Kapal Asing Keliaran dan Curi Ikan di NTT

397
by google,com
KUPANG, TIMEX- Dugaan kuat sejumlah kapal asing melakukan pencurian ikan pada rumpon nelayan NTT di sekitar perairan laut Sawu perlahan mulai terbukti. Bahkan para nelayan NTT sempat adu mulut dengan beberapa kapal yang diduga milik asing itu ditengah laut, karena kapal-kapal asing itu hendak mencuri ikan pada rumpon yang mereka tanam selama ini.
“Kami sempat adu mulut dengan kapal asing yang hendak ambil ikan yang ada pada rumpon kami. Kejadian itu saat kami hendak mengambil ikan di rumpon kami, ternyata disana sudah ada 2 kapal asing yang sementara mau lingkar/ambil ikan pada rumpon kami, jadi kami sempat adu mulut,”kata Kapten Kapal Motor SLW, Gavar kepada wartawan di pelabuhan perikanan Tenau, Sabtu (17/10) siang.
Menurutnya, rumpon itu sudah lama mereka buat, namun ketika beberapa hari lalu mereka hendak pergi mengambil ikan, ternyata sudah ada 2 kapal asing yang mendahului mereka disitu. “Diatas kapal asing itu ada orang Indonesia dan ada orang asing dari Filipina, saat itu kita sempat kejar-kejaran dengan kapal dan mereka mau tabrak kita pake kapal mereka, karena kapal kami kecil, namun kami bersikeras jadi akhirnya mereka pulang,”katanya.
Sementara perwakilan nelayan, Wam Nurdin mengatakan, nelayan NTT menolak kehadiran kapal jaring besar yang datang menjaring ikan di NTT apalagi di laut Sawu yang oleh pemerintah telah menetapkan kawasan itu menjadi zona konservasi. “Kami menolak kehadiran kapal jaring yang melakukan penangkapan ikan di NTT apalagi di laut Sawu yang menjadi rumahnya ikan yang dijaga oleh kita nelayan NTT, sementara nelayan asing seenaknya ambil ikan disitu pake jaring besar, dan jaring itu, kutu air pun mereka bawa, lalu bagaimana ikan mau berkembang,”ujar Wam diamini Jois dan sejumlah nelayan lainnya.
Tangkapan kapal jaring itu katanya, bisa sampai ratusan ton, jika saja setiap bulannya mereka menangkap ikan dua kali maka habis ikan di Laut Sawu, lalu bagaimana dengan nasib nelayan NTT. “Seringkali kita ketemu dan protes mereka, tapi mereka bilang ada ijin tangkap dari Pemerintah Pusat, tapi kita nelayan NTT minta kebijakan lokal, karena mereka menangkap gunakan jaring raksasa, sementara kita tidak diperkenankan pakai jaring raksasa,”kesalnya.
Menurutnya, selama ini nelayan NTT sudah berusaha setiap kali mendapati nelayan asing mencuri ikan di laut Sawu menggunakan jaring raksasa ke pemerintah dan aparat keamanan. Namun tak satupun informasi mereka digubris, karenanya mereka berharap melalui media, mata dan telinga pemerintah bisa melihat dan mendengar keluhan nelayan NTT.
“Seperti kejadian kemarin itu, nelayan kita yang punya rumpon didatangi oleh nelayan asing dan hendak curi ikan situ. Bahkan ada pertengkaran, hanya beruntung tidak ada kontak fisik, kapal besar ancam tabrak nelayan kita. Dan teman-teman wartawan liat sendiri video rekaman yang sempat kami rekam ini,”katanya sambil menunjukkan video rekaman pertengkaran nelayan NTT dengan nelayan asing itu.
Bahkan katanya, pernah terjadi kejadian beberapa bulan kemarin, ada kapal cakalang asing yang menembak kapal nelayan lokal dan menyebabkan kerusakan pada kapal nelayan lokal. Hal ini pun tak digubris oleh pemerintah dan aparat ketika mereka menginformasikan kejadian tersebut.
“Entah karena tidak ada sarana prasarana pendukung atau bagaimana, sehingga pemerintah tak gubris. Kami nelayan minta armada untuk pengawasan lebih besar dan dilengkapi peralatan yang modern, supaya bisa membantu kami dalam melakukan pengawasan terhadap nelayan asing yang sering mencuri ikan di wilayah NTT,”harapnya.
Sementara Kabid Humas Polda NTT, AKBP Jules Abast yang dikonfirmasi via ponselnya malam tadi, mengatakan, pihaknya melalui Direktorat Polair NTT hingga saat ini belum mengetahui keberadaan kapal asing yang mencuri ikan di perairan NTT. “Saya sudah tanyakan langsung kepada pak Direktur Polair Polda NTT, Kombes Pol Teddy J.S. Marbun, dan beliau mengatakan belum mengetahui hal tersebut. Memang kewenangan menangkap pelaku illegal fishing tidak saja pada Polair, tapi juga pada Dinas Kelautan dan Perikanan, TNI AL dan Bakorkamla,”jelas mantan Kapolres Manggarai Barat itu. (kr-8/joo/boy)
Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?
  • Terhibur (0.0%)
  • Terinspirasi (0.0%)
  • Senang (0.0%)
  • Tidak Peduli (0.0%)
  • Terganggu (0.0%)
  • Takut (0.0%)
  • Marah (0.0%)
  • Sedih (0.0%)

Comments

comments