Perikanan Budi Daya Bebas Residu

326
google.com

Residu merupakan dampak dari penggunaan Obat Ikan dan Bahan Kimia (OIK) dalam proses pembudidayaan

Sinar Harapan, JAKARTA – Ditjen Perikanan Budi Daya Kementerian Kelautan dan Perikanan mengungkapkan bahwa produk perikanan budi daya Indonesia terbukti telah bebas dari residu obat ikan dan bahan kimia.

Menurut Dirjen Perikanan Budi Daya Slamet Soebjakto, Kamis (15/10), hasil pengujian sampel terhadap produk perikanan budi daya yang akan diekspor pada triwulan III 2015 ditemukan non compliant sebesar nol persen.

Padahal, lanjutnya, hasil pengujian sampel pada 2010 masih ditemukan non compliant 1,78 persen, 2012 sebanyak 1,02 persen dan 2014 sebanyak 0,34 persen.

“Pada tahun ini tidak ada sampel yang ditemukan atau seluruh produk hasil budi daya zero antibiotik maupun residu. Artinya produk perikanan budi daya kita sudah bebas residu,” katanya saat “Launching” atau pengenalan perdana Penerapan Sistem Monitoring Residu Nasional.

Menurut dia, residu merupakan dampak dari penggunaan Obat Ikan dan Bahan Kimia (OIK) dalam proses pembudidayaan ikan serta dampak dari adanya kontaminasi lingkungan budi daya.

“Untuk dapat menghasilkan produk perikanan budi daya yang berkualitas dan aman dikonsumsi, tanpa mengandung residu antibiotik dan bahan kimia yang dilarang maka perlu diterapkan sistem monitoring residu nasional,” ujarnya. Slamet menyatakan pihaknya telah melakukan pengendalian residu dan sekaligus melakukan monitoring penggunaan residu pada usaha budi daya.

Setelah ditemukannya residu pada komoditas ekspor bandeng tahun 2006, tambahnya, pemerintah berupaya untuk melakukan perbaikan dalam menerapkan “National Residue Monitoring Plan” (NRMP) terhadap semua komoditas perikanan budi daya. “Hasilnya sejak 2013, Indonesia telah dimasukkan oleh Direktorat Jenderal Konsumen dan Kesehatan, European Commission melalui Commission Decision 2011/163/EU,ke dalam daftar negara-negara yang diperbolehkan mengekspor produk perikanan budi daya ke Uni Eropa”, ucapnya.

Kondisi tersebut, tambahnya, juga membuktikan bahwa NRMP perikanan budi daya Indonesia telah dinilai setara dengan standard Uni Eropa sebagaimana dinyatakan oleh Director of Food and Veterinary, European Commission melalui suratnya No Ref. Ares(2013)2797352, Tanggal 31/07/2013.

Selain itu, dengan tidak adanya notifikasi dari negara Uni Eropa berupa Rapid Alert System for Food and Feed (RASFF) terhadap produk perikanan budi daya yang diekspor Indonesia ke negara tersebut sejak akhir 2009, membuktikan bahwa produk perikanan budi daya Indonesia telah bebas dari residu. Namun demikian, Dirjen mengingatkan bahwa seiring peningkatan target produksi perikanan budidaya dari 17,9 juta ton pada 2015 dan 31,32 juta ton pada 2019 maka sampel pengujian residu juga akan bertambah banyak dimana setiap 100 ton diambil 1 sampel.

sumber: Antara/sinar harapan

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?
  • Terhibur (0.0%)
  • Terinspirasi (0.0%)
  • Senang (0.0%)
  • Tidak Peduli (0.0%)
  • Terganggu (0.0%)
  • Takut (0.0%)
  • Marah (0.0%)
  • Sedih (0.0%)

Comments

comments