Komisi IV DPR: Kemajuan Pengembangan Perikanan Budidaya di Boyolali Sangat Memuaskan

54
Dalam rangkaian kunker spesifik Komisi IV DPR RI di Boyolali, KKP memberikan bantuan untuk pengembangan Unit Pembenihan Rakyat (UPR) sebagai apresiasi dan motivasi kepada daerah dan masyarakat untuk memenuhi kecukupan benih, Rabu (19/3). Dok. Humas DJPB

KKPNews, Boyolali – Komisi IV Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia (DPR RI) melakukan kunjungan kerja (kunker) spesifik di Kabupaten Boyolali, Jawa Tengah pada Rabu (19/3). Kunker spesifik tersebut untuk meninjau secara langsung perkembangan pembangunan perikanan budidaya di Kabupaten Boyolali, Jawa Tengah. Hadir dan turut serta mendampingi antara lain Direktur Jenderal Perikanan Budidaya KKP serta segenap jajaran Forum Pimpinan Daerah Boyolali.

Direktur Jenderal Perikanan Budidaya, Slamet Soebjakto, dalam sambutannya mengatakan bahwa KKP terus berkomitmen untuk mendorong program yang langsung menyentuh masyarakat pembudidaya ikan. Ia memastikan bahwa program selalu berbasis pada kebutuhan masyarakat dan penyelesaian masalah.

“Program yang kami berikan selalu melihat kebutuhan masyarakat dan bagaimana agar program benar-benar menjadi solusi terhadap masalah yang dihadapi pembudidaya ikan. Oleh karenanya, dukungan langsung tersebut difokuskan dalam rangka peningkatan produktivitas dan efisiensi produksi. Dengan begitu masyarakat mendapatkan nilai tambah yang baik,” tegas Slamet.

Menurut Slamet, Boyolali merupakan salah satu Kabupaten yang memberikan kontribusi cukup tinggi terhadap produksi ikan nasional, khususnya lele.

“Ada kampung lele, sebagai model kawasan berbasis budidaya yang telah berhasil. Bayangkan tidak kurang dari 37 ton ikan lele diproduksi per hari dari kawasan ini,” imbuhnya.

Slamet menyebut, produksi perikanan budidaya dari Kabupaten Boyolali khususnya perikanan air tawar setidaknya menyumbang lebih dari 13 persen dari produksi budidaya air tawar Provinsi Jawa Tengah. Dengan produksi 37 ton tiap harinya, kabupaten ini mampu memasok ikan ke Yogyakarta, Semarang, kabupaten sekitar, dan untuk kebutuhan masyarakat Kabupaten Boyolali sendiri. Sehingga setidaknya dibutuhkan 330 juta ekor benih ikan per tahun untuk memenuhi kapasitas produksinya.

Menanggapi laporan bahwa Kabupaten Boyolali masih kekurangan 140 juta ekor benih ikan tiap tahunnya, secara spontan Slamet memberikan bantuan untuk pengembangan Unit Pembenihan Rakyat (UPR), sebagai apresiasi dan motivasi kepada daerah dan masyarakat untuk memenuhi kecukupan benih.

”Boyolali sebagai andalan lumbung ikan Jawa Tengah dan menjadi minapolitan dengan grade A atau sangat maju. Artinya kemandirian minapolitan sudah terlihat. Terbukti dukungan sektor hulu hilir sudah terwujud dengan baik. Cara dan produk olahannya sudah sampai ke mancanegara, Moskow dan Fiji. Namun yang menjadi kendalanya kecukupan benihnya, produksi 34.000 ton per tahun namun kekurangan 140 juta ekor benih ikan, oleh karena itu kami akan kembangkan UPR-UPR di sini,” tegas Slamet.

Namun demikian, Slamet mengingatkan bahwa konsumsi ikan per kapita per tahun penduduk Boyolali baru 21,7 kg. Angka ini masih jauh di bawah angka nasional yang telah mencapai 50,69 kg, sehingga Gerakan Memasyarakatkan Makan Ikan (Gemarikan) harus lebih gencar lagi untuk meningkatkan kualitas gizi masyarakat.

