Menteri Edhy: Indonesia Berpeluang jadi Industri Mutiara Terbesar Dunia

28
Dok. Humas KKP

KKPNews, Jakarta – Ia menambahkan, sumber mutiara laut selatan ini tersebar di berbagai wilayah Indonesia di antaranya Bali, Nusa Tenggara Barat, Nusa Tengara Timur, Sulawesi Utara, Sulawesi Tenggara, Sulawesi Tengah, Maluku, Maluku Utara, Papua, dan Sumatera Barat.

Selain itu, Ia juga mengatakan gelaran IPF kali ini diikuti oleh 32 booth yang terdiri dari 21 booth pelaku usaha budidaya dan perhiasan, 1 booth Provinsi Sulut, 3 booth sponsor, dan 3 booth penunjang.

“IPF ini diharapkan dapat menarik retailers maupun pengguna dan pecinta mutiara yang datang dari dalam dan luar negeri, dan meningkatkan industri mutiaran Indonesia,” ungkap Agus.

Di sela-sela ajang IPF juga diselenggarakan seminar tentang potensi mutiara dan pariwisata di Sulawesi Utara dengan narasumber Penasehat DWP KKP, Iis Edhy Prabowo dan Kepala Dinas Pariwisata Provinsi Sulawesi Utara, Daniel Mawengkang.

Iis Edhy Prabowo mengatakan, Indonesian South Sea Pearl (ISSP) atau mutiara laut selatan Indonesia berkontribusi 50% dari produksi South Sea Pearl dunia.

“Adalah PR kita bersama bagaimana agar dunia Internasional itu mengetahui bahwa mutiara terbaik itu berasal dari Indonesia, sehingga diharapkan potensi produksi mutiara menjadi penopang ekonomi untuk kesejahteraan masyarakat,” ucapnya.

“Kami sangat mengapresiasi animo para pengusaha, pelaku usaha, dan juga masyarakat yang ingin mengenal mutiara lebih dekat. Event IPF ini adalah salah satu ajang untuk memberikan pengetahuan kepada masyarakat bahwa South Sea Pearl Indonesia adalah aslinya dari Indonesia dan menjadikan mutiara sebagai primadona perhiasan wanita,” imbuhnya.

Sementara itu, Daniel Mawengkang mengungkapkan, saat ini sektor pariwisata Sulawesi Utara tengah berkembang pesat. Hal ini mengharuskan Sulawesi Utara mengikuti arus globalisasi yang menuntut adanya peningkatan baik infrastruktur objek maupun daya tarik termasuk sumber daya manusia sebagai subjek dinamisasi.

“Sebagai sektor yang bersifat multiplier effect, pariwisata diharuskan menjaga sinkronisasi kebijakan nasional serta globalisasi yang semakin kompetitif,” kata Daniel.

“Kegiatan sosialisasi pengembangan potensi destinasi pariwisata ini diharapkan dapat meningkatkan pemahaman dan inovasi untuk mengembangkan destinasi pariwisata, menjadi keunggulan daerah dan sumber devisa bagi negara,” pungkasnya. (AFN)

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?
  • Terhibur (0.0%)
  • Terinspirasi (0.0%)
  • Senang (0.0%)
  • Tidak Peduli (0.0%)
  • Terganggu (0.0%)
  • Takut (0.0%)
  • Marah (0.0%)
  • Sedih (0.0%)

Comments

comments