KKP Kenalkan Pengembangan “Lele Bioflok” ke Lingkungan Pesantren

1439
Dirjen Perikanan Budidaya Slamet Soebjakto saat memimpin konferensi pers bertema "Budidaya Ikan Lele Sistem Bioflok untuk Peningkatan Ketahanan Pangan" di GMB IV, Jakarta, Rabu (17/5).

KKPNews, Jakarta – Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) melalui Direktorat Jenderal Perikanan Budidaya (Ditjen PB) akan menerapkan inovasi budidaya ikan lele menggunakan teknologi sistem bioflok demi mendorong ketahanan pangan Indonesia.  Untuk itu, Ditjen PB akan melirik lingkungan pondok pesantren sebagai sasaran pengembangan teknologi tersebut, melalui program “Bioflok Masuk Pesantren”.

Direktur Jenderal Perikanan Budidaya (Dirjen PB) Slamet Soebjakto menyampaikan, pondok pesantren sebagai lembaga non-formal merupakan lingkungan yang efektif untuk  pengembangan usaha, sehingga pengenalan usaha lele bioflok ini diharapkan akan mampu mewujudkan pemberdayaan umat, sebagaimana pesan yang disampaikan Presiden Joko Widodo.

“Kita punya tanggunjawab moral untuk membangun pesantren, bukan hanya secara ekonomi saja, namun juga bagaimana turut serta dalam meningkatkan kualitas SDM yang ada. Dengan mulai memperkenalkan ikan sebagai sumber pangan bagi mereka,  kita ingin generasi muda di lingkungan pondok pesantren lebih cerdas dengan mulai membiasakan mengkonsumsi ikan,” ungkap Slamet dalam konferensi pers bertema “Budidaya Ikan Lele Sistem Bioflok untuk Peningkatan Ketahanan Pangan” di GMB IV, Kantor KKP, Jakarta, Rabu (17/5).

Slamet menambahkan, tahun ini KKP akan mengalokasikan dukungan sebanyak 103 paket, dengan rincian 71 paket dari pusat dan 32 paket dari Unit Pelaksana Teknis (UPT) yang akan diberikan terhadap 73 pondok pesantren, 12 kelompok pembudidaya, dan 2 lembaga pendidikan yang tersebar di 16 Provinsi, termasuk diantaranya adalah wilayah perbatasan yaitu Provinsi NTT (Kab. Belu), Provinsi Papua (Kab. Sarmi dan Wamena), dan Provinsi Kalimantan Utara (Kab. Nunukan). Masing-masing dukungan tersebut terdiri dari 12 kolam dengan diameter 3 meter, benih lele, pakan dan obat ikan, probiotik, dan sarana operasional. Realisasi ditargetkan selesai akhir Mei ini.

Khusus dukungan pada pondok pesantren, Slamet berharap akan dapat memberdayakan setidaknya sekitar 78.500 orang santri. Dijelaskan Slamet, ada 2 (dua) outcome yang diharapkan dapat dicapai dengan mendorong program ini, yaitu: Pertama, terwujudnya pergerakan ekonomi di pondok pesantren dan yayasan, taitu dengan memicu terbentuknya kelembagaan penunjang seperti koperasi. Dukungan ini diharapkan akan mampu menghasilkan produksi ikan lele konsumsi sebanyak 370,8 ton per siklus atau 1.452 ton, dengan nilai ekonomi produksi sebesar 21,78 milyar per tahun, dengan angka tenaga kerja yang dapat terlibat mencapai 1.030 orang.

Kedua, meningkatnya konsumsi ikan per kapita di kalangan masyarakat pondok pesantren. Sebagaimana diketahui, tingkat konsumsi ikan dikalangan para santri masih rendah yaitu hanya sekitar 9,6 kg per kapita/tahun. Dengan adanya program ini, diharapkan akan mampu mendorong tingkat konsumsi ikan di kalangan santri sampai 15 kg per kapita/tahun, sehingga secara langsung akan meningkatkan perbaikan gizi. Setidaknya, dukungan awal ini diharapkan dapat memicu frekwensi konsumsi ikan di Pondok Pesantren yang semula kurang dari 1 kali dalam seminggu, menjadi paling tidak 2 kali dalam seminggu.

