Keberhasilan Budidaya Cacing Sutera Dorong Produksi Benih Ikan Nasional

193
Cacing sutera (Tubifex sp) yang tengah giat dibudidayakan di berbagai daerah di Indonesia. Dok. Humas DJPB

KKPNews, Jakarta – Direktur Jenderal Perikanan Budidaya Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP), Slamet Soebjakto, saat dimintai keterangannya di Jakarta, Selasa (23/4) menjelaskan bahwa salah satu pakan alami yang penting dalam kegiatan budidaya ikan air tawar khususnya pada fase pembenihan adalah cacing sutera. Oleh karena itu, saat ini pengembangan budidaya cacing jenis ini terus digalakkan di berbagai daerah di Indonesia.

Cacing sutera bernama latin Tubifex sp atau sering disebut cacing rambut merupakan cacing berkoloni yang masuk dalam kelas jenis Oligochaeta berukuran 2 – 4 cm yang hidup di perairan jernih dan kaya bahan organik.

Slamet menuturkan bahwa cacing sutera mengandung protein berkisar 57 – 60% dan lemak 13 – 20%, karena nilai gizi yang tinggi ini membuatnya sangat diminati pembudidaya guna mencukupi kebutuhan nutrisi bagi pertumbuhan benih ikan.

Selain itu, cacing sutera juga mengandung vitamin B12, mineral, asam amino serta asam lemak tak jenuh. Cacing ini juga mudah dicerna dalam tubuh ikan karena tanpa tulang kerangka serta sesuai dengan bukaan mulut larva.

“Budidaya cacing sutera bahkan sudah menjadi salah satu peluang ekonomi bagi masyarakat. Keuntungan dari budidaya cacing sutera tidak memerlukan luasan lahan yang besar, cukup dengan memanfaatkan pekarangan rumah dan selain itu tidak membutuhkan waktu yang lama sehingga waktu pengembalian investasinya pun lebih singkat dan perputaran uangnya juga cenderung lebih cepat”, ujar Slamet.

Slamet menjelaskan bahwa KKP terus berupaya agar teknik budidaya cacing sutera ini dapat dikuasai oleh pembudidaya khususnya di luar Pulau Jawa. Hal ini untuk mengatasi kelangkaan pakan alami bagi benih ikan sehingga benih ikan air tawar tidak semata-mata menggantungkan dari Pulau Jawa.

Selain itu, Slamet mengatakan ada banyak metode budidaya cacing sutera yang bisa dilakukan pembudidaya, mulai dari metode kolam plastik terpal, nampan bertingkat, bak semen, hingga kolam tanah yang bisa dilakukan di luar ruangan (outdoor) maupun di dalam ruangan (indoor).

“Dengan adanya penguasaan teknologi budidaya cacing sutera saat ini maka dapat menjamin ketersediaan pakan alami secara terus-menerus dan kontinu sehingga problem utama pembenihan ikan air tawar, yaitu ketersediaan pakan alami, sudah terpecahkan”, ungkapnya.

Dari hasil penelitian, diketahui bahwa pemberian pakan cacing sutera dapat meningkatkan laju kesintasan(survival rate) serta pertumbuhan ikan, baik pada fase larva maupun saat pembesaran.

“Tahun 2019, kita targetkan produksi benih sebanyak 2,3 milyar ekor yang nantinya untuk mendukung peningkatan produksi budidaya. 213,9 juta ekor di antaranya akan diberikan untuk program bantuan benih di 34 provinsi di Indonesia, sehingga kebutuhan cacing sutera untuk produksi benih tersebut harus terpenuhi”, tutur Slamet.

Ia melanjutkan, dengan target kebutuhan benih tersebut maka akan terbuka pula pasar cacing sutera sehingga peluang usaha yang tercipta sangat besar.

“Jika budidaya cacing sutera ini dijadikan usaha sampingan bagi pembudidaya ikan akan menguntungkan secara ekonomi karena cacing sutera dapat dijual, sehingga dapat meningkatan pendapatan mereka”, tutup Slamet.

