Indonesia Pertahankan Komitmen dalam Pengelolaan Sumber Daya Kelautan pada Wilayah Segitiga Karang

73
Dok. Humas DJPRL

KKPNews, Honiara – Pemerintah Indonesia menghadiri pertemuan tahunan Pre dan The 15th Senior Official Meeting (SOM) Coral Triangle Initiative on Coral Reefs, Fisheries and Food Security (CTI-CFF) yang diselenggarakan pada tanggal 4-8 November 2019 di  Honiara, Kepulauan Solomon. CTI-CFF merupakan kerjasama tingkat regional bersama 5 negara lainnya yaitu Filipina, Malaysia, Timor Leste, Papua Nugini, dan Kepulauan Solomon dalam upaya pengelolaan sumberdaya perikanan dan lautan yang berkelanjutan, perlindungan terumbu karang, dan ketahanan pangan

Direktur Konservasi dan Keanekaragaman Hayati Laut, Kementerian Kelautan dan Perikanan, Andi Rusandi yang juga merupakan Ketua Delegasi Indonesia menyatakan bahwa pertemuan ini merupakan momen strategis bagi Indonesia untuk menunjukan kepemimpinannya di tingkat regional dan global dalam pengelolaan sumber daya perikanan dan lautan.

“Sesuai visi dan nisi Presiden RI agar Indonesia menjadi Pusat Maritim Dunia, sudah saatnya Indonesia memberi dan menjadi contoh bagi negara lainnya di berbagai aspek untuk bidang Kelautan dan Perikanan” tambah Andi dalam keterangannya. Pada kerja sama CTI-CFF, Indonesia merupakan negara yang paling maju untuk pengelolaan sumber daya kelautannya baik untuk bidang konservasi, pengelolaan perikanan berkelanjutan, maupun perencanaan ruang lautnya.

Sampai saat ini, Indonesia telah menyelesaikan 30 aksi dari total 40 aksi yang telah ditargetkan pada National Plan of Action (NPOA), sedangkan 10 aksi lainnya masih on-going dan optimis pasti dapat selesai di tahun 2020 sebagaimana yang disampaikan oleh Direktur Jenderal Pengelolaan Ruang Laut, Brahmantya Satyamurti Poerwadi, yang juga merupakan anggota Committee of Senior Officials (CSO) CTI-CFF Indonesia.

Pada SOM kali ini terdapat beberapa bahasan utama diantaranya adalah pergantian kepemimpinan di Regional Secretariat yaitu untuk Executive Director dari Hendra Yusran Siry (Indonesia) ke Dr. Mohd. Khosairi Bin Mohd Rajuddin (Malaysia) dan pengangkatan Deputy Executive Director for Program Services, Gustaaf Lumiu (Indonesia); pembahasan Regional Plan of Action versi 2 pasca tahun 2020 (RPOA 2.0); dan rencana penyelenggaraan the 2nd Leaders Summit tahun 2020 yang akan mempertemukan kepala negara dari 6 negara anggota CTI-CFF.

Pada SOM-15 ini disepakati pembentukan Sub-Committee pada 3 Bentang Laut Prioritas yang keseluruhannya melingkupi wilayah Indonesia yaitu Sulu-Sulawesi Seascape (Indonesia, Malaysia, dan Filipina), Bismarck Solomon Seas Ecoregion (Indonesia, Papua Nugini, dan Kepulauan Solomon), dan Lesser Sunda Seascape (Indonesia dan Timor Leste). Indonesia juga telah menyatakan kesiapannya untuk mensponsori penyelenggaraan International Workshop on Marine Debris Elimination yang saat ini menjadi isu global melalui program Indonesian Aid.

Delegasi Indonesia pada SOM-15 kali ini terdiri dari unsur Kementerian Kelautan dan Perikanan, Kementerian Luar Negeri, Kementerian Koordinator bidang Kemaritiman dan Investasi, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Kementerian Dalam Negeri serta Mitra Pemerintah yang bergerak di bidang Kelautan dan Perikanan.

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?
  • Terhibur (0.0%)
  • Terinspirasi (0.0%)
  • Senang (0.0%)
  • Tidak Peduli (0.0%)
  • Terganggu (0.0%)
  • Takut (0.0%)
  • Marah (0.0%)
  • Sedih (0.0%)

Comments

comments