Peran Aktif Nelayan Jaga Kelestarian Spesies Terancam Punah di Kalbar

235

KKPNews, Pontianak –  Para nelayan dan pelaku usaha perikanan tangkap harus berperan aktif dalam menjaga kelestarian jenis ikan, khususnya jenis ikan terancam punah (endangered), salah satunya jenis hiu dan pari yang dilindungi. Hal ini dijelaskan dalam paparan Kepala Balai Pengelolaan Sumberdaya Pesisir dan Laut (BPSPL) Pontianak Getreda Melsina Hehanussa saat mensosialisasikan jenis Hiu dan Pari yang dilindungi di Pos PSDKP Sungai Kakap, Kabupaten Kubu Raya, Kalimantan Barat (Kalbar), Senin (25/4).

Suasana sosialisasi jenis hiu dan pari dilindungi di Sungai Kakap, Kalbar.
Suasana sosialisasi jenis hiu dan pari dilindungi di Sungai Kakap, Kalbar.

“Peran aktif nelayan dalam hal ini adalah dengan tidak menangkap jenis hiu dan pari yang dilindungi  tersebut, ataupun melepaskan hiu dan pari dilindungi yang tidak sengaja tertangkap (bycatch) yang masih hidup serta melaporkan ke enumerator BPSPL Pontianak yang ditempatkan di Sungai Kakap untuk didata” ujar Getreda.

Selain itu, Ia juga menjelaskan terkait lalu lintas perdagangan sirip Hiu dan Pari. Dimana, setiap kegiatan perdagangan jenis hiu dan pari harus melewati proses pemeriksaan dan mendapat rekomendasi dari BPSPL Pontianak. Hal ini dilakukan untuk mencegah perdagangan kedua spesies yang dilindungi tersebut.

Dalam kesempatan tersebut, dihadiri lebih kurang 30 peserta yang terdiri atas nelayan, pelaku usaha perikanan, dan instansi terkait. Sementara itu, Kepala Seksi Pendayagunaan dan Pelestarian BPSPL Pontianak Sy Iwan T Alkadrie menjelaskan aturan – aturan mengenai perlindungan hiu dan pari di Indonesia.

Ada terdapat 6 jenis hiu dilindungi yang sesuai dengan aturan mengenai perlindungan hiu dan pari di Indonesia, yaitu : (1) Hiu Paus dilindungi secara penuh berdasarkan Keputusan Menteri Kelautan dan Perikanan No. 18 Tahun 2013; (2) Pari Gergaji dilindungi secara penuh berdasarkan Peraturan Pemerintah No. 7 Tahun 1999 ; (3) Pari Manta dilindungi secara penuh berdasarkan Keputusan Menteri Kelautan dan Perikanan No. 4 Tahun 2014; (4) Hiu Koboy dan (5) Hiu Martil dilindungi secara terbatas (dilarang ekspor) berdasarkan Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan No. 34 Tahun 2015; serta (6) Hiu Tikus dilindungi/dilarang tangkap berdasarkan regulasi RFMO – IOTC (Indian Ocean Tuna Comission).

“Adanya aturan jenis hiu dan pari  yang dilindungi tersebut bertujuan untuk tetap menjaga dan menjamin keberadaan hiu dan pari yang mengalami penurunan populasi di perairan Indonesia karena dari 116 jumlah spesie hiu yang ada di Indonesia terdapat 6 jenis hiu dan pari yang dilindubngi, ” ungkap Sy Iwan T Alkadrie.

Para nelayan yang hadir dalam sosialisasi ini mengungkapkan terima kasih kepada BPSPL Pontianak yang telah memberikan informasi terkait jenis-jenis hiu dan pari yang dilindungi. Setelah mendapat informasi tersebut mereka berkomitmen untuk ikut serta menjaga kelestarian hiu dan pari yang dilindungi dengan tidak menangkap dan melaporkan ke enumerator BPSPL Pontianak jika tidak sengaja.

(hmsprl/FA)

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?
  • Senang (77.8%)
  • Terinspirasi (22.2%)
  • Terhibur (0.0%)
  • Tidak Peduli (0.0%)
  • Terganggu (0.0%)
  • Takut (0.0%)
  • Marah (0.0%)
  • Sedih (0.0%)

Comments

comments