KKP Bersama FAO Berhasil Kembangkan Pakan Ikan Berbahan Baku Bungkil Kelapa Sawit

121
Dok. Humas DJPB

KKPNews, Banyuasin – Bungkil kelapa sawit atau dikenal dengan Palm Karnel Meal (PKM) merupakan produk sampingan pembuatan minyak kepala sawit yang tersedia sepanjang tahun di Provinsi Sumatera Selatan berpotensi sebagai bahan baku pakan ikan.

Untuk itu, Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) melalui Ditjen Perikanan Budidaya bersama Food and Agriculture Organization (FAO) mengembangkan pakan ikan patin berbahan baku PKM di Sumatera Selatan melalui proyek “Supporting Local Feed Self-Sufficiency for Inland Aquaculture Development in Indonesia”.

Bertepatan dengan Hari Pangan Sedunia (World Food Day), Rabu (16/10), KKP melakukan panen perdana kolam percontohan pakan ikan mandiri di Kelompok Pembudidaya Ikan (Pokdakan) Jarwo di Desa Sungai Regit, Kec.Talang Kelapa, Kab. Banyuasin, Sumatera Selatan.

Dalam keterangannya di Jakarta, Direktur Jenderal Perikanan Budidaya KKP, Slamet Soebjakto sangat mengaspresiasi proyek pakan mandiri ini. “Kalau Palm Karnel Meal atau disingkat PKM ini sudah berhasil dikembangkan, kita dapat mengurangi penggunaan tepung ikan yang selama ini sebagian besar kebutuhannya memang masih dari impor”. Apalagi Indonesia merupakan penghasil PKM terbesar kedua setelah Malaysia,” kata Slamet.

Lanjutnya, sejak tahun 2019 ini, KKP bersama FAO memang sedang mengembangkan pakan ikan mandiri berbahan baku lokal yaitu PKM sawit melalui uji coba pakan untuk membandingkan efektivitas dan efisiensi dari formula pakan yang direkomendasikan FAO dengan pakan yang biasanya digunakan oleh pembudidaya patin. Uji coba ini melibatkan 6 kelompok pembuat pakan ikan yang berlokasi di Kabupaten Banyuasin dan Kota Palembang.

“Kerjasama ini bertujuan untuk meningkatkan produksi pakan ikan khususnya patin yang berkualitas tinggi dan hemat biaya yang mampu diproduksi oleh produsen pakan skala kecil di Indonesia. Apalagi, pakan mandiri sebagian besar sekitar 80% memang digunakan untuk pakan ikan patin,” ujarnya.

Lalu kata Slamet, tujuan lainnya adalah meningkatkan produksi ikan air tawar secara signifikan dengan cara pengelolaan pakan yang lebih efektif dan efisien dengan pengurangan ketergantungan pada bahan pakan impor. Selain itu juga menciptakan kesempatan kerja alternatif sektor perikanan budidaya untuk meningkatkan pendapatan bagi penduduk perdesaan.

“Pakan mandiri saat ini semakin diminati dan menjadi andalan pembudidaya ikan skala kecil, karena terbukti memberi nilai tambah keuntungan, mampu menekan 30-50% dari biaya produksi. Selain itu, kualitas pakan mandiri mampu bersaing dengan pakan pabrikan”, tutur Slamet.

Slamet berharap produk PKM agar tidak semuanya untuk diekspor, mengingat PKM ini merupakan bahan baku kaya protein yang dapat menjadi sumber bahan baku pakan ikan, sehingga masyarakat pembuatan pakan ataupun para pembudidaya juga dapat meningkatkan keuntungan usahanya.

“Saya rasa pemanfaatan PKM ini bisa menjadi CSR (tanggung jawab sosial) perusahaan kepada kelompok pakan mandiri yaitu dalam bentuk dukungan pemenuhan kebutuhan PKM bagi bahan baku pakan secara kontinu,” Slamet menyakinkan.

“Indonesia ini kaya akan bahan baku pakan karena merupakan negara tropis dimana biota mudah sekali tumbuh, baik dari tumbuh tumbuhan maupun hewan serta limbahnya yang sangat potensi sebagai bahan baku pakan,” tutup Slamet.

Untuk diketahui, pemanfaatan tumbuhan sebagai pengganti tepung ikan juga telah dilakukan oleh salah kelompok pakan mandiri di Lampung dengan mengembangkan tanaman legum atau dikenal dengan indigofera. Beberapa referensi menyebutkan, Indigofera mengandung protein sebesar 23 – 26%, selain itu kaya serat dan kalsium.

