Kunker ke Banyuwangi, Menteri Susi Makan Ikan Bareng Santri dan Tinjau Sejumlah Titik Lokasi

40
Menteri Kelautan dan Perikanan, Susi Pudjiastuti, berfoto bersama santri di Pondok Pesantren Mabadi'ul Ihsan, Banyuwangi, setelah mengampanyekan GEMARIKAN (Gemar Memasyarakatkan Makan Ikan) dan GEMASTUKATA (Gerakan Masyarakat Sadar Mutu dan Karantina Ikan) pada Kamis (4/4). Dok. Humas KKP / Handika Rizki Rahardwipa

KKPNews, Banyuwangi – Dalam upaya meningkatkan konsumsi ikan di tengah masyarakat, Menteri Kelautan dan Perikanan, Susi Pudjiastuti berkeliling ke sejumlah pondok pesantren (ponpes) di Banyuwangi untuk mengampanyekan program Gemarikan (Gemar Makan Ikan) pada 4-5 April 2019 kemarin.

Ponpes Mabadi’ul Ihsan yang berlokasi di Karangdoro, Kecamatan Tegalsari menjadi lokasi pertama yang dikunjungi oleh Menteri Susi pada Kamis (4/4). Dalam kesempatan itu, Menteri Susi mewakili Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) secara simbolis menyerahkan 3,25 ton ikan segar kepada Ketua Yayasan setempat.

Menariknya, sebagian dari ikan tersebut menjadi santapan bersama Menteri Susi dan para santri di siang itu. Derasnya hujan yang turun tak menyurutkan antusiasme para santri melahap nasi dan ikan yang dibagikan. Menteri Susi pun berpesan agar para santri meningkatkan konsumsi ikan sebagai sumber vitamin yang baik bagi pertumbuhan.

“Saya liat para santri di sini sangat partisipatif, kreatif. Berarti, adek-adek semua sangat sehat. Sehat itu tidak harus minum vitamin. Vitamin itu kita bisa dapat dari makanan dan matahari. Salah satu sumbernya adalah ikan yang kaya akan protein dan omega, tapi matahari juga perlu sebagai pemroses supaya vitamin bisa masuk ke dalam tubuh. Jadi banyak-banyaklah makan ikan, makan sayur, sama kena matahari,” pesannya.

Ia menambahkan, ikan itu juga bukan ikan sembarang, melainkan ikan-ikan segar berkualitas ekspor yang mempunyai nilai tinggi. Hal ini menjadi bagian dari Gerakan Masyarakat Sadar Mutu dan Karantina Ikan (GEMASTUKATA) yang digalakkan KKP. Menurutnya, pengelolaan dan pengolahan ikan perlu diperhatikan oleh masyarakat agar menjaga produk perikanan tetap sehat, bermutu, dan aman untuk dikonsumsi.

Selain ikan segar, KKP juga menyerahkan bantuan berupa 16 lubang bioflok untuk mendorong jiwa entrepreneurship para santri. Bioflok ini diharapkan dapat membantu para santri untuk mengembangkan kemampuannya di bidang budidaya perikanan sekaligus mendukung misi sekolah yang hendak mencetak lulusan yang tak sebatas menjadi pencari kerja, melainkan dapat menjadi pencipta lapangan kerja.

Lebih lanjut, Menteri Susi juga mengingatkan para santri sebagai bagian dari masyarakat Banyuwangi untuk menjaga laut sekitar dari sampah plastik. Ia membagikan pengalamannya di mana ia menemukan begitu banyak sampah plastik di Pantai Bangsring yang dikunjungi sehari sebelumnya. Sampah-sampah tersebut, menurutnya, disebabkan oleh kebiasaan masyarakat di darat yang sering membuang sampah sembarangan di selokan dan sungai.

Nah, sekarang setelah kita selesai dengan pemberantasan illegal fishing, persoalan lain ada lebih banyak lagi di laut. Apa itu? Sampah plastik. Nah sampah plastik di laut itu datang dari mana? Dari darat. Dari bapak-bapak, ibu-ibu, adek-adek, kita semua,” tuturnya.

Ia pun mengajak para santri dan keluarganya untuk mengurangi pemakaian plastik sekali pakai untuk menjaga kebersihan laut sebagai bagian dari iman.

“Kita dikasih alam oleh Tuhan, dijaga. Menjaga alam dan menjaga kebersihan itu kan termasuk ibadah. Termasuk tidak buang sampah sembarangan, itu adalah bagian dari iman kita,” ujarnya.

Rangkaian kampanye Gemarikan yang disosialisasikan langsung oleh Menteri Susi tak berhenti sampai di situ. Keesokan harinya, Jumat (5/4), ia mengunjungi Ponpes Miftahul Ulum yang terletak di Bengkak, Kecamatan Wongsorejo. Di sana, ia kembali membagikan bantuan berupa ikan segar dan 16 lubang lele bioflok. Tak lupa, ia juga makan bersama para santri yang hadir memenuhi lapangan ponpes.

“Jadi adek-adek semua, bapak-bapak kenapa kita bagikan ikan-ikan ke pesantren-pesantren? Pemerintah ingin menanggulangi persoalan stunting dengan mengampanyekan (program) Gemar Makan Ikan supaya generasi muda tumbuh besar dan pintar. Karna yang kita butuhkan supaya pintar ada dalam omega. Omega itu ada dalam ikan, bukan dalam ayam,” tandasnya.