Tahapan Budidaya Cacing Sutera

Saat ini, KKP melalui Direktorat Jenderal Perikanan Budidaya telah berhasil berinovasi mengembangkan budidaya cacing sutera secara massal. Selain itu, inovasi tersebut telah didesiminasikan kepada masyarakat pembudidaya ikan di seluruh Indonesia melalui Unit Pelaksana Teknis (UPT) Balai Perikanan Budidaya Air Tawar yaitu di Sukabumi, Jambi, Tatelu dan Mandiangin.

Pembudidaya cacing sutera di Bogor yang juga Ketua Kelompok Pembudidaya Ikan Pintu Air, Umar Hasan, saat dimintai informasinya menyebutkan tahapan budidaya cacing sutera cukup sederhana, terdiri dari persiapan wadah dan media, kemudian penebaran benih, pemberian pakan hingga pemanenan biomassa.

Umar melakukan budidaya cacing sutera dengan metode wadah nampan (tray) sebanyak 96 buah, dibuat rak tersusun secara vertikal.

Lanjutnya, pada wadah tersebut dipasang pelindung berupa paranet atau plastik UV yang berfungsi menjaga kestabilan suhu, masuknya air hujan serta menjaga agar partikel lainnya (sampah atau kotoran) tidak masuk ke dalam media.

Kemudian, pemupukan dasar media dapat dilakukan dengan 2 (dua) cara yaitu (pemumpukan dengan cara langsung dilakukan dengan mencampur kotoran hewan (ayam, kambing atau sapi) sebanyak 100 – 250 gr/m2 dan dedak 200 – 250 gr/m2, sedangkan pemupukan dengan cara fermentasi diberi tambahan probiotik 100 ml/m2 dan molase sebanyak 10% dari jumlah bahan pemupukan.

“Setelah itu, media didiamkan selama 3 – 4 hari dan dilanjutkan dengan penebaran benih cacing sutera dengan kepadatan 1 liter per meter persegi”, jelas Umar.

Kegiatan pemberian pakan perlu dilakukan sebagai asupan makanan untuk pertumbuhan cacing sutera dengan cara menaburkan pakan secara langsung seperti dedak, sayuran yang telah dimasak atau sisa olahan dapur.

“Setelah masa budidaya selama 2 minggu, cacing sutera dapat dipanen dengan menggunakan serok dengan bahan yang halus atau lembut”, tuturnya.

Umar menambahkan untuk biaya investasi dengan metode ini, ia memerlukan biaya Rp. 4,5 juta yang digunakan untuk pembuatan rak kayu dan terpal untuk kolam penampung air, serta pembuatan media budidaya. Prasarana budidaya ini mampu bertahan selama 2,5 (dua) tahun, dengan penyusutan Rp. 150 ribu per bulan. Sedangkan biaya operasional sebesar Rp. 200 ribu untuk benih dan pakan per dua minggu atau Rp. 400 ribu per bulan.

Dengan modal  Rp. 550 ribu  dalam periode 1 (satu) bulan, Ia dapat memanen 96 liter cacing sutera, jika harganya Rp. 15 ribu per liter maka penghasilan sebesar Rp. 1,4 juta per bulan.

Maka keuntungan per bulan mencapai Rp. 850 ribu dengan nilai R/C ratio (Revenue per cost ratio) sebesar 2 artinya usaha sangat menguntungkan.

“Semakin banyak nampan yang digunakan semakin banyak cacing sutera yang diproduksi, keuntungannya pun bisa semakin meningkat”, ungkapnya.

Budidaya cacing sutera yang dilakukan Umar dengan metode ini tidak membutuhkan lahan yang luas karena mediannya disusun ke atas secara vertikal yang cenderung bisa dilakukan juga dilahan yang sempit seperti perkarangan rumah.

Potensi cacing sutera sebagai pakan alami yang meliputi kandungan nutrisi tinggi, mudah dan murah untuk dibudidayakan di lahan yang berbatas serta masa reproduksi yang terbilang cepat menjadikannya primadona usaha bagi pembudidaya ikan yang dapat mendukung peningkatan kualitas dan kuantitas benih ikan air tawar di Indonesia.  (Humas DJPB)

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?
  • Terinspirasi (100.0%)
  • Terhibur (0.0%)
  • Senang (0.0%)
  • Tidak Peduli (0.0%)
  • Terganggu (0.0%)
  • Takut (0.0%)
  • Marah (0.0%)
  • Sedih (0.0%)

Comments

comments