KKP Kembali Hidupkan Kejayaan Udang Windu

935
udang windu

KKPNews, Jakarta – Kementerian Kelautan dan Perikanan melalui Direktur Jenderal Perikanan Budidaya konsisten untuk mempertahankan pengembangan udang windu di Indonesia. Balai Besar Perikanan Budidaya Air Payau (BBPBAP) Jepara ditunjuk sebagai broodstock center yang bertanggung jawab dalam mempertahankan eksistensi udang windu dalam bisnis budidaya udang nasional.

“Pasca kegagalan udang windu akibat wabah white spot pada beberapa dekade yang lalu, memang pamor udang jenis ini kian meredup.  Oleh karenanya, kita bangun broodstock center udang windu untuk memproduksi induk berkualitas dan bebas virus, dengan begitu akan mengembalikan kejayaannya. Kami akan terus focus pada pengembangan udang ini, beberapa daerah terutama di Kalimantan dan Aceh bahkan secara khusus kita siapkan untuk pengembangan udang windu ini”, ungkap Slamet pada Selasa 22 Mei lalu.

Melalui perekayasaan, pihak BBPBAP telah melakukan pemuliaan induk udang windu, dimana hingga saat ini telah menghasilkan induk udang windu generasi ke-9 (G-9.) dan generasi ke-1 (G-1) dengan jumlah 400 ekor dan 3.000 ekor. Menurut Sugeng, dengan ketersediaan induk tersebut, pihaknya mampu memproduksi benur hingga mencapai 4,8 juta ekor dari induk G-9 dan 36 juta ekor dari induk G-1.

“Permintaan benur udang windu menunjukkan kenaikan cukup signifikan, dan produksi kami akan mensuplai kebutuhan benur di seluruh Indonesia terutama wilayah Jawa dan kalimantan”, kata Sugeng.

Sementara itu, BBPBAP Jepara juga telah melakukan  kegiatan restocking udang windu sebanyak 200 ribu ekor di Perairan Wedung, Kec. Kedung, Jepara. Ini dilatarbelakangi oleh fakta bahwa saat ini masyarakat cenderung sulit untuk mendapatkan udang windu di alam, apalagi untuk kebutuhan Induk.

“Upaya restocking ini menjadi bagian tanggunjawab KKP untuk tetap menjaga kelestarian stock udang windu di alam, mengingat windu merupakan udang asli Indonesia. Kita harus pertahankan plasma nuftah kita. Disamping itu, sebagai bentuk peran serta KKP dalam mengimplementasikan Indonesian Biodiversity Strategy and Action Plan (IBSAP) tahun 2015-2020 yang telah ditetapkan Bappenas ”, pungkas Slamet. (MD)

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?
  • Senang (88.9%)
  • Terinspirasi (11.1%)
  • Terhibur (0.0%)
  • Tidak Peduli (0.0%)
  • Terganggu (0.0%)
  • Takut (0.0%)
  • Marah (0.0%)
  • Sedih (0.0%)

Comments

comments