Mengintip Usaha Pengolahan Ikan Teri di ‘Pulau Ikan Asin’

443
Pulau Pasaran, pulau kecil yang terletak di pesisir Teluk Betung, Bandar Lampung. Dok. Tribun Lampung

KKPNews, Bandar Lampung – Tahukah Anda di Indonesia ada sebuah pulau yang diberi gelar “Pulau Ikan Asin”. Unik bukan? Pulau Ikan Asin ini sebenarnya bernama Pulau Pasaran. Pulau ini adalah pulau kecil yang terletak di pesisir Teluk Betung, Bandar Lampung. Nama Pulau Ikan Asin disematkan karena hampir seluruh penduduk pulau ini menggeluti usaha pembuatan ikan asin. Keahlian ini rupanya telah diwariskan secara turun temurun.

Pulau Pasaran telah menjadi sentra penghasil ikan asin utama di Provinsi Lampung. Anda akan menemui usaha pembuatan ikan asin hampir di seluruh pelosok pulau ini. Dulunya pada era 1960-an, pulau ini hanyalah berupa pulau kecil yang dihuni oleh beberapa keluarga, namun kini pulau ini telah dihuni oleh ratusan kepala keluarga.

Pertumbuhan penduduk ini, mau tak mau membuat masyarakat sekitar melakukan reklamasi untuk perluasan wilayah dengan memanfaatkan terumbu karang yang membatu. Saat ini setidaknya, luas Pulau Pasaran sudah berkembang hingga hampir 12 hektare.

Pulau Pasaran kini dipenuhi rumah-rumah pengrajin ikan asin, sementara lautnya dipenuhi kapal-kapal nelayan dan keramba ikan.

Pulau Ikan Asin terasa sangat hidup dan sibuk di saat tangkapan ikan melimpah. Masyarakat dari berbagai profesi berdatangan bahkan dari luar Pulau Pasaran untuk mengolah, menyortir, mengepak, serta mengirimkan ikan asin ke daerah lain seperti Jakarta dan sebagainya.

Namun, untuk mendapatkan pasokan teri segar, masyarakat Pulau Pasaran tak bisa lagi hanya mengandalkan tangkapan di perairan Pulau Pasaran atau perairan terdekat seperti Lempasing, Panjang, dan Mutun. Mereka bahkan harus melaut cukup jauh hingga ke perairan luar Teluk Lampung seperti Perairan Legundi dan Gunung Anak Krakatau.

Ketika hasil tangkapan sedang tidak baik, sekitar 240 KK penduduk Pulau Pasaran akan beralih profesi sementara ke sektor informal seperti pekerja bangunan, buruh lepas, atau kenek angkutan.

Mempertahankan gelar Pulai Pasaran sebagai Pulau Ikan Asin kini mulai berat seiring semakin menjamurnya sentra produksi ikan asin di berbagai daerah di Indonesia, terutama di Pulau Jawa, Sumatera, dan Sulawesi. Sementara itu, produksi ikan teri segar sebagai bahan baku teri asin juga semakin terpangkas akibat pencemaran laut di Teluk Lampung yang semakin berat.

Sebenarnya, Pulau Pasaran memiliki potensi yang sangat baik untuk dikembangkan sebagai wisata bahari dengan pemandangan alamnya yang eksotis. Terlebih lagi, akses menuju Pulau Pasaran tidaklan sulit. Pulau ini dapat dijangkau dengan menaiki perahu nelayan dari Teluk Betung atau dengan menggunakan sepeda motor maupun berjalan kaki menyusuri jembatan kecil selebar 1,5 meter yang telah dibangun Pemkot Bandar Lampung sebagai penghubung Pulau Pasaran dengan Teluk Betung. Jembatan tersebut memiliki panjang sekitar 500 meter.

Akan tetapi, tampaknya masyarakat sudah terbiasa hidup dengan mengandalkan ikan asin. Oleh karena itu, di kondisi sulit pun mereka tetap mempertahankan eksistensi Pulau Pasaran sebagai Pulau Ikan Asin. Caranya adalah dengan menjaga kualitas dan mutu ikan asin serta mengharamkan penggunaan pengawet kecuali garam.

Sebagai informasi, kualitas ikan asin sangat ditentukan oleh bahan baku dan produksi. Agar tidak rusak atau busuk, ikan asin langsung direbus di tengah laut karena dibutuhkan waktu tempuh yang cukup lama untuk mencapai daratan. Garam yang digunakan pun harus garam dengan mutu yang tepat.

Soleh, salah satu pengrajin ikan asin Pulau Pasaran mengatakan, pengrajin ikan asin Pulau Pasaran sendiri mampu memproduksi ikan asin dalam jumlah 20 – 30 ton per hari.  Namun, pada dua minggu terakhir di Bulan Februari, harga teri Pulau Pasaran turun, sementara volumenya besar. Hal ini tejadi karena membludaknya produksi ikan asin di Pulau Jawa, sementara itu pasar utama teri Pulau Pasaran daerah Jakarta dan sekitarnya.

Oleh karena itu, penjaminan mutu menjadi kunci utama untuk bertahan. Keunggulan teri asin Pulau Pasaran adalah kepala ikan yang tidak patah. Selain itu, produk ini juga mampu bertahan hingga tiga bulan sejak produksi.

Masyarakat Pulau Pasaran juga tetap berusaha mempertahankan citra Pulau Pasaran sebagai Pulau Ikan Asin dengan tetap memproduksi ikan asin meskipun di musim panceklik. Nelayan tetap melaut meskipun hasil tangkapan sedikit dan merugi demi tetap berproduksi.

Mereka menyadari, keahlian mereka dalam mengolah ikan asin menjadi bernilai tambah masih kurang. Hal ini juga terjadi karena keterbatasan teknologi yang dimiliki. Oleh karena itu, bantuan pemerintah dalam hal kemudahan mendapatkan pinjaman perbankan melalui Kredit Usaha Rakyat (KUR) dan bantuan pemasaran produksi ikan secara aktif akan sangat membantu.

Masyarakat Pulau Pasaran telah diwarisi keterampilan turun menurun dalam memproduksi ikan asin. Akan tetapi keterampilan mengemas dalam berbagai bentuk yang jauh lebih menguntungkan daripada menjual ikan asin mentah tak diwariskan oleh pendahulu mereka. Agar peran Pulau Ikan Asin tak makin redup, produksi ikan asin perlu ditopang sektor lainnya, seperti kuliner dan wisata. (AFN)

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?
  • Terhibur (0.0%)
  • Terinspirasi (0.0%)
  • Senang (0.0%)
  • Tidak Peduli (0.0%)
  • Terganggu (0.0%)
  • Takut (0.0%)
  • Marah (0.0%)
  • Sedih (0.0%)

Comments

comments