KKP Kumpulkan Stakeholder Angkutan Udara, Dukung Kargo Ekspor Komoditas Perikanan

88
Ditjen Penguatan Daya Saing Produk Kelautan dan Perikanan (PDSPKP) melakukan koordinasi dengan para stakeholder di antaranya Kementerian Koordinator Perekonomian, Kementerian Koordinator Maritim, Kementerian Perhubungan, Kementerian BUMN, Garuda Indonesia, Citilink, Sriwijaya, Angkasa Pura I dan pelaku usaha perikanan di Kantor KKP Jakarta (6/2) / Dok. Humas DJPDSPKP

KKPNews, Jakarta – Jasa logistik sejatinya bertujuan untuk mengatasi kendala jarak, merajut kesatuan wilayah, dan meningkatkan nilai tambah suatu produk. Bidang ini memainkan peran yang penting dalam sebuah bisnis. Terlebih saat ini dimana penggunaan jasa logistik untuk produk perikanan dari beberapa titik produksi melalui transportasi udara mencapai lebih kurang 50% dari total ikan yang didistribusikan.

Melihat pentingnya sektor jasa logistik, Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP), dalam hal ini diinisiasi oleh Ditjen Penguatan Daya Saing Produk Kelautan dan Perikanan (PDSPKP) melakukan koordinasi dengan para stakeholder di antaranya dengan Kementerian Koordinator Perekonomian, Kementerian Koordinator Maritim, Kementerian Perhubungan, Kementerian BUMN, Garuda Indonesia, Citilink, Sriwijaya, Angkasa Pura I dan pelaku usaha perikanan pada Rabu (6/2) yang lalu di Kantor KKP.

Dalam koordinasi tersebut, Garuda Indonesia menyampaikan telah mengoperasikan 1 dari 4 pesawat freighter khusus barang yang dapat dimanfaatkan. Penggunaan pesawat freighter untuk transportasi hasil perikanan  tersebut akan diawali dari Ambon. Para pelaku usaha dari Bali, Mimika dan Ambon telah sepakat melakukan kerjasama pengiriman komoditas ekspor (udang) dari lokasi produksi menggunakan freighter Garuda dengan biaya dan volume yang telah disepakati oleh kedua belah pihak.

Selanjutnya, Ditjen PDSPKP akan memfasilitasi pertemuan untuk konsolidasi muatan dan kerjasama para pihak dalam distribusi hasil perikanan.

Tahun 2019, akan dilakukan inisiasi hub logistik untuk ekspor ikan dari Timur Indonesia via udara berlokasi di Makassar. Semua peserta rapat mendukungnya dalam penguatan sarana-prasarana untuk distribusi ikan (runway, gudang, penambahan pesawat, dan lain-lain) pada titik daerah produksi dan hub logistik ikan.

Transportasi udara dinilai sangat efektif dalam kerangka logistik karena dapat mempersingkat waktu dan jarak. Kendati demikian, berdasarkan data dan informasi dari pihak penyedia angkutan udara diketahui bahwa terjadi kenaikan biaya transportasi udara pada Januari 2019 dibandingkan dengan periode yang sama tahun 2018 dengan persentase kenaikan rata-rata mencapai 183%.

Terdapat beberapa indikator yang menyebabkan pihak maskapai penerbangan menaikkan tarif biaya kargo yaitu kenaikan biaya avtur sebesar 40% dan pelemahan kurs rupiah hingga 14%. Kenaikan biaya ini berdampak pada kegiatan pelaku usaha perikanan sampai pada tahap penghentian usaha atau ekspor hasil perikanan karena harga jual dengan produk perikanan tidak kompetitif dengan biaya logistik yang lebih dari 20%.

Terkait perkembangan biaya transportasi logistik melalui udara, KKP bersama stakeholder terkait menetapkan tiga langkah yang akan dilakukan. Pertama, langkah jangka pendek melalui bedah cost structure penerbangan (Kementerian Koordinator Perekonomian diminta sebagai lead), konsolidasi muatan ikan, inisiasi kerjasama untuk menjamin keteraturan volume dan pengiriman. Kedua, langkah jangka menengah dengan mendorong ekspor langsung dari Kawasan Timur Indonesia melalui hub Makassar sembari mengurangi double handling. Ketiga, langkah jangka panjang dengan menambah armada dan memperbaiki sarana distribusi ikan via udara, membuat hub serta spoke logistic untuk hasil perikanan. (Rifky Effendy Hardijanto / DJPDSPKP / ERB)

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?
  • Senang (100.0%)
  • Terhibur (0.0%)
  • Terinspirasi (0.0%)
  • Tidak Peduli (0.0%)
  • Terganggu (0.0%)
  • Takut (0.0%)
  • Marah (0.0%)
  • Sedih (0.0%)

Comments

comments