Menteri Susi Jamin Keselamatan ABK China

426

KKPNews, Jakarta – Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti menjamin keselamatan delapan Anak Buah Kapal (ABK) Kway Fey 10078 yang ditahan pemerintah karena menangkap ikan secara ilegal (illegal fishing) di perairan Indonesia.

“Kami akan memperlakukan mereka dengan baik, tapi investigasi akan tetap berjalan”, jelas Menteri Susi dalam konferensi pers di kantornya, Senin (21/3).

Kedelapan ABK tersebut, lanjut Susi, akan menjalani proses sesuai dengan undang-undang yang berlaku di Indonesia. Pemerintah juga akan mengikuti peraturan internasional karena para awak kapal tersebut merupakan tahanan internasional. “Kami akan kembalikan ketika semua sudah selesai”, ujarnya.

Sebelumnya, kedutaan Cina di Jakarta dalam pernyataan resmi meminta Indonesia membebaskan delapan awak kapal Kway Fey. Mereka beralasan bahwa mereka menangkap ikan di perairan Indonesia. “Pihak Tiongkok langsung mendesak pihak Indonesia agar membebaskan ABK dan menjami keamanan mereka”, seperti yang dikutip dalam rilis tersebut.

Kasus penangkapan kapal ilegal Cina ini bukan yang pertama. Tiga tahun lalu, 26 Maret 2013, Kapal Pengawas Hiu Macam menghentikan kapal ikan asing berbendera Cina bernomor lambung 58081 di Perairan Natuna. “Ini tidak boleh terulang lagi”, tegas Susi.

Pada akhir 2014, aparat keamanan menangkap kapal asal Cina, MV Hai Fa, berbendera Panama di Pelabuhan Umum Wanam, Kabupaten Merauke, Papua. Saat itu Menteri Susi mengungkapkan keinginannya untuk menenggelamkan kapal tersebut karena terindikasi melakukan praktek illegal fishing.

Namun rencana menenggelamkan kapal besar penangkap ikan itu batal. Pengadilan Negeri Ambon memutuskan MV Hai Fa harus dikembalikan kepada pemiliknya dan denda Rp 200 juta subsider enam bulan kurungan kepada nahkoda pada pertengahan tahun lalu. (MD)

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?
  • Senang (50.0%)
  • Sedih (25.0%)
  • Marah (25.0%)
  • Terinspirasi (0.0%)
  • Terhibur (0.0%)
  • Terganggu (0.0%)
  • Takut (0.0%)
  • Tidak Peduli (0.0%)

Comments

comments