KKP Hadiri ASEAN Regional Forum, Marine Debris for Sustainable Fisheries and Food Security in South East Asia

42
ASEAN Regional Forum, Marine Debris for Sustainable Fisheries and Food Security in South East Asia di Nha Trang, Vietnam, 12-15 Mei 2019. Dok. Humas DJPRL

KKPNews, Jakarta – Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) menghadiri acara ASEAN Regional Forum, Marine Debris for Sustainable Fisheries and Food Security in South East Asia di Nha Trang, Vietnam pada 12–15 Mei 2019. Acara tersebut diselenggarakan oleh Pemerintah Vietnam dan Thailand, serta didukung oleh United States Department of State, dan ASEAN Secretariat.

Dihadiri oleh 90 peserta yang merupakan perwakilan kementerian dan lembaga dari  berbagai negara maupun organisasi internasional. Beberapa di antaranya ialah negara-negara ASEAN, Asia Selatan, Asia Timur, Amerika Serikat, FAO, serta para ahli di bidang marine plastic debris, pengambil keputusan, inovator, NGOs dan dunia usaha. Secara lebih khusus, negara yang hadir meliputi: (i) Vietnam, (ii) Thailand, (iii) Indonesia; (iv) Filipina, (v) Myanmar, (vi) Amerika Serikat (AS), (vii) Australia, (viii) China, (ix) Srilangka, (x) India, (xi) Pakistan, (xi) Laos, (xii) Kamboja, (xv) Brunei, dan (xvi) Timor Leste. Selain itu, mewakili dunia usaha hadir pula wakil dari Tetra Pack dan Meridian.

Workshop diawali pada hari Minggu (12/5) malam yang difokuskan untuk membahas tiga aspek utama yang akan dibahas selama acara berlangsung. Pada hari Senin (13/5), workshop membahas permasalahan marine debris dan dampaknya terhadap ekosistem pesisir, ikan dan biota laut/ (ghost gear), serta dampaknya terhadap manusia. Selanjutnya, pada hari Selasa (14/5), para peserta membahas tentang pembelajaran inisiatif Vietnam, Thailand, Indonesia, dan China serta beberapa NGOs untuk mengatasi permasalahan marine debris. Sementara iut, pada hari terakhir penyelenggaran, Rabu (15/5), para peserta membahas berbagai langkah tindak lanjut yang akan dilakukan, terutama melalui kerjasama regional, untuk mengatasi marine debris.

Dalam rangkaian acara tersebut, Kasubdit Restorasi sebagai perwakilan dari Direktorat Jenderal Pengelolaan Ruang Laut (DJPRL) KKP  mempresentasikan inisiatif Indonesia dalam upaya mengatasi permasalahan marine debris. Mulai dari penerbitan Perpres 83/2018 mengenai kebijakan pemerintah Indonesia mengatasi sampah laut beseta perkembangannya; kegiatan GITA LAUT dan implementasinya; serta rencana Indonesia ke depan.

Presentasi tersebut mendapat tanggapan yang luas dari peserta karena Indonesia dinilai tanggap dengan telah memiliki kebijakan nasional dalam upaya mengatasi marine debris. Para peserta juga mengapresiasi upaya Indonesia dalam melakukan Gita Laut melalui Gerakan Bersih Pantai dan Laut (GBPL) dan pembinaan kelompok untuk mengumpulkan dan mengolah sampah menjadi jadi produk value chain plastik dan kompos.

Selain itu, framework yang disampaikan tersebut kemudian juga dibahas sebagai contoh dalam studi kasus yang dikembangkan oleh Tetra Pack, serta turut didukung oleh hasil penelitian dari Dr. Denisa dari Commonwealth Scientific and Industrial Research Organization (CSIRO) Australia. Berbagai kegiatan yang telah dilakukan Indonesia selama ini seperti kegiatan GITA LAUT dan Ghost Gear dilihat sebagai salah satu contoh berjalannya pelaksanaan kegiatan untuk menanggulangi permasalahan marine debris di Indonesia.

Hasil dari ASEAN Regional Forum Workshop ini menyepakati bahwa marine debris sudah menjadi permasalahan regional kawasan ASEAN maupun Asia Timur, termasuk China, Timor Leste, Australia dan New Zealand. Pasalnya, sampah plastik memakan waktu yang lama yakni 50-500 tahun untuk terurai dari makro plastik menjadi meso dan mikro plastik. Akibatnya, pecahan plastik tersebut serta jaring ikan dapat menutupi akar mangrove, polip terumbu karang, lamun, dan permukaan dasar laut. Selanjutnya, ikan kecil dan sedang maupun predator akan memakan plastik tersebut atau dapat terjerat jaring ikan nelayan sehingga menyebabkan kematian. Selain itu, peningkatan konsentrasi plastik dan racun yang menempel di plastik yang terurai juga dapat masuk ke dalam perut dan darah ikan. Tak berhenti sampai di situ, kondisi itu pun dapat menyebabkan akumulasi racun atau mikro plastik dalam tubuh manusia jika mengonsumsi ikan tersebut.

Sebagai informasi, data juga menunjukkan bahwa diperkirakan, sepertiga ikan dan biota laut lainnya mengalami kematian akibat terjerat atau kesulitan pencernaan dan pernapasan. (Humas DJPRL/ERB)

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?
  • Terinspirasi (100.0%)
  • Terhibur (0.0%)
  • Senang (0.0%)
  • Tidak Peduli (0.0%)
  • Terganggu (0.0%)
  • Takut (0.0%)
  • Marah (0.0%)
  • Sedih (0.0%)

Comments

comments