IPF 2019: Hadirkan Nuansa Sulut dan Bunaken, Tawarkan Keindahan Mutiara Laut Selatan

21
Dok. Humas KKP

KKPNews, Jakarta – Penyelenggaraan Indonesia Pearl Festival (IPF) ke-8 resmi dibuka. Kamis (21/11), IPF dengan tema “The Marvelous Indonesian South Sea Pearl” diresmikan oleh Sekretaris Jenderal Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) Nilanto Perbowo mewakili Menteri Kelautan dan Perikanan Edhy Prabowo di Lippo Mall Kemang, Jakarta Selatan.

Turut hadir dalam kesempatan tersebut Direktur Jenderal Penguatan Daya Saing Produk Kelautan dan Perikanan (PDSPKP) Agus Suherman, Inspektur Jenderal KKP Muhammad Yusuf, Staf Ahli Menteri Kelautan dan Perikanan Suseno Sukoyono, mewakili Gubernur Sulawesi Utara (Sulut) Istri Gubernur Sulut Rita Tamuntuan, Ketua Dharma Wanita Persatuan (DWP) KKP Muttiah R.S. Nilanto, Ketua Asosiasi Budidaya Mutiara Indonesia (Asbumi) Anthony Tanios , dan Anggota Asbumi Ratna Zhury Mahyuddin, serta Plt. Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Daerah Provinsi Sulut Tienneke Adam.

Sebagaimana diketahui, IPF yang akan digelar pada 21-24 November 2019 ini merupakan kerja sama KKP melalui Ditjen PDSPKP dengan DWP KKP, Asbumi, dan Pemerintah Provinsi Sulut. Dalam gelaran IPF 2019 ini, dihadirkan nuansa Provinsi Sulut dan Bunaken sebagai salah satu wilayah potensi budidaya mutiara.

IPF kali ini mengusung pesona mutiara laut selatan Indonesia (Indonesian South Sea Pearl) dari tiram Pinctada maxima hasil alam maupun hasil budidaya. Budidaya mutiara laut selatan ini tersebar di berbagai wilayah Indonesia di antaranya Bali, Nusa Tenggara Barat, Nusa Tengara Timur, Sulawesi Utara, Sulawesi Tenggara, Sulawesi Tengah, Maluku, Maluku Utara, Papua, dan Sumatera Barat.

Gelaran IPF kali ini diikuti oleh 32 booth yang terdiri dari 21 booth pelaku usaha budidaya dan perhiasan, 1 booth Provinsi Sulut, 3 booth sponsor, dan 3 booth penunjang. IPF ini diharapkan dapat menarik retailers maupun pengguna dan pecinta mutiara yang datang dari dalam dan luar negeri.

Dalam sambutannya, Sekretaris Jenderal KKP Nilanto Perbowo mengatakan, mutiara merupakan salah satu komoditas unggulan dari sektor kelautan dan perikanan yang bernilai ekonomi tinggi dan memiliki prospek pengembangan usaha di masa mendatang. “Hal ini dapat dilihat dari peningkatan permintaan perhiasan dari mutiara dan harganya yang terus mengalami peningkatan dari tahun ke tahun,” ujarnya.

Nilanto menjelaskan, saat ini pasar mutiara dunia didominasi oleh empat jenis mutiara yaitu mutiara laut selatan (south sea pearl), mutiara akoya (akoya pearl), mutiara hitam (black pearl), dan mutiara air tawar (fresh water pearl). Namun dari keempat jenis tersebut, mutiara laut selatan dinilai unggul.

Mutiara laut selatan memiliki ukuran paling besar dibandingkan jenis mutiara lainnya yaitu antara 9-17 mm. Ia memiliki warna kilau keperakan (silver) dan keemasan (gold) sehingga sangat digemari di pasar luar negeri. Permukaan nacre memancarkan warna biru, silver, dan merah jika terkena cahaya. Tak heran dengan segala keunggulannya tersebut, mutiara jenis ini dibanderol dengan harga yang lebih tinggi yaitu sekitar USD16-18 per gram. “Satu kalung untai bahkan bisa bernilai seharga USD3.000 – 6000,” jelas Nilanto.

Menurut Pearls Oyster Information Bulletin (2011), produksi mutiara laut selatan dunia mencapai 11 – 12 ton. Adapun Indonesia merupakan produsen terbesar dengan kontribusi sekitar 50% atau sekitar 5 – 6 ton, diikuti oleh Australia, Filipina, dan Myanmar.

Berdasarkan data BPS (2019), nilai ekspor mutiara Indonesia pada tahun 2018 mencapai USD42,27 juta dengan negara utama tujuan ekspor Hong Kong, Australia, Jepang, dan China.

Namun demikian, berdasarkan nilai perdagangan mutiara dunia, Indonesia hanya menempati urutan kelima dunia, di bawah Hong Kong, Jepang, French Polynesia/Tahiti, dan China.

Menurut Nilanto, usaha budidaya mutiara di Indonesia tidak hanya memberikan manfaat langsung kepada pelaku usaha budidaya, tetapi juga bagi pelaku usaha kreatif yang memanfaatkan sisa hasil usaha budidaya mutiara. Beberapa di antaranya aneka hiasan dengan memanfaatkan kulit tiram mutiara, kosmetik dari serbuk (powder) mutiara sisa hasil penggergajian kulit tiram mutiara, dan cat kendaraan dari sisa kulit tiram mutiara.

