Hadiri DXI, Menteri Susi Titip Laut kepada Generasi Muda Bangsa

127
Menteri Kelautan dan Perikanan, Susi Pudjiastuti, menjadi pembicara dalam acara Deep and Extreme Indonesia (DXI) 2019 yang diselenggarakan di JCC Senayan, Jakarta pada Sabtu (6/4). Dok. Humas KKP / Yosef Hans Bertiyan

KKPNews, Jakarta – Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti menghadiri acara talkshow bersama Pandu Laut Nusantara sebagai bagian dari kegiatan Deep and Extreme Indonesia (DXI) Expo yang digelar di Jakarta Convention Center (JCC), Senayan, Sabtu (6/4). Dalam kesempatan tersebut, Menteri Susi yang hadir bersama Direktur Jenderal Pengelolaan Ruang Laut Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) Brahmantya Satyamurti Poerwadi dan Kepala Badan Karantina Ikan, Pengendalian Mutu dan Keamanan Hasil Perikanan (BKIPM) Rina menitipkan masa depan laut di tangan bangsa Indonesia.

“Saya pikir semua yang hadir di sini sea lovers, pencinta laut. Suatu hari nanti, saya harap Anda semua benar-benar pencinta, penjaga, dan perawat laut sesungguhnya,” tutur Menteri Susi dalam kegiatan yang turut dihadiri unsur-unsur pencinta laut tersebut.

Menteri Susi hadir sebagai salah satu narasumber dalam talkshow yang dimoderatori Prita Laura tersebut bersama Founder Komunitas Pandu Laut Nusantara, Akhadi Wira Satriaji (Kaka Slank) dan Ridho Hafiedz (Ridho Slank), dan influencer Pandu Laut Nusantara Marzuki (personel grup musik Kill The DJ).

Menurut Menteri Susi, Indonesia memiliki pantai terpanjang kedua di dunia. Namun selama ini, bangsa Indonesia terlalu terpaku pada sawah, gunung, sungai, dan danau, sehingga cenderung memunggungi laut yang merupakan masa depan bangsa Indonesia.

“Di laut ini potensinya luar biasa. Jadi sangat benar kalau laut dijadikan masa depan bangsa Indonesia karena 71 persen wilayah kita adalah lautan, dan lautan itu pula yang menyatukan 17.504 pulau menjadi satu NKRI,” cetus Menteri Susi.

Sebagaimana diketahui, kegiatan talkshow tersebut memang bertujuan mengajak berkolaborasi unsur-unsur pelaku usaha wisata laut, para penggemar olahraga laut, Lembaga Swadaya Masyarakat, komunitas pencinta laut, dan pemerintah daerah dalam gerakan mencintai, menjaga, dan merawat laut.

Menteri Susi berpendapat, daratan setiap harinya semakin penuh dengan anak cucu dan generasi penerus yang terus lahir. Hingga saat ini, Indonesia masih terus surplus demografi dengan penambahan penduduk setiap tahunnya. Maka dengan penambahan penduduk ini, ia menilai laut dapat menjadi alternatif yang potensinya harus segera dikenali dan disadari.

Potensi laut ini, lanjut Menteri Susi, baik yang diambil maupun tidak diambil bernilai ekonomi sangat tinggi. “Yang tidak diambil dijadikan konservasi, dibuat cantik, dibuat indah menjadi bisnis pariwisata bahari. Kalau mau diambil, hasilnya ditata yang benar, ukuran mata jaring yang benar. Misalnya, tidak boleh pakai destructive fishing, pakai dinamit, pakai portas, supaya ikannya banyak. Kalau diatur pakai mata jaring yang besar, yang kecil-kecil tidak akan terambil, maka ikannya akan tambah banyak karena ikan dikasih kesempatan untuk beranak pianak,” papar Menteri Susi.

Ia meyakini, peraturan pembatasan atau pelarangan yang diterapkan pemerintah bertujuan untuk menambah produktivitas dan kecantikan laut itu sendiri. Namun terkadang, keserakahan manusia membuat kita lupa ambang batas daya dukung ekosistem.

“Akhirnya yang terjadi rusaknya coral reef kita. Akhirnya ikan hiasnya berkurang, kecantikan hilang, turis pun pergi, tidak mau datang.”

Pengelolaan yang tidak benar juga akan mengakibatkan berkurangnya ikan sehingga pengusaha perikanan tidak dapat cukup ikan untuk diperdagangkan. Maka konsep mencintai, menjaga, dan merawat laut ini menurutnya memang sudah seharusnya dilakukan.

Pemerintah atas perintah Presiden Joko Widodo selama 4,5 tahun ini telah melakukan hal besar, melawan Illegal, Unreported, and Unregulated (IUU) Fishing. Dengan komitmen tegas dan disiplin, akhirnya Indonesia sekarang diakui sebagai pemasok tuna terbesar di dunia.

