian laut.

Ketiga, menurut Suseno, pada OOC 2018 ini keikutsertaan stakeholder swasta, baik perusahaan, NGO, maupun filantropis semakin tinggi. “Artinya, upaya perlindungan laut bukan lagi hanya menjadi pekerjaan pemerintah namun juga sudah menjadi perhatian bersama,” katanya.

Sementara Ramon Van Berneveld, International Relation Officer European Union, menyampaikan kepuasannya atas kerja keras Pemerintah Indonesia yang telah sukses menyelenggarakan OOC 2018. Tak hanya berlangsung dengan baik namun juga mampu menghadirkan lebih banyak kegiatan dan mendatangkan jumlah perserta lebih banyak dari tahun-tahun sebelumnya. “Kami tentu sangat mengapresiasi sekali atas kerja keras pemerintah Indonesia,” ujar Ramon.

“Ini semakin membuktikan bahwa Indonesia bisa menjadi negara terdepan dalam hal perlindungan laut dan menjadi Poros Maritim Dunia,” tambah Suseno.

Road to Norwegia

Penyelenggaraan OOC 2018 telah berakhir dan tahun depan akan bergulir ke Norwegia sebagai negara penyelenggara berikutnya. Menteri Luar Negeri Retno Marsudi dalam pidato Handover Ceremony menyampaikan jika OOC 2019 berada di negara penyelenggara yang tepat. “Tiga tahun lalu saya adalah Duta Besar Indonesia untuk Norwegia, jadi saya tahu betul Norwegia memiliki perhatian yang tinggi dalam isu-isu kelautan di dunia karena mereka juga mampu mengelola lautnya dengan baik,” ungkapnya.

Dalam kesempatan tersebut, pemerintah Indonesia menyerahkan secara simbolis ketuanrumahan OOC 2019 kepada Norwegia dengan memberikan replika kapal phinisi dari Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti kepada Menteri Perikanan Norwegia Herald T. Nesvik. “Kapal pinisi merupakan simbol perjalana maritim Indonesia dan juga simbol komitmen kami terhadap isu-isu kelautan,” pungkas Menteri Retno. (DS)

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?
  • Terhibur (0.0%)
  • Terinspirasi (0.0%)
  • Senang (0.0%)
  • Tidak Peduli (0.0%)
  • Terganggu (0.0%)
  • Takut (0.0%)
  • Marah (0.0%)
  • Sedih (0.0%)

Comments

comments