KKP Monitoring Kawasan Konservasi Perairan di Bali

48
Ilustrasi kawasan konservasi perairan. Dok. adikristanto.net

KKPNews, Bali – KKP melalui Balai Pengelolaan Sumberdaya Pesisir dan Laut (BPSPL) Denpasar  melakukan kegiatan monitoring Biofisik (meliputi monitoring mangrove, lamun, dan terumbu karang) Sosial Ekonomi di Kawasan Konservasi Peraiaran Bali, khususnya Nusa Penida. Kegiatan ini dilakukan dalam rangka mendukung penyediaan data series di kawasan Konservasi, utamanya  wilayah kerja BPSPL Denpasar. Monitoring dilakukan mulai tanggal 24-28 Juni dan melibatkan Tim BPSPL Denpasar, Pengelola UPTD KKP Bali dan Tim CTC.

Monitoring mangrove dilaksanakan di tiga stasiun yaitu  Mangrove Point; Telatak Point, Desa Jungut Batu; dan Pulau Ceningan, Desa Lembongan. Pengukuran dilakukan dengan membentangkan tiga transek kuadran berukuran 10×10 meter untuk pengamatan pohon, 5×5 meter untuk pancang, dan 1×1 meter untuk semai. Dari keseluruhan pengamatan tersebut didapatkan beberapa major component dan minor component seperti Bruguiera gymnorriza, Xilocarpus granatum, Rhizopora mucronata, Rhizopora stylosa, Sonneratia alba, Excoecaria agallocha, Excoecaria sp.

Adapun kondisi mangrove di sebagian wilayah seperti kawasan wisata mangrove dinilai masih baik. Sedangkan untuk mangrove yang semakin dekat dengan kawasan pemukiman warga kondisinya tidak sebaik dengan yang berada di kawasan wisata.

Adapun beberapa kendala untuk pengambilan data mangrove ini adalah untuk beberapa titik yang sulit dijangkau karena rapatnya tumbuhan mangrove.

Sementara itu, monitoring lamun dilakukan di dua stasiun yaitu Sakenan dan Mangrove Point. Metode yg digunakan ialah metode seagrass watch adaptasi LIPI. Untuk memudahkan pengambilan data, monitoring dilaksanakan mengikuti waktu surut setempat. Monitoring di stasiun Sakenan dilaksanakan pada malam hari sekitar pukul 21.00 WITA, sedangkan monitoring di Mangrove Point dilaksanakan pada siang hari sekitar pukul 11.00.

Pada awalnya, monitoring direncanakan juga akan dilakukan di stasiun Telatak namun kemudian dibatalkan karena kondisi yang tidak memungkinkan. Saat tim tiba di lokasi, tinggi muka air laut masih semeter lebih dan malam hari. Belajar dari hal tersebut, disarankan agar pelaksanaan monitoring lamun selanjutnya disesuaikan dengan waktu tilem, bulan purnama, atau surut paling rendah.

Sementara itu, survei terumbu karang dilakukan pada stasiun mangrove poin, Suana Poin, dan Atuh Poin (zona inti). Metode yang digunakan adalah PIT. Kondisi terumbu karang yang diamati meliputi bentuk pertumbuhan dan jumlah ikan karang. Selama melakukan monitoring ke tiga stasiun tersebut, tim tidak dapat melakukan pendataan dengan baik karena terkendala kondisi arus kencang. Bahkan, tim sempat terpencar dan hilang terseret arus yang kuat di Atuh Poin. Hal ini menyebabkan pengambilan data karang dihentikan dan akan dilanjutkan pada kesempatan selanjutnya.

Adapun survei Sosial Ekonomi masyarakat dilakukan untuk mengukur Nilai Tukar Nelayan dan masyarakat, serta persepsi masyarakat terhadap kawasan Konservasi Perairan. Responden yang disasar meliputi nelayan, pembudidaya, dan usaha wisata bahari. Desa yang telah di survei meliputi Desa Lembongan, Jungut Batu, Suana, Batununggul, Ped, Toya Pakeh, dan Desa Sakti. (BPSPL Denpasar/Humas PRL)

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?
  • Senang (100.0%)
  • Terhibur (0.0%)
  • Terinspirasi (0.0%)
  • Tidak Peduli (0.0%)
  • Terganggu (0.0%)
  • Takut (0.0%)
  • Marah (0.0%)
  • Sedih (0.0%)

Comments

comments