KKP Kembali Gulirkan Program Rehabilitasi Saluran Tambak Rakyat

337
Direktur Jenderal Perikanan Budidaya, Slamet Soebjakto. Dok. Humas DJPB

KKPNews, Jakarta – Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) kembali menggulirkan program rehabilitasi saluran tambak rakyat atau biasa disebut Pengelolaan Irigasi Tambak Partisipatif (PITAP) dalam rangka meningkatkan fungsi jaringan saluran irigasi tambak milik pembudidaya yang mengalami penurunan. Ada 10 paket di 10 kabupaten di 10 provinsi menjadi sasaran program tahun 2019 ini. Sedang pada tahun 2018, yakni 8 kabupaten/kota di 7 provinsi dengan jumlah 16 paket. Dalam 1 paket panjang saluran tambak yang direhabilitasi sekitar 3,5 kilometer yang mampu mengairi tambak kurang lebih 70 ha.

“Program yang dimulai sejak tahun 2013 hingga 2019 ini melibatkan peran masyarakat atau Kelompok Penggelola Irigasi Perikanan (Poklina) melalui kegiatan swakelola dan prinsip padat karya. Dengan konsep ini, diharapkan ada peran serta secara langsung serta partisipasi dari masyarakat,” ujar Direktur Jenderal Perikanan Budidaya, Slamet Soebjakto, saat acara pembahasan dokumen dan penandatangan kontrak PITAP tahun anggaran 2019, di Jakarta, Kamis (27/6).

“Kegiatan PITAP selain untuk merehabilitasi saluran irigasi tambak juga sangat bermanfaat bagi Poklina dalam memperkuat kelembagaannya. Selain itu, Poklina berperan sebagai perwakilan dari pembudidaya ikan yang dapat ikut menjadi anggota komisi irigasi di tingkat kabupaten/kota dan menajdi wakil dari pembudidaya ikan dalam pemanfaatan air irigasi,” lanjut Slamet.

“Semua dukungan ini bermuara kepada ketersediaan air untuk kegiatan budidaya perikanan sehingga terjamin dan teratur setara dengan ketersediaan air untuk pertanian,” ujar Slamet.

Slamet meminta Poklina sebagai pelaksana PITAP agar bersungguh-sungguh dalam melakukan rehabilitasi saluran irigasi perikanan serta melakukan perawatan saluran setelah kegiatan PITAP selesai demi kepentingan bersama.

“Kita mengharapkan peran Dinas Kelautan dan Perikanan Kabupaten/Kota dalam memperkuat kelembagaan Poklina tersebut agar dapat duduk dalam komisi irigasi ditingkat kabupaten/kota,” ucap Slamet.

Selain itu, dinas diharapkan dapat membina, membimbing, dan mendorong pembudidaya ikan untuk membentuk kelembagaan dalam pengelolaan irigasi perikanan budidaya.

“Dukungan dan peran aktif dari semua stakeholder yang terlibat sangat penting dalam terlaksananya dan tercapainya tujuan dalam pengembangan dan rehabilitasi jaringan irigasi kawasan perikanan budidaya,” tambahnya.

Dukungan PITAP ini akan meningkatkan luas lahan tambak yang terfasilitasi sumber daya air yang baik, sehingga berdampak terhadap peningkatan produksi budidaya. Di samping itu, infrastruktur yang baik akan mempermudah aksesibilitas dan konektivitas dalam pengembangan perikanan budidaya. Untuk itu KKP telah melakukan penandatanganan kerja sama dengan Kementerian PUPR untuk mendukung rehabilitasi dan pengembangan saluran serta tambak rakyat 5 tahun ke depan.

Asri Ali, Ketua Poklina Beumerata Lestari, Kabupaten Pidie Aceh, yang juga penerima bantuan PITAP tahun 2015 dan 2016 menyampaikan bantuan ini sangat berdampak pada hasil produksi karena sekarang air bisa mengalir ke pertambakan sehingga hasil produksi meningkat sebesar 20 persen.

“Dulu saluran irigasi banyak yang dangkal dan tertutup, malah ada irigasi yang tidak bersih masih kotor. Jadi kalau hujan lebat pasti meluap, sangat berdampak bagi aktivitas petani dan petambak karena lahan akan tenggelam,” jelas Asri.

Hal yang sama disampaikan juga oleh Ketua Poklina Mitra Mina dari Kabupaten Lombok Tengah, Mariawi. Ia merasakan dampak yang signifikan dengan adanya bantuan PITAP. Masyarakat dengan swadaya merawat saluran irigasi bersama sehingga tumbuh nilai-nilai gotong royong, selain itu membantu perekonomian masyarakat.

“Kalau dulu teknologi yang kami terapkan masih manual, enggak pake kincir, jadi per 50 are hanya dapat 100 kg – 150 kg per siklus, dengan bantuan PITAP, irigasi menjadi lancar, teknologi kita tingkatkan dengan menambahkan kincir dan menggunakan terpal, jadi sekarang 50 are bisa 1 ton hasil produksinya,” ungkap Mariawi.

Untuk diketahui, sejak tahun 2013 hingga 2018, program pembangunan perbaikan saluran irigasi tambak rakyat yang telah dilakukan KKP melalui program PITAP sudah sepanjang 807 Km dengan luas lahan tambak 16.238,71 hektar dengan melibatkan 418 Poklina serta mampu menyerap tenaga kerja sebanyak 13.028 orang di seluruh Indonesia.

“Saya mengimbau agar masyarakat khususnya pembudidaya dapat bersama-sama menjaga lingkungan dengan tidak membuang sampah termasuk plastik ke saluran air maupun sungai,” tutup Slamet. (Humas DJPB)

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?
  • Terinspirasi (27.3%)
  • Senang (27.3%)
  • Tidak Peduli (18.2%)
  • Terganggu (9.1%)
  • Sedih (9.1%)
  • Takut (9.1%)
  • Terhibur (0.0%)
  • Marah (0.0%)

Comments

comments