Paus Terdampar di Serangan Ditangani KKP

22
Dok. Humas DJPRL

KKPNews, Denpasar РKementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) melalui  Balai Pengelolaan Sumber daya Pesisir dan Laut (BPSPL) Denpasar  melakukan penanganan paus yang terdampar di Serangan, Denpasar (2/9).

Penanganan tersebut menindaklanjuti  laporan paus terdampar kode satu dari Made Sukanta, Turtle Conservation and Education Center (TCEC) Serangan via aplikasi pesan instan pada pukul 10.34 WITA. Sebelumnya, Made Sukanta menerima informasi tersebut dari pihak sekuriti Bali Turtle Island Development (BTID) pada pukul 10.15 WITA. Pada saat yang bersamaan, BPSPL Denpasar juga menerima laporan mengenai kejadian tersebut dari Wayan Loka, seorang anggota pokmaswas di Serangan melalui panggilan telepon ke nomor respon cepat Balai Pengelolaan Sumber daya Pesisir dan Laut (BPSPL) Denpasar. Meresponi laporan itu, tim respon cepat BPSPL Denpasar segera menuju ke lokasi kejadian.

Setibanya di lokasi, tim yang terdiri dari Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Bali, Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Kota Denpasar, Polair, WWF-ID, TCEC Serangan, Bali Bersih, dan Indonesia Aquatic Megafauna (I AM) Flying Vet melakukan pertolongan pertama. Tim berusaha untuk menghalau paus kembali ke laut lepas. Paus sempat berenang ke tengah tetapi berenang kembali ke tepi dalam kondisi lemas.

Tim akhirnya memutuskan untuk melakukan perawatan dan mengevakuasi paus ke Bali Exotic Marine Park dikarenakan tempat tersebut memiliki sarana perawatan yang memadai. Kendati demikian, paus mengalami kematian dalam perjalanan. Selanjutnya, tim melakukan identifikasi, pengukuran morfologis, dan nekropsi untuk mengetahui penyebab kematian paus tersebut. Nekropsi dilakukan oleh tim dokter hewan gabungan I AM Flying Vet dan Wersut Seguni Indonesia (WSI).

Hasil identifikasi menunjukkan bahwa paus tersebut berjenis kelamin jantan dengan jenis spesies Kogia sima atau biasa disebut sebagai paus sperma kerdil. Dari hasil pengukuran morfologi, diperoleh data panjang total (237 cm), lingkar badan bagian depan (120 cm), lingkar badan bagian tengah (140 cm), dan lingkar badan bagian belakang (94 cm).

Sementara itu, diagnosa awal dari hasil nekropsi menduga bahwa paus tersebut mengalami infeksi parasit kronis (gangguan pencernaan parah). Selain itu, di bagian organ lambung ditemukan banyak cacing, feces bercampur darah, dan air empedu yang masuk ke dalam usus.

Untuk mengetahui secara detil penyebab kematian paus, dilakukan pengambilan sampel organ (otak, hati, paru-paru, lambung, usus, jantung, organ reproduksi, otot dan kulit). Sampel tersebut rencananya akan diuji di Balai Besar Veteriner Denpasar.

Setelah dilakukan nekropsi, bangkai paus dikubur di area belakang Bali Exotic Marine Park. Sebagai bukti telah dilakukan penanganan atas jenis ikan yang dilindungi, tim membuat Berita Acara Pemeriksaan (BAP) yang ditandatangani perwakilan BKSDA, WWF Indonesia, I AM Flying Vet, TCEC, WSI, BEMP dan BPSPL Denpasar. (Humas DJPRL)

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?
  • Terhibur (0.0%)
  • Terinspirasi (0.0%)
  • Senang (0.0%)
  • Tidak Peduli (0.0%)
  • Terganggu (0.0%)
  • Takut (0.0%)
  • Marah (0.0%)
  • Sedih (0.0%)

Comments

comments