Marore Dan Kawaluso Curhat Ke BPSPL Makasar, Ditjen Pengelolaan Ruang Dan Laut

146

TRIBUNMANADO.CO.ID, MELONGUANE – Warga yang tinggal di┬ápulau terluar atau di perbatasan antara Filipina dan Indonesia rupanya memiliki banyak pesan dan permintaan kepapa pemerintah.

Jauh di ujung Sulawesi Utara seperti di pulau Marore dan Kawaluso, warga curhat ke Balai Pengelolaan Sumberdaya Pesisir dan Laut (BPSPL) Makasar, Direktorat Jendral Pengelolaan Ruang dan Laut Kementrian Kelautan dan Perikanan.

Kamis, (17/9) saat BPSPL mengadakan Forum Group Discussion puluhan warga yang hadir mengutarakan keinginannya.

Puluhan permintaan untuk memajukan pulau pun terucap dari mulut para warga. Ada yang menginginkan pemerintah lebih memperhatikan keadaan pulau serta melengkapi sarana prasarana yang berada di pulau.

Sekertaris Kecamatan Marore, R Dalentang mengatakan bahwa masih banyak hal yang diinginkan warga dari pemerintah.

“Lalu kita disini dapat bantuan tapi tidak sesuai dengan keinginan warga. Yang diberikan bukan yang kami butuhkan. Kami senang akan adanya FGD ini karena bisa lebih mencari tahu kebutuhan warga sebelum memberi bantuan,” ujarnya.

Dia juga mengatakan, hal tersebut sering menbuat bantuan tak terpakai atau terabaikan karena tidak sesuai dengan kebutuhan warga.

“Intinya pemerintah jangan hanya beralasan untuk membuat Marore sebagai etalase negara tapi kebutuhan mendasar pulaukami belum terpenuhi,” jelasnya.

Para warga Marore juga berkeinginan agar bisa memiliki SPBU sebab sebagian besar penduduk berprofesi sebagai nelayan. Sebab untuk mendapatkan bahan bakar mereka harus ke Tahuna yang harus memakan waktu berjam-jam melintasi laut.

Tak jauh berbeda dengan pulau Marore di pulau Kawaluso juga masih banyak membutuhkan pembenahan. Saat tim BPSPL sampai di pulau Kawaluso dan mengadakan FGD pada Sabtu, (19/9) para warga juga banyak mengeluhkan akan sarana prasarana yang belum berfungsi. Salah satu yang dikelukan adalah desalinasi yang belum difungsikan.

“Itu sudah lama dibuat tapi tidak sempat difungsikan warga pun belum merasakan manfaatnya,” ujar Herry Kaur Desa Kawaluso.

Kris Handoko kepala seksi pendayagunaan dan pelestarian BPSPL Makasar, mengatakan kedatangan BPSPL, untuk mengidentifikasi isu permasalahan yang terkait dengan keberadaan sarana prasarana.

Serta melakukan Identifikasi potensi biofisik, sarana dan prasarana yg ada di pulau.

Dengan harapan bisa meningkatkan kemampuan teknis dan kelembagaan kelompok dalam pengelolaan bantuan sarana dan prasarana di pulau-pulau kecil terluar.

Membangun pemberdayaan kelompok masyarakat dalam mengelola sarana dan prasarana secara efektif dan berkelanjutan. “Kami mengharapkan agar apa yang dibetikan pemerintah dapat dimanfaatkan sebaik mungkin,” ujarnya.

Handoko juga mengatakan, agar nantinya isu yang didapat dilapangan dapar dicarikan solusi. “FGD yang dilakukan juga bermaksud dan bertujuan untuk membentuk pola fikir warga. Serta meruba cara pandang sehingga bisa menunjukan potensi diri,” terangnya.

Sebelumnya BPSPL juga sudah mengadakan kegiatan yang sama di pulau Mantehage Minahasa Utara.

Dari BPSPL juga memberikan satu buah lampu petromax di tiappulau. Warga pun menyambut dengan sukacita serta kagum. Sebab lampu petromax yang diberikan bukan lagi memakai minyak tanah sebagai bahan bakar melainkan air asin. Beberapa warga bahkan sangat keheranan, lampu yang sangat cocok untuk para nelayan itu menjadi hadiah dari BPSPL bagi warga.

Andi Ramlan penanggung jawab satker manado BPSPL Makasar mengatakan, pemberian lampu tersebut merupakan wujud dukungan BPSPL agar nelayan di pesisir bisa lebih mudah saat bekerja. “Lampu tersebut sangat cocok untuk menangkap ikan, bisa juga di lempar ke laut untuk menarik perhatian ikan. Dengan ini kami harapkan sedikit membantu para nelayan,” tungkasnya

Penulis: Valdy Suak
Editor: Rine_Araro
Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?
  • Terhibur (0.0%)
  • Terinspirasi (0.0%)
  • Senang (0.0%)
  • Tidak Peduli (0.0%)
  • Terganggu (0.0%)
  • Takut (0.0%)
  • Marah (0.0%)
  • Sedih (0.0%)

Comments

comments