Ikan di Pasar Purbalingga Positif Mengandung Formalin, BKIPM Lakukan Monitoring Terpadu

22
Dok. Humas BKIPM

KKPNews, Purbalingga – Badan Karantina Ikan, Pengendalian Mutu, dan Keamanan Hasil Perikanan (BKIPM) bersama Dinas Ketahanan Pangan dan Perikanan (DKPP) Purbalingga dan Dinas Kesehatan Purbalingga berkoordinasi melakukan monitoring terpadu terkait mutu dan keamanan produk perikanan di pasar tradisional yang ada di Purbalingga. Hal ini menyusul hasil pemeriksaan kepada sejumlah sampel ikan di Pasar Hartono dan Pasar Segamas pada Senin (20/5).

Selain itu, BKIPM Semarang juga akan melakukan pembinaan dan sosialisasi terhadap pedagang dan produsen ikan kering di Purbalingga terkait dengan mutu dan keamanan produk perikanan. Dengan langkah yang diambil tersebut, diharapkan agar masyarakat memahami bahaya penggunaan formalin. Demikian diungkapkan Kepala BKIPM Semarang, Raden Gatot Perdana, pada Selasa (21/5).

“Kami mencoba melakukan pembinaan dan sosialisasi kepada masyarakat, agar masyarakat tidak resah terhadap hasil uji lab tersebut. Kami harapkan masyarakat juga memahami bagaimana ciri-ciri ikan yang terkontaminasi formalin,”ungkapnya.

Analis Mutu BKIPM Semarang, Neni, mengatakan hasil uji klinis yang dilakukan di laboratorium BKIPM Semarang menunjukkan bahwa seluruh sampel ikan kering yang diperiksa positif mengandung formalin. ”Sampel ikan kering yang diambil di Pasar Hartono meliputi teri jengki, belahan bloso, pedo, cumi kering, teri nasi, dan kemaron. Sedangkan sampel yang diambil di Pasar Segamas yakni pedo merah, teri nasi, ebi, pedo kering dan jambal aroma,” jelasnya.

Hasil uji klinis yang dikeluarkan Selasa (21/5) menunjukkan adanya kandungan formalin dari teri jengki sebesar 0,25 mikrogram per liter (mg/l), belahan bloso sebesar 0,8 mg/l, pedo sebesar 0,6 mg/l, cumi kering sebesar 0,8 mg/l, teri nasi sebesar 1,5 mg/l , dan kemaron sebesar 0,25 mg/l. Sedangkan untuk kandungan formalin pada ikan kering dari Pasar Segamas yaitu pedo merah sebesar 0,4 mg/l, teri nasi sebesar 0,6 mg/l, ebi sebesar 0,25 mg/l, pedo sebesar 0,6 mg/l, dan jambal aroma sebesar 0,25 mg/l.

Menurutnya, formalin seringkali digunakan oleh oknum yang tidak bertanggung jawab untuk mengawetkan makanan. Pengawetan ini dilakukan agar makanan tidak mudah busuk dan memiliki tekstur yang kenyal dan tidak mudah hancur. “Meskipun begitu, apabila dikonsumsi secara terus menerus (formalin) akan menimbulkan efek yang berbahaya bagi kesehatan,” ujar Neni. (Humas BKIPM)

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?
  • Terhibur (0.0%)
  • Terinspirasi (0.0%)
  • Senang (0.0%)
  • Tidak Peduli (0.0%)
  • Terganggu (0.0%)
  • Takut (0.0%)
  • Marah (0.0%)
  • Sedih (0.0%)

Comments

comments