KKP Dorong Produksi Garam Rakyat Jadi Kualitas Industri

184

Jakarta, GATRAnews – Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) berupaya mendorong produksi garam nasional, terutama garam rakyat, menjadi kualitas industri, guna mencapai target swasembada garam nasional. “Kami ingin memperbaiki kualitas dulu karena jika ingin menambah luas lahan itu akan memerlukan waktu, sekarang dengan garam yang ada gimana caranya harus lebih bersih,” ujar Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti, di Jakarta, baru-baru ini.

Menteri Susi menegaskan, pihaknya akan mendorong produksi garam rakyat menjadi kualitas Industri seperti kimia, farmasi, dan untuk minuman bersoda. Ia juga akan duduk bersama Menteri Perdagangan dan Menteri Perinduristian untuk menentukan stimulus ini efektif dan tepat sasaran, menentukan bagaimana nasib petambak jika harga garam dibawah ongkos produksi, mereka tidak akan bisa bertahan.

Kemudian, ia juga akan mengganti geoisolator menjadi geomembrane dengan ukuran lebih lebar dan tebal sehingga lebih awet dan tidak mudah robek untuk menjaga kualitas garam yang lebih baik.

Menteri Susi menambahkan, saat ini pihaknya sedang mengumpulkan informasi sebanyak-banyaknya terkait kualitas garam produksi rakyat, sebab masih banyak pihak yang menyangsikan kualitas garam rakyat sebagai pembenaran impor garam untuk memenuhi kebutuhan industri. Serta ia juga akan mengambil sampel garam dari perusahaan yang menggunakan garam impor.

“Kami mau coba cek Standar Nasional Indonesia (SNI) juga di cek di laboratorium independen, hasil lab akan dijadikan dasar untuk duduk bersama kementerian terkait dan perusahaan,” ungkap Susi.

Uji laboratorium dilakukan oleh lembaga independen, untuk mengetahui kandungan natrium chloride (NaCl) garam rakyat. Ia mengambil tiga karung garam rakyat, dengan berat tiap karung 50 ton. Tiga karung tersebut diantaranya: satu karung sampel garam yang diambil merupakan garam dengan teknik non-geoisolator, satu karung merupakan sampel garam dengan teknik geoisolator 13 hari, dan satu karung lagi merupakan garam degan teknik geoisolator 14 hari.

Sampel garam berasal dari dua desa di Kabupaten Pamekasan, non-geoisolator diambil dari Desa Lembang, sedangkan sampel garam geoisolator diambil dari Desa Manjungan. Pengambilan sampel itu sendiri dilakukan oleh komisi yang terdiri dari Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Provinsi Jawa Timur, PT Garam (Persero), Asosiasi/Koperasi petambak garam, HMPG Jawa Timur, beserta petugas Polsek setempat.

Menteri Susi mengungkapkan harus ada pembatasan impor agar garam lokal tidak jatuh, dan perusahaan tidak boleh impor ketika sedang musim panen. Hal ini dikarenakan petambak tidak memiliki dana untuk menyimpan stok garam dalam jangka waktu lama, dan Ia berharap PT Garam dapat menampung garam petambak agar kualitas dapat tetap terjaga.

Kebutuhan garam industri saat ini kurang lebih sebesar 1,166 juta ton pertahun, dengan begitu ia menyakini bahwa tidak perlu perlu izin impor garam diberikan sebanyak 2 juta ton per tahun.

Negara harus hadir dengan goodwill untuk memperbaiki tata niaga, dengan tata niaga yang benar, harga garam petambak akan sesuai dengan harga yang disarankan pemerintah. Karena harga di distributor jauh lebih tinggi daripada harga di petambak. “Kita punya kepedulian dan keinginan untuk memperbaiki nasib para petambak dan untuk menjaga profesi petambak garam,” pungkasnya.

Reporter: Didi Kurniawan
Editor: Tian Arief

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?
  • Terhibur (0.0%)
  • Terinspirasi (0.0%)
  • Senang (0.0%)
  • Tidak Peduli (0.0%)
  • Terganggu (0.0%)
  • Takut (0.0%)
  • Marah (0.0%)
  • Sedih (0.0%)

Comments

comments