Menteri Edhy Panen 50 Ribu Benih Nila di Balai PBIAT Ngrajek Magelang

37
Dok. Humas KKP

KKPNews, Magelang – Menteri Kelautan dan Perikanan Edhy Prabowo menyatakan KKP akan melakukan dua langkah untuk mengatasi tingginya harga pakan ikan yang banyak dikeluhkan oleh para pembudidaya. Hal ini disampaikan Menteri Edhy saat melakukan panen 50 ribu ekor benih ikan nila merah di Balai Perbenihan dan Budidaya Ikan Air Tawar (PBIAT) Ngrajek, Kecamatan Mungkid, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah pada Jumat (6/12).

Turut mendampingi dalam kesempatan ini Direktur Jenderal Perikanan Budidaya Slamet Soebjakto, Direktur Jenderal Peningkatan Daya Saing Produk Kelautan dan Perikanan (PDSPKP) Agus Suherman, serta Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Jawa Tengah.

Balai PBIAT Ngrajek merupakan salah satu UPT Daerah yang dinaungi oleh Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Jawa Tengah. Ikan lele, nila, patin, tawes, grascarp, dan karper menjadi komoditas benih ikan unggulan yang diproduksi. Sepanjang tahun 2014-2018, Balai PBIAT Ngrajek telah berhasil memproduksi lebih dari 15 juta ekor benih. Sedangkan pada tahun 2019 (Januari-November), produksi benih ikan telah mencapai 1,2 juta ekor. Panen 50 ribu ekor benih yang dilakukan pada Jumat (6/12) ini dibeli langsung oleh 3 UPR setempat yakni UPR Lestari, UPR Mina Sentosa, dan UPR Ngudi Makmur.

Selain melakukan penyediaan benih dan calon induk ikan unggul, Balai PBIAT Ngrajek juga melaksanakan pencegahan dan penanggulangan hama, serta penyakit ikan. Selain itu, penebaran benih ikan di perairan umum juga menjadi tugas dari balai ini. Tak ketinggalan, pembinaan teknis dan pelaksanaan perbenihan dan budidaya ikan yang baik serta ramah lingkungan kepada masyarakat, khususnya pembudidaya dan UPR juga menjadi tugas pokok dari balai ini.

Guna mengatasi tingginya harga pakan ikan, Menteri Edhy menyatakan bahwa sebagai langkah pertama, Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) akan memberikan bantuan mesin pembuat pakan ikan modern kepada Balai PBIAT Ngrajek. Hadirnya mesin, yang disertai dengan pelatihan, diharapkan dapat memberikan pelajaran kepada masyarakat setempat tentang tata cara membuat pakan ikan yang berkualitas baik.

“Di samping itu, kita juga akan bantu setiap kelompok-kelompok pembudidaya ikan melalui pakan ikan mandiri untuk mengatasi permasalahan pakan ikan yang mahal,” tambahnya.

Pakan ikan mandiri merupakan alternatif bagi para pembudidaya perikanan untuk mengurangi ketergantungan pada pakan industri. Selama beberapa tahun terakhir, KKP terus memberikan bantuan pakan ikan mandiri kepada sejumlah pembudidaya. Hal ini akan terus dilakukan  ke depannya untuk mengoptimalkan produksi sektor budidaya yang menjadi salah satu prioritas KKP periode 2019-2024.

Sebagai langkah kedua, Menteri Edhy menyatakan bahwa KKP akan menjalin komunikasi dengan pengusaha pembuat pakan untuk mencari solusi terhadap tingginya harga pakan. Sebab, hal ini berimbas pada mahalnya ongkos produksi para pembudidaya sehingga menurunkan gairah industri beberapa tahun belakangan.

“Lima tahun yang lalu, ongkos produksi mereka dari pakan ikan saja 40 persen, sekarang sudah 70 persen. Nah, ini ada naik 30 persen dalam lima tahun itu masalahnya gimana? Kami mau tahu apakah itu masalahnya di distribusi atau terlalu banyak perantara jadi banyak tengkulaknya? Ini akan kita cari jalan keluarnya,” ungkapnya.

Guna menjaring informasi yang efektif dengan stakeholder kelautan dan perikanan, KKP juga akan kembali menghidupkan komisi-komisi yang pernah terbentuk. “Kami akan hidupkan lagi komisi-komisi yang pernah ada dulu. Komisi tuna dan lain sebagainya untuk menjaring informasi dan masukan-masukan setiap saat,” tuturnya.

Menteri Edhy berharap, dua langkah ini menjadi solusi untuk kembali menggairahkan para pembudidaya perikanan, baik secara kuantitas maupun kualitas. Dengan begitu, industri budidaya pun akan kembali hidup sehingga menciptakan lapangan kerja sekaligus meningkatkan devisa bagi negara.

Hingga saat ini, KKP sendiri telah memproduksi sekitar 7 juta ton bibit ikan per tahunnya. Menteri Edhy mengatakan akan terus berupaya untuk meningkatkan angka ini ke depannya. “Saya belum tahu akan ke angka berapa tapi sekarang kita sudah buat pola modelnya seperti apa untuk perikanan budidaya, baik di air tawar, air payau, maupun air laut,” ucapnya.

Direktur Jenderal Perikanan Budidaya Slamet Soebjakto menambahkan bahwa salah satu masalah utama yang mengemuka di hampir seluruh kabupaten di Jawa Tengah adalah ketersediaan induk unggul, khususnya untuk komoditas ikan air tawar seperti gurame, nila, dan lele. Menjawab tantangan tersebut, KKP terus memacu pemuliaan induk unggul ikan air tawar untuk mendukung ketersediaan benih berkualitas sekaligus ketersediaan induk bagi masyarakat.

“Di samping itu, untuk mewujudkan kualitas benih dan induk yang unggul,  keberadaan Pos Kesehatan Ikan Terpadu (Posikandu) di kawasan budidaya akan menjadi hal yang esensial. KKP  bekerja sama dengan pemerintah daerah akan menghidupkan kembali Posikandu yang belum beroperasional secara maksimal guna menyukseskan keberlanjutan perikanan budidaya,” lanjut Slamet.

Guna menjaring lebih dalam permasalahan yang dihadapi oleh para pelaku usaha setempat, kegiatan dilanjutkan dengan diskusi bersama pelaku usaha budidaya ikan, pengolah, dan pemasar hasil perikanan Jawa Tengah untuk mencari solusi terbaik dalam rangka membangkitkan sektor budidaya perikanan ke depan. (ERB)

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?
  • Terhibur (0.0%)
  • Terinspirasi (0.0%)
  • Senang (0.0%)
  • Tidak Peduli (0.0%)
  • Terganggu (0.0%)
  • Takut (0.0%)
  • Marah (0.0%)
  • Sedih (0.0%)

Comments

comments