Sistem Percontohan Mina Padi Indonesia Tarik Minat Pemerintah Tiongkok

88
Dok. Humas DJPB

KKPNews, Sukoharjo – Pengembangan mina padi di Indonesia kembali menarik minat negara lain. Setelah 13 negara-negara Asia-Pasifik belajar mina padi di Indonesia pada awal tahun 2019, kali ini negara tirai bambu Tiongkok yang menaruh minat kepada sistem mina padi yang telah memberikan keuntungan ganda bagi petani di Indonesia.

Sebanyak 7 orang delegasi Tiongkok yang berasal dari Freshwater Fisheries Research Center of Chinese (FFRC) melihat langsung kegiatan mina padi di Sukoharjo dan berdiskusi langsung dengan petani minapadi setempat pada 15 – 17 Juli 2019. Mina padi ini merupakan program percontohan dari KKP. Sebelumnya, Indonesia menjadi percontohan di dunia untuk sistem mina padi serta menjadi rujukan FAO untuk wilayah Asia Pasifik.

Direktur Jenderal Perikanan Budidaya KKP, Slamet Soebjakto, dalam keterangannya, Kamis (18/7) menyampaikan apresiasi yang besar kepada delegasi dari FFRC yang telah menaruh perhatian yang besar terhadap mina padi di Indonesia. Slamet menyampaikan bahwa mina padi menjadi salah satu kegiatan prioritas KKP sejak 2016. Hingga 2018, KKP sudah mengembangkan percontohan mina padi di lahan seluas 580 ha yang tersebar di 26 kabupaten di Indonesia. Di 2019, KKP akan mengembangkan lagi di lahan seluas 400 ha yang menyebar di berbagai daerah serta menggandeng Kementerian Pertanian untuk menjadikan minapadi sebagai kegiatan prioritas.

”Mina padi kita jadikan kegitan prioritas karena beberapa keunggulannya, di antaranya mampu menghasilkan padi organik dengan peningkatan hasil panen padi 2-3 ton serta pendapatan tambahan pendapatan dari ikan minimal 1 ton ikan per hektar. Selain tambahan pendapatan hingga 40 persen, keuntungan lainnya adalah pada saat proses produksi padi tidak mengggunakan pestisida, serta minim dalam penggunaan pupuk,” jelas Slamet.

“Kita tentu sangat bangga Indonesia dapat menjadi lokasi studi banding oleh negara Tiongkok yang terkenal maju di bidang akuakultur serta menjadi produsen akuakultur nomor satu di dunia,” lanjut Slamet

Menurutnya, komitmen Indonesia untuk menjadikan mina padi sebagai program prioritas turut mendukung program ketahanan pangan nasional, bahkan diperhitungkan dalam memberikan kontribusi pemenuhan kebutuhan pangan global.

Slamet menerangkan, saat ini mina padi tidak hanya diandalkan untuk mencukupi kebutuhan ikan nasional atau ketahanan pangan, namun telah berkembang dan dimanfaatkan sebagai lokasi agrowisata yaitu pariwisata berbasis penggunaan lahan pertanian atau perikanan untuk menjadi daya tarik bagi wisatawan.

“Agrowisata min apadi telah berkembang di beberapa daerah seperti di Desa Jatiluwih, Kecamatan Penebel, Tabanan Bali; Desa Cikarutug, Kecamatan Cireunghas, Sukabumi, Jawa Barat; dan Kecamatan Sayegan, Kabupaten Sleman, Jogyakarta. Daerah-daerah itu dapat menjadi contoh bagaimana pengelolaan kawasan minapadi dapat menggerakan sektor lain seperti wisata dan edukasi,” pungkas Slamet.

Sementara itu Prof. Zhu Jian, pimpinan delegasi dari FFRC yang datang berkunjung ke lokasi mina padi di Sukoharjo, Jawa Tengah, mengungkapkan adanya pendapatan tambahan yang diperoleh dari budidaya sistem mina padi membuat pemerintah Tiongkok melalui Ministry of Agriculture and Rural Development menggencarkan konsep ini untuk mendukung program ruralisasi yang tengah dilakukan pemerintahnya. Pemerintah Tiongkok terangnya, berharap agar penduduk atau pemuda desa yang dulunya ramai-ramai bekerja ke kota dapat kembali lagi ke desa dan menggeluti usaha min apadi ini.

Zhu menambahkan pentingnya penyediaan protein ikan di Tiongkok. “Sepertiga kebutuhan total protein di Tiongkok dipenuhi dari ikan, di mana dua per tiga penyediaan ikan tersebut berasal dari akuakultur, sehingga program mina padi menjadi sangat penting untuk dapat mendongkrak produksi ikan,” ujarnya.

Sebagaimana diketahui, rata-rata pendapatan masyarakat pembudidaya ikan secara nasional meningkat dari Rp3,29 juta per bulan pada tahun 2017 menjadi Rp3,38 juta per bulan di tahun 2018. Peningkatan pendapatan tersebut salah satunya merupakan dampak kegiatan usaha mina padi di berbagai daerah, di samping kegiatan prioritas lainnya seperti budidaya ikan sistem bioflok, program pakan mandiri, penerapan teknologi recirculation aquaculture system (RAS), pengembangan budidaya rumput laut hasil kultur jaringan, restocking benih ikan lokal di perairan umum, serta kegiatan lainnya. (Humas DJPB)

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?
  • Terinspirasi (100.0%)
  • Terhibur (0.0%)
  • Senang (0.0%)
  • Tidak Peduli (0.0%)
  • Terganggu (0.0%)
  • Takut (0.0%)
  • Marah (0.0%)
  • Sedih (0.0%)

Comments

comments