Pemerintah secara bersama-sama tengah terus mendorong pencegahan stunting atau gangguan pertumbuhan pada anak akibat kekurangan gizi secara kronis. Dalam mendukung upaya tersebut, KKP terus menggalakkan kampanye Gemarikan (Gemar Makan Ikan) pada masyarakat. Data terbaru dari Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2018 Kementerian Kesehatan mencatat angka stunting di Indonesia telah turun dari 37,8% pada tahun 2013 menjadi 30,8% pada tahun 2018.

Sebagai informasi, kampanye Gemarikan yang dilakukan oleh Menteri Susi merupakan salah satu bagian dari rangkaian agenda kunjungan kerjanya (kunker) di Banyuwangi selama 2-5 April 2019. Salah satunya ialah mengisi kuliah umum di Institut Agama Islam (IAI) Ibrahimy, Genteng pada Kamis (4/4).

Mengusung tema “Kedaulatan Laut Nusantara, Gerbang Pencerdasan Generasi Bangsa”, Menteri Susi membagikan informasi seputar sejarah dan kebijakan perikanan dan kelautan di Indonesia di hadapan ratusan mahasiswa yang hadir.

Menteri Susi mengatakan, Indonesia sudah berada pada jalurnya untuk menjadikan laut sebagai masa depan bangsa. Hal ini sesuai dengan kondisi Indonesia yang terdiri dari 17.504 pulau yang disatukan oleh laut. Dengan kata lain, persentase wilayah laut Indonesia mencapai 70% dari keseluruhan wilayah negara sehingga patut ditata kelola oleh prinsip-prinsip pembangunan kelautan.

Usai memberikan pemaparan, Menteri Susi mendapatkan julukan ‘Nyai’ dari para mahasiswa atas kontribusinya menjaga laut Indonesia dari pencuri ikan ilegal.

“Orang yang menguasai kitab-kitab, menguasai Al-Quran. Seharusnya, karena ayat-ayat Allah itu tidak hanya tertulis tapi ada di alam sekitar ini, astronomi itu juga bisa disebut ‘Kiyai’. Orang yang mengerti tentang isi laut, tentang bagaimana menjaga laut, dan bagaimana cara mengatasi orang yang mencuri ikan laut berarti layak disebut ‘Kiyai’. Karena Bu Susi ini perempuan, maka kita sebut?,” ujar Samsudin Adlawi, Direktur Jawa Pos Radar Banyuwangi, selaku moderator pada para mahasiswa yang hadir.

“Bu ‘Nyai’,” sambut meriah para mahasiswa.

Dalam kesempatan itu, Menteri Susi tak lupa memberikan bantuan berupa 16 lubang bioflok kepada yayasan untuk digunakan para mahasiswa mempelajari entrepreneurship di sektor perikanan.

Selain mengunjungi institut pendidikan, Menteri Susi juga mengunjungi sejumlah lokasi lainnya. Di antaranya ialah Pulau Tabuhan dan Pulau Menjangan di mana ia meninjau kebersihan pantai dan perairan sekitar dari sampah plastik. Sejalan dengan hal itu, ia juga mengunjungi tempat pengolahan sampah sementara (TPST) di Desa Tembokrejo, Kecamatan Muncar. TPST tersebut dikelola oleh warga setempat, yang didampingi oleh Pemkab Banyuwangi dan organisasi non-pemerintah (NGO) dunia.

”Ini upaya yang sangat baik dari pemerintah daerah. Saya berharap penanganan sampah ini bisa menjadi contoh bagi desa-desa lainnya,” tambahnya.

Terkait dengan peninjauan sektor pelayanan masyarakat, Menteri Susi pun mengunjungi Mall Pelayanan Publik (MPP) Banyuwangi pada Jumat (5/4). MPP ini merupakan mal pertama yang didirikan oleh kabupaten.

“Mall Pelayanan Publik ini luar biasa, ada 199 dokumen dan izin dilayani dalam satu ruangan. Sampai mau menikah di sini juga bisa. Sangat memudahkan masyarakat. Jadi, soal izin kapal itu mungkin bisa langsung disatukan ke mall ini sehingga nelayan semakin mudah mengurus perizinannya karena lebih dekat“ tuturnya.

Melihat kemudahan yang diberikan oleh fasilitas tersebut, ia berharap agar perizinan kapal nelayan berukuran 10-30 GT yang kewenangannya saat ini berada di pemerintah provinsi bisa diakses di daerah. Ia mengusulkan, pemerintah provinsi bisa menaruh personelnya di daerah sehingga pemilik kapal ikan tidak perlu jauh untuk mengurus izin kapal.

Tak ketinggalan, Menteri Susi juga sempat menicipi durian khas Banyuwangi di Kampung Durian Songgon. Ia juga menikmati nuansa asli “Suku Osing” asal Banyuwangi di Sanggar Genjah Arum, Desa Kemiren, Kecamatan Glagah. Di sana, ia menikmati suguhan Tari Gandrung, Tari Jaran Goyang, dan alunan musik Eso berlatarkan rumah adat Suku Osing yang unik. (ERB)

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?
  • Terhibur (0.0%)
  • Terinspirasi (0.0%)
  • Senang (0.0%)
  • Tidak Peduli (0.0%)
  • Terganggu (0.0%)
  • Takut (0.0%)
  • Marah (0.0%)
  • Sedih (0.0%)

Comments

comments