Pakai Bom Ikan, Nelayan Lokal Terancam 5 Tahun Penjara

870
ilustrasi -- google.com

Tempo Interaktif, Jamaluddin, 37 tahun, nelayan lokal, terancam pidana penjara lima tahun. Gara-garanya, dia menggunakan bom ikan saat menangkap ikan di perairan Taka Pulau Badi, Pangkep, Sulawesi Selatan.

Penyidik Direktorat Kepolisian Perairan Polda Sulawesi Selatan dan Barat menjerat Jamaluddin dengan Pasal 85 Undang-Undang Nomor 45 Tahun 2009 tentang perubahan Undang-Undang Nomor 31 Tahun 2004 tentang Perikanan. Diancam dengan pidana penjara lima tahun dan denda maksimal Rp 2 miliar, ujar Kepala Subdit Penegakan Hukum Polair Polda Sulawesi Selatan dan Barat, Ajun Komisaris Besar Aidin Makadomo, kepada Tempo, Jumat, 2 Oktober 2015.

Aidin mengatakan, penggunaan bom ikan menimbulkan kerusakan lingkungan, khususnya ekosistem dan biota laut. Kepolisian juga berencana menerapkan Undang-Undang Darurat tentang Bahan Peledak.

Tim polair menangkap Jamaluddin saat melakukan patroli di perairan Selat Makassar pada Rabu, 30 September lalu. Di perairan Taka Pulau Badi, Polair mendapati Jamaluddin di atas kapal tanpa nama saat ingin melakukan aktivitas pengeboman ikan. Bersama tersangka, pihaknya menyita sejumlah barang bukti. Di antaranya 1 unit kompresor, 1 unit mesin dompeng merek Honda, 4 botol amonium nitrat, 1 regulator dan 1 rol selang. Pelaku dan barang bukti diamankan di Markas Polair, ucap dia.

Aidin mengatakan dalam setahun terakhir, Polair setidaknya menangkap delapan kapal maupun perahu yang diduga melakukan illegal fishing. Metodenya amat beragam, mulai dari pengeboman ikan sampai penggunaan alat tangkap yang dilarang, seperti cantrang dan pukat harimau.

Berdasarkan data Koorps Bhayangkara, ada 5 kapal yang tertangkap memakai cantrang. Di antaranya, KMN Sumber Harapan 01 yang dinakhodai Kashiran (42), KMN Sunggumanai yang dinakhodai Ancu Dg Muntu (45), KMN Permata Biru yang dinakhodai Samang Dg Tutu (42), KMN Minasa Bone yang dinakhodai Rahman Dg Nangka (42) dan KMN Nusa Indah 02 yang dinakhodai Tawang Dg Bonto (37).

Sisanya, 3 kapal lain yang ditangkap menggunakan alat peledak untuk menangkap ikan. Selain perahu tanpa nama milik Jamaluddin, 2 kapal lain yang melakukan praktek serupa yakni KMN Diana Indah yang dinakhodai Amir bin H Bara (50) dan sebuah perahu kecil jenis jolloro tanpa nama yang dibawa Nawir (41). Dari 8 kapal itu, didapati sedikitnya 155 kilogram ikan campuran, 5 jaring jenis cantrang, 3 unit kompressor, 6 rol selang, 121 pengaman sumbu api dan 5 regulator.

Kepala Kepolisian Resor Pangkep, Ajun Komisaris Besar Mohammad Hidayat, mengatakan bahwa bersama tim polair Polda, pihaknya terus berpatroli memberantas aktivitas illegal fishing di Pangkep. Beberapa bulan terakhir menurun. Itu berdampak baik pada ekosistem dan biota laut, ujar dia.

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?
  • Terhibur (0.0%)
  • Terinspirasi (0.0%)
  • Senang (0.0%)
  • Tidak Peduli (0.0%)
  • Terganggu (0.0%)
  • Takut (0.0%)
  • Marah (0.0%)
  • Sedih (0.0%)

Comments

comments