Ketua Kelompok Pembudidaya Ikan (pokdakan) Jarwo yaitu Wagiman, mengakui dengan penggunaan pakan mandiri formulasi FAO, pertumbuhan ikan patin yang dipeliharanya lebih baik dibandingkan dengan penggunaan pakan yang mereka produksi.

“Kalau dengan pakan yang kami produksi kandungan proteinnya hanya 18% kemudian ikan patin yang dipelihara 6 bulan hanya mencapai ukuran 400 – 500 gr per ekor (1 kg isi 3 ekor), sedangkan dengan pakan formulasi FAO, proteinnya bisa mencapai 28% dan berat panennya bisa > 600 gr per ekor,” ujar Wagiman saat dimintai keterangan di sela-sela panen ikan.

Menurut Wagiman memang selama ini kelompoknya, memproduksi pakan ikan tanpa proses penepungan terlebih dahulu, sehingga kemungkinan nutrisi dalam bahan baku tidak tercampur sempurna. Sedangkan untuk memproduksi pakan formulasi FAO, semua bahan baku harus masuk tahap penepungan baru kemudian dicampur bersamaan dalam mixer.

“Sebelum proyek ini, kami tidak memanfaatkan bungkil kepala sawit ini yang ternyata berpotensi menjadi bahan baku pakan ikan karena kandungan proteinnya yang cukup tinggi berkisar 18 – 20%,” sambung Wagiman.

Komposisi pakan FAO sendiri terdiri dari silase ikan (7,5%); kepala udang (10%); ikan asin (34%); poles (22,5%); bungkil sawit (21,6%); kanji/sagu (4%); premix (0,25%); multi-enzyme (0,1%) dan phytase (0,05%). Selain itu, FAO juga memberikan bantuan berupa mesin pencampur dan mesin penepung.

Pada kesempatan yang sama, Kepala Perwakilan FAO Indonesia, Stephen Rudgard menyampaikan dukungannya bagi Indonesia dalam mencapai kemandirian pakan ikan, sehingga keberhasilan pengembangan pakan mandiri di Indonesia dapat menjadi rujukan tersendiri di level Asia Pasifik terlebih saat ini Indonesia menjadi negara pertama di dunia yang memberikan perhatian terhadap kemandirian pakan ikan yang dilaksanakan masyarakat.

Stephen juga sangat mengaspresiasi pemanfaatan bungkil kelapa sawit untuk bahan baku pakan ikan patin.

Ia berharap kerjasama ini dapat mendorong kesuksesan gerakan pakan ikan mandiri (Gerpari) yang telah dilakukan oleh pemerintah sejak tahun 2015.

“Kegiatan pakan mandiri sangat tepat dengan semangat dunia untuk meningkatkan ketahanan pangan, mengurangi kelaparan dengan penyediaan pangan yang sehat, yang sesuai dengan tema hari pangan sedunia hari ini yaitu ‘our actions are our future, healthy diets for a zero hunger world.’ Melalui pakan ikan mandiri maka kita mampu menyediakan kebutuhan protein yang sehat yaitu ikan dengan harga yang lebih murah sehingga akan membantu penanganan kelaparan serta mengurangi malnutrisi di masyarakat,” ujar Stephen.

Pada kegiatan tersebut, KKP juga memberikan bantuan kepada masyarakat Kabupaten Banyuasin berupa 1 paket mesin pakan ikan mandiri dan bahan baku pakan kepada Kelompok Lele Organik, 1 unit eksavator kepada Koperasi Sumber Bahari, 300 ribu benih ikan lele dan patin dan 30 ton pakan ikan kepada Kelompok Family Farm, bantuan 721 ekor calon induk kepada Kelompok Ranggon Jaya Bersama serta 5 paket budidaya bioflok. Total bantuan senilai kurang lebih 2,6 millar rupiah.

Sedangkan bantuan dari FAO berupa 17 unit mesin mixer pakan dan 5 unit mesin penepung (hammer mill). (Humas DJPB)

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?
  • Senang (100.0%)
  • Terhibur (0.0%)
  • Terinspirasi (0.0%)
  • Tidak Peduli (0.0%)
  • Terganggu (0.0%)
  • Takut (0.0%)
  • Marah (0.0%)
  • Sedih (0.0%)

Comments

comments