KKP Lepasliarkan Dugong yang Tertangkap Jaring Nelayan

30
Dugong tertangkap di jaring nelayan (Foto: KKP)

KKPNews, Jakarta – Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) melalui Direktorat Jenderal Pengawasan Sumber Daya Kelautan dan Perikanan (PSDKP) bertindak cepat dalam merespons laporan masyarakat yang sempat viral di media sosial terkait Dugong atau Duyung yang tertangkap jaring nelayan di Kampung Yellu, Distrik Missol Selatan, Raja Ampat.

“Mereka melakukan koordinasi dengan Loka PSPL Sorong dan BKKPN Kupang Satker Raja Ampat untuk bersama-sama melakukan pemeriksaan lapangan pada tanggal 23 Maret 2020,” terang Tb. Haeru Rahayu, Direktur Jenderal PSDKP-KKP, Sabtu (28/3).

Tb menjelasakan, Dugong tersebut sempat dipelihara di sebuah keramba jaring dengan ukuran 4×3 meter dan tinggi 4 meter yang dimiliki oleh nelayan setempat yang bernama Hakim Tamher. Menurut pengakuannya, Dugong tersebut tertangkap pada saat dia mengoperasikan alat penangkapan ikan jaring insang (gill net). Dugong itu sendiri telah dipelihara selama satu bulan di jaring keramba tersebut.

”Melalui pendekatan persuasif, petugas kami bekerja sama dengan aparat desa setempat memberikan edukasi kepada nelayan bersangkutan tentang status perlindungan yang telah ditetapkan oleh pemerintah terhadap satwa Dugong. Sebagai langkah tindaklanjut petugas bersama aparat desa dan masyarakat kemudian melepasliarkan Dugong tersebut di perairan Kampung Yellu,” ungkap Tb.

Dugong dipelihara sementara di jaring apung (Foto: KKP)
Dugong dipelihara sementara di jaring apung (Foto: KKP)

Direktur Pengawasan Sumber Daya Kelautan, Matheus Eko Rudianto menyampaikan bahwa yang dilakukan oleh aparat di lapangan sudah tepat dan sesuai prosedur mengingat dugong ini memang merupakan mamalia langka yang harus dilingdungi dan dijaga agar tidak punah.

”Berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 7 Tahun 1999 Pengawetan Jenis Tumbuhan dan Satwa dan Permen LHK Nomor P.20/MENLHK/SETJEN/KUM.1/6/2018 tentang Jenis Tumbuhan dan Satwa yang dilindungi, Dugong merupakan salah satu jenis satwa yang dilindungi,” jelas Eko.

Eko mengatakan, sejak tahun 1982 Dugong telah masuk dalam daftar “vulnerable species” atau spesies yang memiliki tingkat kerentanan tinggi dalam The International Union for Conservation of Nature’s (IUCN) Redlist . Dugong juga termasuk dalam CITES Apendiks I sehingga tidak boleh diperdagangkan secara bebas.

Kementerian Kelautan dan Perikanan sendiri telah melakukan langkah-langkah dan upaya perlindungan terhadap dugong ini. Salah satu diantaranya melalui Surat Keputusan Menteri Kelautan dan Perikanan No 79 tahun 2018 tentang Rencana Aksi Nasional Konservasi mamalia laut, dimana di dalamya termasuk Dugong.

”KKP memiliki rencana aksi dalam rangka konservasi dan perlindungan terhadap mamalia laut termasuk jenis Dugong ini. Ini yang menjadi pedoman bagi kami untuk terus mendorong upaya perlindungan terhadap spesies langka ini,” pungkas Eko.

Dalam beberapa tahun terakhir Ditjen PSDKP-KKP telah beberapa kali melakukan penanganan terkait perlindungan Dugong ini. Pada tahun 2019, penanganan dugong yang terdampar dilakukan di Sangihe (Sulawesi Utara), dan di Tanjung Pinang (Kepulauan Riau). Pada tahun 2018, Ditjen PSDKP juga melakukan penanganan terhadap 4 ekor dugong yang terdampar dalam keadaan mati.

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?
  • Terhibur (0.0%)
  • Terinspirasi (0.0%)
  • Senang (0.0%)
  • Tidak Peduli (0.0%)
  • Terganggu (0.0%)
  • Takut (0.0%)
  • Marah (0.0%)
  • Sedih (0.0%)

Comments

comments