KKP Kembali Tangkap Kapal Perikanan Ilegal Berbendera Malaysia

167
KKP kembali menangkap kapal perikanan asing (KIA) berbendera Malaysia yang diduga tengah melakukan illegal fishing di laut teritorial Selat Malaka, Senin (11/2). Dok Humas DJPSDKP

KKPNews, Jakarta –┬áKementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) kembali berhasil menangkap kapal perikanan asing (KIA) berbendera Malaysia yang diduga sedang melakukan penangkapan ikan secara ilegal (illegal fishing) di Wilayah Pengelolaan Perikanan Republik Indonesia (WPP-RI).

Setelah berhasil menangkap 2 (dua) KIA ilegal berbendera Malaysia pada tanggal 2 Februari 2019, kali ini KKP berhasil menangkap 1 (satu) KIA yang juga berbendera Malaysia di laut teritorial Selat Malaka (11/2). Demikian ungkap Plt. Direktur Jenderal PSDKP, Nilanto Perbowo, di Jakarta (12/2).

Selanjutnya, Nilanto mengungkapkan penangkapan 1 (satu) KIA Malaysia dengan nama KM. PKFB 217 (49,71 GT) dengan Nakhoda dan 4 (empat) orang Anak Buah Kapal (ABK) berkewarganegaraan Myanmar, dilakukan sekitar pukul 09.00 WIB dalam operasi pengawasan sumber daya kelautan dan perikanan yang dilaksanakan oleh KP. Hiu Macan Tutul 002.

Kapal tersebut ditangkap saat sedang melakukan penangkapan ikan di WPP-NRI tanpa dilengkapi dengan dokumen perizinan yang sah dari Pemerintah RI, menggunakan alat tangkap yang dilarang (trawl), serta ditemukan adanya hasil tangkapan berupa ikan berbagai jenis sekitar 2.000 (dua ribu) kilogram.

Kapal diduga melanggar Undang-Undang Nomor 31 Tahun 2004 tentang Perikanan sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 45 Tahun 2009 dengan ancaman pidana penjara paling lama 6 (enam) tahun dan denda paling banyak Rp. 20 milyar.

Selanjutnya, kapal dikawal menuju Pangkalan PSDKP Batam dan diperkirakan akan tiba pada Kamis (14/2) untuk menjalani proses hukum oleh Penyidik Pegawai Negeri Sipil (PPNS) Perikanan. (Humas DJPSDKP/ERB)

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?
  • Terhibur (0.0%)
  • Terinspirasi (0.0%)
  • Senang (0.0%)
  • Tidak Peduli (0.0%)
  • Terganggu (0.0%)
  • Takut (0.0%)
  • Marah (0.0%)
  • Sedih (0.0%)

Comments

comments