KKP Lakukan Pengumpulan dan Pengolahan Data Perikanan Tangkap Benih Sidat

101
Ilustrasi ikan sidat. Dok. Istimewa

KKPNews, Jakarta – Ikan sidat (Anguilla sp.) mungkin bukan komoditas yang umum dikonsumsi oleh masyarakat Indonesia. Popularitasnya kalah dari komoditas-komoditas lainnya yang jauh lebih umum dikonsumsi.

Namun demikian, justru ikan ini memiliki nilai ekonomi yang tinggi. Hal ini karena tingginya permintaan ekspor, sementara pasokannya sangat terbatas. Tak heran harganya pun menjadi mahal.

“Negara yang kita kenal memiliki konsumsi ikan sidat yang tinggi adalah negara-negara Asia Timur seperti Korea, Jepang, Taiwan, dan Tiongkok. Permintaan sidat dari negara-negara ini terus mengalami peningkatan,” ujar Direktur Jenderal Perikanan Tangkap, Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP), M. Zulficar Mochtar

Dari sisi pasokan, sidat hingga saat ini masih merupakan usaha penangkapan dari perairan umum. Benih ikan sidat sendiri yang ditangkap dari alam dapat dilakukan pembesaran. “Jenis sidat sampai saat ini memang masih belum dibudidayakan pada tingkat hatchery, sehingga benihnya sangat tergantung dari penangkapan di alam,” ujar Zulficar.

Karena latar belakang tersebut, tidak mengherankan apabila tekanan terhadap pemanfaatan sumber daya perikanan dan habitat sidat semakin tinggi sehingga berpengaruh terhadap ketersediaan atau stok alami di perairan. “Oleh karena itu, kita perlu melalukan upaya-upaya penyusunan kebijakan, aturan, dan upaya-upaya pengelolaan agar sumber daya ikan sidat dapat berkelanjutan,” tambah Zulficar.

Untuk melakukan upaya-upaya dimaksud, sangat jelas dibutuhkan dukungan ketersediaan data statistik sebagai bahan analisis. Pendataan benih ikan sidat antara lain menyangkut volume produksi, lokasi, spesies, alat tangkap yang digunakan, perahu/kapal yang digunakan, jumlah RTP, dan lain-lain.

Untuk itu, KKP melalui Direktorat Jenderal Perikanan Tangkap (DJPT) mulai berinisitif secara intensif melalukan pendataan perikanan benih sidat dalam dua tahun terakhir, khususnya di 3 (tiga) lokasi yaitu Sukabumi, Kebumen, dan Cilacap. Dari hasil pendataan terlihat bahwa ikan sidat yang diperoleh dari alam ini sudah lama diusahakan oleh nelayan kita dengan harga yang bervariasi.

Hasil validasi data yang dilakukan di Bogor tanggal 21-23 Agustus 2019 yang lalu, nampak jika dibandingkan periode yang sama tahun 2018, maka hasil tangkapan benih ikan sidat di Kabupaten Cilacap pada semester I tahun 2019 meningkat sebesar 23%, Kabupaten Kebumen meningkat hingga 536%, sedangkan di Kabupaten Sukabumi turun sebesar 37%. Penurunan hasil tangkapan benih sidat glass eel di Sukabumi diduga dipicu faktor musim kemarau lebih panjang dari tahun sebelumnya dan sungai mengering sehingga benih sidat tidak masuk ke sungai.

Benih ikan sidat memiliki nilai jual yang sangat tinggi. Harga glass eel di tingkat nelayan dapat mencapai Rp1,8 juta per kilogram hanya dengan menggunakan alat tangkap anco dengan perahu tanpa motor dan motor tempel.

Secara terpisah, Sekretaris DJPT, Yuliadi menyampaikan bahwa pendataan benih sidat diperlukan untuk memenuhi kebutuhan data sidat yang runtun waktu, konsisten, dan teratur karena sistem pendataan yang ada selama ini hanya fokus pada pendataan untuk ikan konsumsi semata, sedangkan pendataan benih belum optimal.

“Perputaran  ekonomi di sisi ini cukup tinggi sehingga nelayan yang terlibat dalam rantai bisnis ini harus terdata dengan baik. Bila terdata dengan baik, sumbangsih kegiatan perikanan dari aktivitas ini akan meningkat secara signifikan sekaligus bahan analisis untuk pengelolaan perikanan sidat yang berkelanjutan,” jelasnya.

Di samping penguatan pendataan, pengelolaan ikan sidat di Indonesia saat ini juga sedang menghadapi babak baru yang menggembirakan. Ditjen Perikanan Tangkap melalui Direktorat Pengelolaan Sumber Daya Ikan sedang menyusun Rencana Pengelolaan Perikanan Sidat Indonesia. “Kita harapkan segera selesai,” tutur Yuliadi.

“Di sisi lain, rekan-rekan dari Direktorat Jenderal Pengelolaan Ruang Laut juga saat ini sedang membuat rancangan Keputusan Menteri Kelautan dan Perikanan terkait perlindungan terbatas bagi ikan sidat. Kedua kebijakan ini perlu kita dorong dan kita dukung penuh dengan ketersediaan data statistik yang memadai,” pungkasnya. (Humas DJPT)

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?
  • Senang (100.0%)
  • Terhibur (0.0%)
  • Terinspirasi (0.0%)
  • Tidak Peduli (0.0%)
  • Terganggu (0.0%)
  • Takut (0.0%)
  • Marah (0.0%)
  • Sedih (0.0%)

Comments

comments