Nelayan Masih Boleh Gunakan Pukat

361
ilustrasi -- google.com

SAMPANG – Dinas Kelautan, Perikanan dan Peternakan (DKPP) Kabupaten Sampang menyatakan, Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) pimpinan Menteri Susi Pudjiastuti kembali menunda pemberlakukan Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan (Permen KP) Nomor 1 dan 2 Tahun 2015 tentang Larangan Penggunaan Jaring Pukat Harimau.

“Penundaan dilakukan karena umumnya nelayan belum bisa mengganti jaring untuk menyesuaikan ketentuan yang telah ada, terutama karena terkendala biaya,” sebagaimana ungkapan Kepala Bidang (Kabid) Kelautan DKPP Sampang Mahfud, Rabu (4/11).

Di bagian lain Mahfud mengaku, pihaknya belum sempat melakukan sosialisasi kepada masyarakat berkaiatan dengan penundaan permen KP tersebut. Alasannya,  sampai hari ini pihaknya belum menerima surat edaran secara resmi. Informasi yang diterima hanya dari pemberitaan media massa.

“Dengan demikian, masih ada peluang bagi para nelayan untuk mengganti jaring terlarang yang mereka gunakan sesuai dengan ketentuan perundang-undangan itu,”terangnya.

Sementara itu, Ketua Paguyuban Nelayan Pesisir Camplong, Sampang, Mohammad Suhairi mengatakan, pemerintah perlu untuk melakukan sosialisasi secepat mungkin terkait adanya penundaan pembelakukan Permen KP tersebut. Sebab, selama ini banyak nelayan yang merasa resah pasca penerbitan Permen itu.

“Kalau memang ada penundaan Permen KP, kami berharap agar segera disosialisasikan kepada nelayan,” katanya.

Suhairi berharap, pemerintah juga bisa memfasilitasi para nelayan agar memberikan bantuan alat tangkap yang ramah lingkungan. Sebab, untuk membeli alat tangkap baru, nelayan masih merasa terbebani dengan biaya yang terlalu tinggi.

“Kalau alat tangkap nelayan ternyata dilarang oleh Pemerintah, ya Pemerintah juga harus memberi solusi. Atau setidaknya Pemerintah mengganti dengan alat tangkap yang diperbolehkan,” harapnya. (sam/yoe)

Sumber: Koran Kabar

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?
  • Terhibur (0.0%)
  • Terinspirasi (0.0%)
  • Senang (0.0%)
  • Tidak Peduli (0.0%)
  • Terganggu (0.0%)
  • Takut (0.0%)
  • Marah (0.0%)
  • Sedih (0.0%)

Comments

comments