PM Norwegia Erna Solberg: Negara-Negara HLP Apresiasi Indonesia dalam Memberantas IUUF

25
Perdana Menteri Norwegia Erna Solberg bersama Menteri Kelautan dan Perikanan RI Susi Pudjiastuti memberikan pernyataan kepada awak media di sela rangkaian Sidang Umum PBB ke-74 di Markas Besar PBB, New York, Amerika Serikat, Senin (23/9). Dok. Humas KKP

KKPNews, New York – Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti mendampingi Wakil Presiden Republik Indonesia Jusuf Kalla (JK) pada High Level Panel for a Sustainable Ocean Economy (HLP) yang merupakan rangkaian Sidang Umum PBB ke-74 di Markas Besar PBB, New York, Amerika Serikat, Senin (23/9).

Di sela-sela kegiatan, Perdana Menteri Norwegia Erna Solberg menyampaikan pernyataan kepada beberapa media nasional Indonesia yang didampingi Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti. Erna yang memprakarsai pembentukan HLP menyampaikan apresiasinya kepada Indonesia yang telah berkontribusi terhadap pembangunan ekonomi laut berkelanjutan pada periode pemerintahan Joko Widodo. Salah satunya dalam memberantas IUU Fishing.

“Menurut kami, Indonesia adalah contoh negara yang berhasil memberantas illegal fishing dalam beberapa tahun terakhir. Keberhasilan itu dikarenakan pemerintah menaruh perhatian khusus dan menerapkan aturan yang keras terhadap pelaku kejahatan perikanan yang terorganisir (transnational organized crime),” tuturnya.

Ia mengatakan, praktik IUU Fishing membuat nelayan lokal sulit untuk mendapatkan ikan. Selain itu, harga jual yang didapat oleh para nelayan pun menjadi rendah. Untuk itu, Erna sepakat bahwa praktik IUU Fishing harus diberantas untuk menjaga keberlanjutan sumber daya laut. Ia pun mengapresiasi kebijakan perikanan Indonesia yang menaruh perhatian pada keberlanjutan demi kesejahteraan masyarakat dalam jangka panjang.

“Saya rasa, masyarakat Indonesia harus senang dengan kebijakan perikanan yang telah dibuat pemerintahannya saat ini. Itu adalah kebijakan jangka panjang yang sangat baik untuk seluruh masyarakat yang bekerja dan mendapatkan penghidupan dari laut,” ujar Erna.

Selama beberapa tahun terakhir, Norwegia menjalin kerja sama dengan Indonesia di sektor penyelamatan hutan dan sektor pemberantasan IUU Fishing. Langkah ini telah berkontribusi untuk menjaga keberlanjutan sumber daya laut. Oleh karena itu, Erna merasakan pentingnya keterlibatan Indonesia untuk bergabung dalam HLP.

“Norwegia memiliki kerja sama yang baik dengan Indonesia. Saya juga pernah mengunjungi Presiden RI di kantornya. Salah satu isu paling penting yang kami bicarakan ialah tentang laut dan penyelamatan hutan. Terkait isu laut, kita ingin Indonesia ikut serta dalam HLP karena kerja sama yang sudah kita jalin selama ini, terutama dalam memberantas IUU Fishing,” tutur Erna.

Selama ini, Norwegia memberikan dukungan teknologi dan capacity building untuk memberantas IUU Fishing. Selain itu, Indonesia dan Norwegia saling bertukar informasi untuk memberantas kejahatan perikanan lintas batas yang terorganisir.

“Keberhasilan menangkap beberapa kapal buronan internasional oleh pemerintah Indonesia, salah satunya adalah buah dari kerja sama itu,” tambah Menteri Susi.

Menindaklanjuti kerjasama yang baik dalam upaya memberantas IUU Fishing, Norwegia mengajak Indonesia untuk bekerjasama dalam mengatasi permasalahan laut seperti sampah plastik yang mengotori laut dunia saat ini bersama dengan 14 negara yang tergabung dalam HLP.

“Indonesia adalah negara dengan wilayah laut yang sangat besar. Keindahan pulau-pulau dan lautnya luar biasa. Sayangnya, kita melihat permasalahan sampah plastik dan lainnya. Apabila berlibur ke Indonesia, kita tidak ingin melihat laut yang penuh dengan sampah plastik. Kita juga tidak ingin memakan ikan yang mengandung plastik,” ujar Erna.

Ia menambahkan, Norwegia memiliki kesamaan dengan Indonesia sebagai negara berbasis laut dengan komposisi masyarakat yang banyak mendapatkan penghidupan dari laut. Untuk itu, ia mengajak Indonesia untuk memanfaatkan laut secara berkelanjutan.

“Mari kita pastikan bahwa kita sebagai masyarakat dunia tidak menghabiskan sumber daya ikan yang ada, tidak mencemari laut, dan mengelola laut secara berkelanjutan yang menjadi sumber penghidupan masyarakat,” pungkas Erna. (ERB)

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?
  • Terhibur (0.0%)
  • Terinspirasi (0.0%)
  • Senang (0.0%)
  • Tidak Peduli (0.0%)
  • Terganggu (0.0%)
  • Takut (0.0%)
  • Marah (0.0%)
  • Sedih (0.0%)

Comments

comments