Pemijahan Ikan Uceng Secara Buatan Berhasil Dilakukan

2707
Ikan uceng (pusluh.kkp.go.id)

KKPNews, Temanggung – Balai Penelitian dan Pengembangan Budi Daya Ikan Air Tawar Bogor, Jawa Barat, bekerja sama dengan Dinas Peternakan dan Perikanan Kabupaten Temanggung, Jawa Tengah, berhasil memijahkan ikan uceng secara buatan.

Penanggung jawab kegiatan domestikasi ikan uceng di luar habitat aslinya dari Balai Penelitian dan Pengembangan Budidaya Ikan Air Tawar Bogor, Anang Hari Kristanto, menuturkan pihaknya kerja sama dengan Dinas Peternakan dan Perikanan Kabupaten Temanggung sejak 2015 untuk penelitian ikan uceng.

Ia mengatakan, ikan uceng diambil dari alam, yakni di Sungai Progo Temanggung kemudian ditaruh dalam akuarium dengan sistem reserkulasi. Tujuan dari penelitian ini ke depan, jika ikan uceng ini telah memenuhi populasinya bisa membantu Dinas Peternakan dan Perikanan setempat dalam memproduksi atau meningkatkan pengembangbiakannya.

Sementara itu, peneliti dari Balai Penelitian dan Pengembangan Budi Daya Ikan Air Tawar Bogor, Jojo Subagja mengatakan, selama ini pemijahan ikan famili Nemacheilidae secara buatan belum ada yang berhasil.

“Berdasarkan informasi yang kami peroleh pemijahan ikan famili Nemacheilidae secara buatan belum ada yang berhasil,” kata peneliti dari Balai Penelitian dan Pengembangan Budi Daya Ikan Air Tawar Bogor, Jojo Subagja, di Temanggung, Sabtu (9/4).

Kemungkinan baru pertama kali ikan kelompok tersebut bisa dilakukan pemijahan atau perbuatan melepaskan telur dan sperma untuk pembuahan secara buatan di Temanggung. Penelitian ikan uceng dimulai dari penangkapan dari alam kemudian diadaptasikan secara eksitu atau di luar habitat aslinya, yaitu di akuarium dengan memodifikasi lingkungan seperti alamnya.

Setelah proses sekitar dua bulan, uceng bisa merespon terhadap pakan buatan dan dalam perkembangan selanjutnya ternyata ada yang matang gonad, kemudian dicoba reproduksi secara buatan.

“Induk-induk uceng kami coba suntik hormon untuk mempercepat proses ovulasi atau pengeluaran telur. Setelah disuntik kami bedakan mana yang dibuat secara alamiah, semi alamiah, dan ada yang pembuahan buatan atau artifisial,” lanjut Jojo.

Menurut dia, dari proses tersebut ada induk yang sudah memijah secara alami, yang sebelumnya juga disuntik hormon.

“Dalam waktu sekitar tujuh hingga delapan jam sudah mengeluarkan telur. Kemudian yang belum mijah secara alami kami lakukan artifisial, induk betina dilakukan pengurutan kemudian jantan juga diambil spermanya dan dilakukan pembuahan secara buatan,” katanya.

Ia mengatakan kemudian hasil telurnya ditetaskan di dalam wadah yang sudah disiapkan. Tahap selanjutnya kalau sudah menetas dilihat perkembangan yang ada ternyata daya tetas atau daya pembuahannya sangat bagus dan embrionya sudah berkembang.

Setelah menetas, menurut dia, tahap selanjutnya adalah pemeliharaan larva, kalau dilihat secara umum bahwa larva ikan ini mempunyai sifat agak melayang di dalam air.

“Setelah menetas larva dikasih pakan buatan, mungkin di awalnya bisa plangton dulu, karena ukurannya sangat kecil, kemudian dilakukan pembesaran. Pengembangan ini baru skala penelitian, ke depannya akan dilakukan pengembangan secara massal,” ujarnya.

Ia menuturkan, berdasarkan penghitungan sementara, satu induk betina uceng bisa menghasilkan sekitar 700an butir telur.  (MD)

Sumber: antaranews

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?
  • Terinspirasi (81.0%)
  • Senang (14.3%)
  • Tidak Peduli (2.4%)
  • Takut (2.4%)
  • Terhibur (0.0%)
  • Terganggu (0.0%)
  • Marah (0.0%)
  • Sedih (0.0%)

Comments

comments