PPS Nizam Zachman Jakarta Siap Dukung Pembangunan National Fish Center

209
kapal perikanan bersandar di dermaga PPS Nizam Zachman Jakarta. (Foto: Lukman)

Muara Baru –  Pelabuhan Perikanan Samudera (PPS) Nizam Zachman siap mendukung pembangunan National Fish Center (NFC) sebagai upaya merevitalisasi kawasan pelabuhan perikanan Muara Baru, Jakarta Utara menjadi pasar ikan modern.

Pembangunan NFC merupakan inisiatif Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) dan Perum Perikanan Indonesia (Perindo) guna membenahi dan melakukan penataan ulang kawasan pelabuhan perikanan. Sesuai dengan namanya, pasar ikan modern ini nantinya akan dirombak menyerupai Tsukiji Fish Market di Jepang atau Sydey Fish Market di Australia.

Kepala PPS Nizam Zachman, Rahmat Irawan menyebutkan pihaknya siap untuk mendukung dan berbenah karena menjadi bagian dari pembangunan NFC ini. Rencananya, pusat perikanan terpadu ini akan dibangun di atas tanah seluas 100 hektar milik KKP dan Perum Perindo.

“Saya harus optimis dalam pembangunan selama 3 tahun ke depan. Saya membayangkan tempat ini akan menjadi semacam etalase atau ikon perikanan di Jakarta, ujarnya saat ditemui di kantornya awal November lalu.

Pembangunan NFC ini merupakan salah satu bentuk keseriusan pemerintah untuk memajukan industri perikanan dalam skala besar. “Coba bayangkan ada whole shale market untuk ikan-ikan ekspor. Dibuat 2 lantai, untuk ikan kebutuhan ekspor sendiri untuk kebutuhan ikan lokal ada sendiri,” jelasnya.

Irawan menambahkan, pembangunan fasilitas pendukung akan mulai dikembangkan mulai tahun 2017. Diantaranya pembangunan tempat pelelangan ikan sebanyak 1 unit, 2 unit ice flake maker 10 ton, 4 unit ice flake maker 1,5 ton, shelter dan kendaraan roda 6 untuk operasional di kawasan NFC.

Sementara itu, Ditjen Penguatan Daya Saing Produk Kelautan dan Perikanan (PDSPKP), seperti dijelaskan oleh Irawan akan membangun pasar bersih menyerupai Tsukiji di Jepang dengan anggaran lebih dari Rp. 160 milyar.

Sedangkan Perum Perindo akan melakukan pembangunan fisik seperti rumah sakit nelayan, rumah singgah nelayan, transit shed modern, Sea Water Reverse Osmosis (SWRO) dengan kapasitas 3000 ton, gedung perkantoran 21 lantai dan food court.

Diharapkan, dengan digagasnya pembangunan pasar ikan modern ini dapat menjadi model percontohan untuk pelabuhan lain. Hal ini akan semakin memantapkan langkah KKP dengan stakeholders terkait untuk menjadikan Indonesia di garis terdepan sektor kelautan dan perikanan serta mewujudkan Indonesia sebagai poros maritim dunia.

“Apalagi sekarang ada KKP memiliki program untuk mengembangkan pelabuhan di daerah perbatasan dan pulau-pulau terluar. Harus terus dikembangkan karena ini merupakan kepedulian dan keberpihakan negara untuk hadir mengawal pembangunan,” tandasnya. (CP)

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?
  • Sedih (50.0%)
  • Terinspirasi (25.0%)
  • Senang (25.0%)
  • Terhibur (0.0%)
  • Terganggu (0.0%)
  • Takut (0.0%)
  • Marah (0.0%)
  • Tidak Peduli (0.0%)

Comments

comments