Kunjungi Trenggalek, Ini Pesan Menteri Susi kepada Nelayan dan Pemda Setempat

60
Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti didampingi Dirjen Perikanan Tangkap Zulficar Mochtar dan Kepala BKIPM Rina serta Wakil Bupati Trenggalek Muhammad Nur Arifin berdialog bersama warga Desa Karanggongso Kecamatan Watulimo yang mayoritas warganya berprofesi sebagai nelayan, Trenggalek, Jawa Timur (4/1). Dok. Humas KKP / Handika Rizki Rahardwipa

KKPNews, Trenggalek – Dalam rangka meninjau pengembangan ekonomi kemaritiman di kawasan pesisir selatan Jawa Timur, Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti, didampingi Dirjen Perikanan Tangkap Zulficar Mochtar, mengunjungi Trenggalek, pada Minggu (3/2). Setibanya di Pelabuhan Perikanan Nusantara (PPN) Prigi, Menteri Susi disambut oleh Bupati Trenggalek Emil Dardak dan Wakil Bupati Trenggalek Muhammad Nur Arifin alias Gus Ipin.

Terpikat dengan keindahan perairan Trenggalek, Menteri Susi membuka perjalanannya dengan melakukan aktivitas Giat Laut di atas hamparan laut biru dan terik matahari siang itu. Tanpa ragu, ia mengayuh kano yang dikendarainya dari Pantai Damas menuju ke tengah teluk Prigi. Tak lupa, ia juga sempat mengajari Gus Ipin cara paddling di atas kano.

Usai puas bermain di perairan Trenggalek, ia melanjutkan wisatanya sambil melakukan peninjauan ke kawasan Hutan Mangrove Pancer Cengkrong. Keindahan hutan mangrove yang dinilai terpelihara dan secara otomatis bisa menjaga kelangsungan hidup ikan, kepiting dan udang memukau Menteri Susi.

“Sangat bagus. Bukan hanya sebatas program, tapi bisa untuk wisata dan nursery ikan. Ini sangat penting untuk komunitas pesisir. Cintai mangrove karena mangrove yang menyelamatkan peradaban manusia,” ujarnya.

Menjelang senja, rombongan Menteri Susi menyempatkan waktu untuk beristirahat sejenak sambil berbincang dengan warga ditemani dengan durian dan dengan secangkir wedang jahe di Rumah Durian, Desa Sawahan, Kecamatan Watulimo. Selain terkenal akan duriannya, di daerah ini juga terdapat sungai yang menjadi hulu sungai yang masuk teluk Prigi serta dimanfaatkan warga setempat untuk wisata tubing. Menteri Susi pun kembali memuji warga setempat yang mampu menyulap tempat pembuangan sampah menjadi tempat wisata yang begitu bersih.

Keesokan harinya, Senin (4/2), Menteri Susi didamipingi oleh Gus Ipin menyusuri laut dari Rumah Apung, Teluk Prigi, Kecamatan Watulimo menuju ke Pantai Mutiara dengan mendayung paddle pad selama sekitar 10 menit. Mendarat di pantai mutiara yang berpasir putih, mereka kemudian disambut oleh Bupati Trenggalek Emil Dardak dan Dirjen Perikanan Tangkap KKP Zulficar Mochtar. Beralas tikar, mereka pun kemudian berdialog membahas masa depan Teluk Prigi.

Emil mengatakan, dirinya tengah mencari format untuk perikanan Trenggalek agar dapat meningkatkan kesejahteraan warga setempat. Cara yang mungkin dilakukan ialah melalui sertifikasi hasil tangkapan di Teluk Prigi yang akan membuat harga jual ikan dari para nelayan lebih tinggi.

Salah satu syarat sertifikasi ini adalah menggunakan teknik penangkapan yang ramah lingkungan dan berkelanjutan. Namun, yang memungkinkan untuk disertifikasi adalah hasil tangkapan dengan pancing. “Katanya yang sudah ada baru di Papua. Di Jawa Timur belum ada,” ucap Emil.

Tak hanya berdialog dengan pejabat pemda setempat, Menteri Susi kemudian kembali memanfaatkan kunjungannya untuk berdialog bersama warga setempat di Desa Karanggongso, Kecamatan Watulimo. Didampingi oleh Dirjen Perikanan Tangkap Zulficar Mochtar, Kepala BKIPM Rina, dan Gus Ipin, ia menyerap aspirasi dari warga desa yang mayoritas berporfesi sebagai nelayan.

Dalam kesempatan itu, Menteri Susi mengingatkan para nelayan tentang pentingnya menjaga keberlanjutan eskosistem laut secara bersama-sama. Salah satu upayanya ialah dengan tidak menggunakan rumpon-rumpon untuk menangkap benur (benih udang lobster) dan menghentikan penggunaan cantrang. Hal ini turut terpantik oleh alat benur lobster yang ditemukannya saat menuju Pantai Mutiara sebelumnya.