Salah satu pesantren yang telah melakukan teknologi ini adalah pesantren Andalusia di Kabupaten Banjarnegara. Pesantren ini juga telah menjadi model bagi kalangan masyarakat di Banjarnegara maupun daerah lain. “Tentunya ini menjadi salah satu poin positif untuk memicu keberhasilan yang sama di daerah lain. Ke depan, seiring berjalannya usaha ini, di setiap pondok pesantren diharapkan akan terfasilitasi pembentukan kelembagaan penunjang semisal koperasi, dengan begitu usaha akan berkesinambungan,” tambah Slamet.

Untuk itu, KKP juga akan menggandeng pihak lain seperti Perguruan Tinggi, LSM, maupun lembaga lain untuk turut serta melakukan pembinaan dan pendampingan teknologi, sehingga usaha akan berkesinambungan. KKP juga berencana untuk menggandeng organisasi kegamaan dalam hal ini PP Muhammadyah dan Nahdlatul Ulama (NU), untuk bekerjasama dalam program pengembangan lele bioflok ini. “Dua organisisasi keagamaan terbesar di negeri ini diharapkan akan menjadi motor khususnya dalam penguatan kelembagaan dan manajemen usahanya,” pungkas Slamet.

Sementara itu, secara nasional target ikan lele diproyeksikan sebesar 1,39 juta ton, dimana realisasi hingga triwulan 1 mencapai 225 ribu ton.

Bioflok diperkenalkan pada Masyarakat Aceh

Sementara itu, pada kegiatan Pekan Nasional (PENAS) Petani Nelayan XV di Banda Aceh pada tanggal 6 – 11 Mei 2017 lalu, Ditjen Perikanan Budidaya telah memperkenalkan teknologi budidaya ikan lele sistem bioflok kepada masyarakat Aceh. KKP menampilkan 8 kolam bulat ukuran diameter 3 meter berisi ikan lele berbagai ukuran mulai dari 625 ekor/kg, 10 – 15 ekor/kg, hingga 8 – 10 ekor/kg, kepadatan 1000 ekor/m3, lengkap dengan sistem aerasi, contoh probiotik, dan layanan konsultasi. Sistem bioflok tersebut juga dipadukan dengan budidaya sayuran dengan teknologi hidroponik memanfaatkan air dari kolam budidaya bioflok tersebut.

Kegiatan ini, mendapatkan sambutan yang luar biasa dari masyarakat yang berkunjung ke lokasi budidaya lele sistem bioflok di arena Expo Aquaculture PENAS XV. Tak sedikit pengunjung yang tertarik untuk mencoba melakukan budidaya ikan lele sistem bioflok ini, setelah mengetahui keuntungan dan kelebihannya. Rifal misalnya, ia mengaku selama ini hanya dapat menyaksikan dan mengetahui teknologi budidaya sistem bioflok dari youtube dan merasa sangat beruntung dapat melihat dan belajar secara langsung. Pria yang telah melakukan budidaya ikan di kolam tanah ini mengaku, akan mencoba menerapkan teknologi ini. Ia berharap agar teknologi budidaya sistem bioflok ini, dapat diterapkan masyarakat Aceh, sehingga produksi dan keuntungan yang diperoleh dapat meningkat. (Humas DJPB/AFN).

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?
  • Terinspirasi (70.0%)
  • Marah (20.0%)
  • Senang (10.0%)
  • Terhibur (0.0%)
  • Terganggu (0.0%)
  • Takut (0.0%)
  • Sedih (0.0%)
  • Tidak Peduli (0.0%)

Comments

comments