Indonesia Apresiasi Langkah Panama Buka Data Armada Penangkapan Ikan

104

KKPNews, Jakarta – Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti mengapresiasi langkah berani Panama mengikuti jejak Indonesia menuju transparansi pengelolaan perikanan dengan membuka data kapal penangkapan ikan mereka melalui platform peta Global Fishing Watch (GFW). Indonesia sebagai pelopor berada di garis depan upaya global untuk membawa transparansi yang lebih besar dalam sektor perikanan dan kelautan.

Vessel Monitoring System (VMS) adalah salah satu sistem pengawasan kapal perikanan yang dimiliki pemerintah saat ini, untuk memantau pergerakan dan aktivitas kapal perikanan berbasis satelit. Menurut Menteri Susi, semakin banyak negara membuka data VMS kapal perikanan, maka semakin solid perlawanan terhadap kegiatan IUU Fishing atau penangkapan ikan ilegal, tidak dilaporkan, dan tidak diatur di seluruh belahan dunia.

“Kita menyadari, saat ini modus illegal fishing semakin beragam. Untuk itulah dibutuhkan pengelolaan teknologi digital secara maksimal. Salah satunya melalui pembukaan VMS di Global Fishing Watch yang memungkinkan seluruh masyarakat ikut memantau dan mengawasi aktivitas penangkapan ikan,” tutur Menteri Susi.

Ia berharap langkah ini dapat meningkatkan rasa memiliki dan kepedulian masyarakat terhadap lautan, sehingga bersama-sama berada di garda terdepan menjaga kedaulatannya.

“Saya mengapresiasi langkah Panama. Saya berharap ke depannya semakin banyak negara yang sadar pentingnya pengelolaan kelautan dan perikanan yang transparan dan bertanggung jawab,” tandasnya.

Sebelumnya pada tanggal 20 Maret 2019, Panama telah menandatangani perjanjian formal untuk membuka data pelacakan kapal nasionalnya untuk umum melalui platform peta GFW. Langkah tersebut menunjukkan komitmennya terhadap peningkatan transparansi dalam kegiatan penangkapan ikan dan untuk mendorong keberlanjutan.

Nota Kesepahaman (MoU) ditandatangani antara Otoritas Sumberdaya Perairan Panama (ARAP) dan Global Fishing Watch, serta didukung pula oleh PACIFICO, sebuah platform koordinasi yang didirikan oleh empat dana lingkungan Amerika Tengah dan Selatan. Para pihak akan bekerja sama untuk menyediakan data pelacakan kapal penangkap ikan dan perikanan komersial Panama ke platform GFW.

“Panama adalah negara utama bagi kapal-kapal pengangkut. Dibukanya data pelacakan kapal ke platform GFW akan membantu upaya pemantauan dan pengendalian Panama, termasuk memerangi IUU Fishing. Langkah ini dipelopori Indonesia dua tahun lalu dan melalui kerjasama dengan KKP dan Satuan Tugas 115 telah membantu terbongkarnya beberapa kasus kegiatan perikanan ilegal,” kata Ahmad Baihaki, Manajer Program Indonesia, Global Fishing Watch.

Indonesia menjadi negara pertama yang menyediakan data pelacakan kapal melalui GFW pada tahun 2017, yang secara langsung menempatkan 5.000 kapal penangkap ikan yang tidak menggunakan AIS ke dalam peta GFW. GFW menggunakan data AIS yang tersedia secara publik untuk melacak sekitar 65.000 kapal penangkapan ikan industrial di seluruh dunia. Dengan menambahkan data VMS kita dapat membuat pandangan yang lebih jelas tentang kegiatan penangkapan ikan global, dan memperkuat keberlanjutan.

Sebagai tuan rumah Our Ocean Conference (OOC) 2018, Indonesia telah menginspirasi negara-negara lain untuk mengikuti tindakan berani mereka, seperti Peru bergabung dengan platform GFW dan komitmen yang juga dibuat oleh Kosta Rika, Namibia dan Panama. Peru membagikan data pelacakan kapal untuk 1.300 kapal penangkap ikan mereka melalui GFW pada Oktober 2018.

Tak hanya itu,  Indonesia juga mendorongnya melalui pertemuan bilateral yang dilaksanakan di berbagai kesempatan. Termasuk pada saat pertemuan bilateral dengan Menteri Luar Negeri Panama di sela-sela penyelenggaraan OOC 2018  di Bali,  Menteri Kelautan dan Perikanan mendorong transparansi pengelolaan perikanan kepada Panama yang langsung ditanggapi dengan komitmen Panama untuk melakukan penandatangan kerja sama  dengan GFW. (AFN)

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?
  • Terhibur (100.0%)
  • Terinspirasi (0.0%)
  • Senang (0.0%)
  • Tidak Peduli (0.0%)
  • Terganggu (0.0%)
  • Takut (0.0%)
  • Marah (0.0%)
  • Sedih (0.0%)

Comments

comments