“Di beberapa sentra penghasil mutiara, tumbuh usaha kerajinan kulit tiram mutiara yang melibatkan tidak sedikit pelaku usaha skala UKM hingga skala besar,” ujar Nilanto.

Dalam rangka meningkatkan daya saing mutiara laut selatan Indonesia ini, pemerintah melalui KKP telah melakukan berbagai upaya, salah satunya memperkuat sarana dan prasarana broodstock center kekerangan di Karang Asem Bali. KKP juga menerapkan Standar Nasional Indonesia pada pendederan spat tiram mutiara, mutiara induk, dan mutiara spat, serta syarat mutu dan penanganan mutiara untuk meningkatkan standar mutiara Indonesia.

Di sisi regulasi, KKP juga melakukan pengendalian mutu mutiara yang masuk ke wilayah Indonesia melalui Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan (Permen KP) Nomor 8 Tahun 2013 sebagaimana telah diubah menjadi Permen KP Nomor 44 Tahun 2014.

“Kita juga telah melaksanakan pelatihan tentang mutu mutiara kepada petugas pengujian mutu mutiara di sentra-sentra produksi dan pintu masuk atau bandara,” imbuh Nilanto.

Terakhir, Nilanto menegaskan, mutiara memiliki potensi dan berkontribusi bagi pembangunan nasional dalam rangka meningkatkan pendapatan masyarakat dan menjadi pemasukan devisa bagi negara.

“Saya mengharapkan kegiatan ini juga dapat meningkatkan sinergitas antar-instansi dan pemangku kepentingan untuk bersama-sama mendorong citra Indonesia sebagai salah satu penghasil mutiara yang bermutu dan berdaya saing tinggi,” tutupnya.

Pada kesempatan yang sama, Direktur Jenderal PDSPKP Agus Suherman mengatakan, IPF ke-8 ini diselenggarakan guna mempromosikan dan mengenalkan mutiara Indonesia kepada masyarakat. Kegiatan ini diharapkan dapat jadi ajang promosi dan pemasaran untuk memperkuat brand mutiara laut selatan Indonesia.

“Kita berharap kegiatan ini dapat memperluas jaringan bisnis dan pemasaran mutiara laut selatan Indonesia baik melalui business to business (B2B) maupun business to consumer (B2C),” ucap Agus.

Ia menambahkan, melalui kegiatan ini KKP dan para pelaku usaha budidaya mutiara Indonesia diharapkan dapat memahami tren keinginan konsumen terhadap mutiara Indonesia dan produk ikutan lainnya.

Agus memaparkan, gelaran IPF beberapa hari ke depan akan diisi dengan berbagai kegiatan menarik, di antaranya peragaan busana dan perhiasan mutiara, pertunjukan panggung, talkshow terkait mutiara dan isu kelautan dan perikanan lainnya, dan story telling.

“Kami berharap, kegiatan ini dapat meningkatkan animo dan edukasi masyarakat terkait mutiara laut selatan Indonesia. Kami juga berharap dapat meningkatkan sinergitas antar-instansi serta pemangku kebijakan untuk bersama-sama mempromosikan mutiara Indonesia di pasar dunia,” tandasnya.

Sementara itu, Istri Gubernur Sulut Rita Tamuntuan yang hadir mewakili Gubernur Sulut menyampaikan apresiasi terhadap penyelenggara atas diangkatnya keunikan dan keindahan Bumi Nyiur Melambai Provinsi Sulut dalam pelaksanaan IPF ke-8 ini.

Rita menyebut, di samping menjadi kebanggaan tersendiri bagi Pemerintah Provinsi dan seluruh masyarakat Sulut, festival ini diharapkan dapat memberikan dampak positif terhadap pembangunan daerah di sektor kelautan dan perikanan. Selain itu juga mengangkat destinasi wisata di daerah-daerah Indonesia yang memiliki potensi areal budidaya kerang mutiara.

“Lebih dari itu, kami berharap kegiatan ini akan semakin memperkuat komitmen kita semua dalam berkarya bagi bangsa dan daerah tercinta untuk kemajuan dan kesejahteraan bersama,” imbuhnya.

Rita menambahkan, tak hanya untuk memperkuat branding mutiara laut selatan Indonesia, gelaran IPF ini juga menjadi ajang promosi destinasi-destinasi wisata yang memiliki potensi areal budidaya kerang mutiara di Indonesia. Ia berharap festival ini dapat mendatangkan lebih banyak lagi para pecinta mutiara dari luar negeri ke Indonesia.

Menurutnya, Sulut sendiri memiliki ± 15 potensi wilayah budidaya mutiara dan beberapa destinasi wisata yang memiliki potensi areal budidaya kerang mutiara, salah satunya Bunaken.

“Karena itulah, diangkatnya Provinsi Sulawesi Utara dalam pelaksanaan festival ini sangat kami respon positif. Kami berharap kegiatan ini mampu mengembangkan potensi-potensi wilayah budidaya mutiara di Sulawesi Utara. Bunaken sendiri kami harapkan tidak saja dikenal sebagai destinasi wisata dengan keindahan taman lautnya tetapi juga menjadi destinasi wisata yang turut memberikan sumbangsih terhadap eksistensi Indonesia sebagai penghasil mutiara laut selatan,” tukasnya. (AFN)

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?
  • Terhibur (0.0%)
  • Terinspirasi (0.0%)
  • Senang (0.0%)
  • Tidak Peduli (0.0%)
  • Terganggu (0.0%)
  • Takut (0.0%)
  • Marah (0.0%)
  • Sedih (0.0%)

Comments

comments