Menurutnya, apa yang dilakukan para nelayan dengan menangkap benur lobster merugikan kehidupan nelayan sendiri. Benur-benur itu ditangkap dan dijual Rp 30.000 per ekor. Sementara bandar yang menjadi pengepul sudah mengambil keuntungan Rp 15.000 per ekor. Padahal jika dibiarkan beberapa lama, benur itu bisa laku jutaan rupiah. Selain itu, rumpon-rumpon tersebut juga mengancam ekosistem ikan, ikan akan tertipu dengan rekayasa tempat berlindung tersebut, sehingga tidak mau bertelur di kawasan pantai dan sekitarnya.

Fish Aggregation Devices itu berbahaya untuk ekologi ikan, ikannya keliling pusing, karena disangkanya itu rumahnya. Jadi dia tidak kembali ke pinggir pantai untuk bertelur untuk beranak pinak,” tambahnya.

Padahal, Menteri Susi menilai bahwa kondisi Teluk Prigi yang memiliki ombak yang tidak besar sangat memungkinkan untuk menjadi lokasi-lokasi ikan untuk bertelur. Membagikan pengalamannya, ia berujar bahwa pada saat ia masih beraktivitas langsung sebagai pengusaha perikanan, pihaknya mendapatkan pasokan lebih dari 1 ton lobster per hari dari kawasan Trenggalek, Pacitan dan sekitarnya. Membandingkannya dengan kondisi saat ini, ia menyayangkan banyakya rumpon-rumpon yang dipasang di tengah laut sehingga kondisi ikan di sekitar teluk menjadi sedikit.

“Tidak perlu rumpon-rumpon besar dipasang, jadi yang gede-gede utamanya dari orang Jakarta, orang mana, akan saya sapu itu karena tidak berizin dan tidak boleh,” tegasnya kepada para nelayan yang hadir.

Oleh karena itu, ia berharap agar para nelayan menghentikan penggunaan rumpon dan cantrang. “Ini PR kita bersama. Semua main rumpon. Nelayan menengah main rumpon, nelayan besar apalagi. Ini kesalahan fatal dalam menjaga ekosistem ikan (agar) terus ada dan banyak. Cantrang dan jaring dulu 2 inchi, sekarang 1,25 inchi. Kenapa gak pake kelambu nyamuk (sekalian) saja? Semua kena, kita semua yang bermasalah,” tegasnya.

Selain itu, Menteri Susi juga menyoroti perihal pembangunan pelabuhan di Trenggalek.

“Mereka dulu pernah datang ke pendopo, Bu. Tapi mendemo saya soal pembangunan pelabuhan,” ucap Wakil Bupati Gus Ipin yang mendampingi Menteri Susi dalam lokasi dialog yang memang tidak jauh dari lokasi pembangunan pelabuhan perintis niaga di Trenggalek.

Menteri Susi mendukung langkah Pemkab Trenggalek membangun pelabuhan perintis niaga yang dinilai sudah tepat. Meskipun begitu, melihat kontur Teluk Prigi, ia tidak sepakat jika dilakukan reklamasi dalam proses pembangunannya. “Kalau hanya sedikit bolehlah, tapi jangan tambah lagi,” ucapnya.

Sebagai alternatif, ia mengusulkan pembangunan jetty (dermaga) ke tengah laut jika memang dibutuhkan sandaran untuk kapal.

“Membongkar gunung untuk terminal dan menaruh barang masih memungkinkan untuk dilakukan. Tapi kalau mengeruk laut, itu bukan budaya bahari. Saya mohon Bapak Bupati, jangan tambah lagi,” pesan Susi.

Sebagai informasi, pembangunan pelabuhan perintis niaga di Trenggalek sudah siap untuk uji standar. Setelah itu, akan ada evaluasi untuk menyiapkan teknisnya. Pemprov Jatim menganggarkan Rp 15 miliar untuk proses pembenahan pelabuhan perintis niaga ini. Dengan berdirinya pelabuhan perintis niaga ini, diharapkan nantinya kapal-kapal Niaga dari Banyuwangi dan Cilacap dapat singgah di Trenggalek.

Diskusi antar Menteri Susi dan pemerintah Trenggalek bersama nelayan yang berjalan dengan cair pagi itu direspon hangat oleh para nelayan setempat.

Menteri Susi pun kemudian melanjutkan perjalanannya untuk memberikan motivasi dan pengarahan kepada siswa-siswi SMK 1 Watulimo. Kedatangannya disambut dengan antusias oleh para siswa/i yang berebut untuk mengabadikan swafoto bersama. Tak ketinggalan, ia juga memberikan buku Laut Masa Depan Bangsa secara simbolis kepada Bupati Trenggalek Emil Dardak dan Wakil Bupati Trenggalek Gus Ipin dalam kesempatan itu.

Perjalanan hari kedua Menteri Susi di Trenggalek ditutup dengan kunjungannya ke Pondok Pesantren Bumi Hidayah At Taqwa di Kedunglurah, Pogalan, Trenggalek bersama Dirjen Perikanan Tangkap Zulficar Mochtar Bupati Trenggalek Emil Dardak dan istri Arumi Bachsin, serta Wakil Bupati Trenggalek Gus Ipin. (ERB)

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?
  • Terinspirasi (66.7%)
  • Senang (33.3%)
  • Terhibur (0.0%)
  • Tidak Peduli (0.0%)
  • Terganggu (0.0%)
  • Takut (0.0%)
  • Marah (0.0%)
  • Sedih (0.0%)

Comments

comments