Sementara itu, Ketua Tim Kunker Komisi IV, Ibnu Multazam menjelaskan bahwa kunker spesifik kali ini fokus untuk melihat perkembangan kemajuan perikanan budidaya di Kabupaten Boyolali. “Kami ingin memastikan bahwa pembangunan perikanan berjalan baik dan berdampak langsung terhadap perekonomian masyarakat,” ujarnya saat memberikan sambutan.

“Kami tentu mengapresiasi dan merasa puas dengan keberhasilan pembangunan perikanan budidaya di Boyolali ini. Saya rasa Boyolali tidak asing lagi sebagai salah satu sentra produksi ikan hasil budidaya di Indonesia. Komisi IV selalu berkomitmen untuk mendorong agar perikanan budidaya ini dapat perhatian lebih. Di samping itu saya ingin produk-produk olahan perikanan seperti bakso ikan, kaki naga, nugget, dan abon lele supaya dipatenkan. Apalagi sudah ada permintaan dari Fiji untuk pelatihan produk olahan ini. Jangan sampai nanti diklaim pihak lain,” pesan Ibnu.

Pada kesempatan yang sama, anggota Komisi IV DPR RI asal Boyolali, Rahmad Handoyo, mengungkapkan perlunya penambahan dan penguatan prasarana untuk mendukung perikanan budidaya di daerah.

“Saat saya berkunjung ke Manado beberapa waktu lalu, saya mengusulkan agar keberadaan Balai Perikanan Budidaya diperbanyak, termasuk di Jawa Tengah. Sudah saatnya ada Balai Budidaya Air Tawar sendiri yang langsung di bawah KKP, mengingat tingginya kebutuhan benih dan ikan konsumsi di daerah ini. Dan Boyolali siap untuk menjadi lokasi balai tersebut sebagai sentra di Jawa Tengah ini,” cetus Rahmad.

“Tadi saya baru mengikuti panen di Desa Doplang dan mendapatkan infomasi bahwa ada 1000 unit kolam yang saat ini membutuhkan benih segera. Saya berharap ada bantuan benih lele juga untuk mereka. Mohon dinas dapat membantu mendampingi kelompok untuk proses pengurusan badan hukum kelompok sebagai syarat menerima bantuan,” ungkap anggota Komisi IV DPR RI asal Boyolali lainnya, Endang Srikarti Handayani yang turut hadir dalam kesempatan tersebut.

Sebagai informasi, dalam rangkaian kegiatan Kunker spesifik ini juga dilakukan panen bersama ikan lele oleh Kelompok Mina Usaha Tani, Desa Doplang, Kecamatan Teras dan panen ikan nila oleh Kelompok Mina Lestari, Dusun Dendang, Desa Cepokosawit, Kecamatan Sawit.

KKP juga memberikan berbagai dukungan antara lain benih ikan lele sejumlah 220.000 ekor, benih ikan nila 100.000 ekor, bantuan pakan mandiri sebanyak 10.000 kg, dukungan pembiayaan melalui BLU-LPMUKP untuk 2 Pokdakan senilai Rp270.000, dan pembagian kartu KUSUKA untuk 2 pelaku usaha budidaya yang telah tervalidasi.

Bupati Boyolali yang diwakili Kepala Dinas Perikanan Boyolali, Juwaris, menyampaikan terima kasih atas dukungan KKP dan Komisi IV DPR RI bagi pengembangan perikanan budidaya di Boyolali. (Humas DJPB)

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?
  • Terhibur (0.0%)
  • Terinspirasi (0.0%)
  • Senang (0.0%)
  • Tidak Peduli (0.0%)
  • Terganggu (0.0%)
  • Takut (0.0%)
  • Marah (0.0%)
  • Sedih (0.0%)

Comments

comments