Menteri Susi bercerita, saat dirinya berusaha menghentikan aktivitas pencurian ikan oleh kapal eks asing dengan penenggelaman, ia menerima banyak sekali kritik, apriori, dan sentimen negatif. Beberapa elit skeptis terhadap upaya yang dilakukan. Namun, dukungan yang datang pun jauh lebih banyak. Untuk itu, ia meminta generasi penerus bangsa menghilangkan skeptisisme yang dinilai merusak.

“Skeptisisme ini adalah penyakit yang sangat-sangat tidak boleh ada dalam sebuah bangsa yang sedang membangun. Kalau skeptisisme dihidupkan, seluruh bangsa ini, next generation will be gone. Indonesia tidak mungkin bisa jadi bangsa yang dihormati dan disegani kalau skeptisisme ada di antara kita,” tegas Menteri Susi.

Menteri Susi menilai, skeptisisme ini tidak diperlukan mengingat Indonesia memiliki luas teritorial dan zona ekonomi eksklusif (ZEE) yang diakui hukum internasional.

Berkat keyakinan tersebut, selama 4,5 tahun belakangan, Indonesia sudah merasakan banyak manfaat dari pengelolaan laut dan perikanan yang berkelanjutan. Salah satunya yaitu peningkatan stok ikan di perairan. Angka potensi sumber daya ikan (Maximum Sustainable Yield/MSY) Indonesia yang pada tahun 2013 hanya sebesar 7,31 juta ton meningkat drastis menjadi 12,5 juta ton di tahun 2016. Dan diperkirakan terus meningkat hingga saat ini.

Pengelolaan yang berkelanjutan juga meningkatkan daya saing produk perikanan Indonesia di pasar mancanegara, melalui jaminan ketertelusuran dan peningkatan mutu ikan hasil tangkapan maupun budidaya.

Para pelaku usaha perikanan turut merasakan manfaat peningkatan Produk Domestik Bruto (PDB) perikanan Indonesia. Pada triwulan IV tahun 2018, PDB perikanan Indonesia mencapai Rp61,2 triliun, meningkat dari Rp57,5 triliun, capaian periode yang sama pada 2017. Tren positif juga ditunjukkan nilai atas dasar harga konstan (ADHK) PDB Perikanan berkat peningkatan produksi perikanan. Produksi (tanpa rumput laut) sebanyak 12,55 juta ton pada 2017 mengalami kenaikan 14,13 juta ton pada 2018.

Produksi perikanan tangkap juga membaik, mencapai 7,25 ton pada 2018. Angka ini meningkat 5,17 persen jika dibandingkan periode yang sama pada 2017. Secara bersamaan, produksi sektor perikanan budidaya juga menunjukkan pertumbuhan sebesar 21,62 persen dengan total nilai 6,88 juta ton.

Beriringan dengan upaya-upaya itu, grafik ekspor hasil perikanan Indonesia—baik volume maupun nilai ekspornya—terus berlipat sepanjang periode 2015-2018. Pada periode 2018, volume ekspor tercatat 1,12 juta ton atau naik 4,64 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Sementara dari sisi nilai, naik dari USD4,52 miliar pada 2017 menjadi USD4,86 miliar pada 2018.

Pada 2015, volume dan nilai ekspor memang mengalami penurunan signifikan dibandingkan 2014. Namun, sejak 2016 terjadi peningkatan yang ajek hingga capaian terakhir pada 2018 bahkan jauh melampaui capaian 2014. Ini menunjukkan kebangkitan industri perikanan Indonesia.

Capaian-capaian tersebut tentunya tidak akan bertahan lama apalagi meningkat, apabila tidak diiringi dengan kesadaran menjaga laut Indonesia. Namun Menteri Susi menilai, banyak pencinta laut yang mencintai laut dengan cara yang sedikit salah.

“Waktu di Banda, saya snorkeling lihat kok ada karang bulat begitu, kira-kira 2-3 meter rusak. Teliti punya teliti, ternyata yang pakai fin kalau snorkeling atau menyelam kadang-kadang pada berdiri di karang. Akhirnya ada (karang) yang gundul-gundul begitu. Kalau snorkeling tidak usah pakai fin lah. Berenang saja sehat, ototnya nanti kuat. Kalau mau, pakai alat bantu tangan itu lho yang bisa dijepitin di tangan,” Menteri Susi mengingatkan.

“Kalau snorkeling cuma 50 meter, kanan kiri udah pakai fin, nanti capek, berdiri, kena semua (karangnya). Akhirnya kalau ada 1.000 yang snorkeling, habis semua karangnya,” imbuhnya.

Tak hanya untuk kegiatan snorkeling, Menteri Susi juga mengingatkan pemain jetski untuk lebih sensitif memperhatikan dampak kegiatan mereka terhadap terumbu karang.

“Kepada jetskier yang suka main jetski, Ibu minta tolong kalau within 100-200 meter dari bibir pantai, mbok yo dipelanin. Itu kan reef area. Apalagi kalau lagi surut. Ini kalau makin dekat pinggir pantai makin pamer. Boom boom boom. Hancur itu (coral reef) kena getaran itu, soft coral terutama akan kena,” lanjutnya.

Ia juga berpesan pada seluruh pencinta laut, jika melakukan hobinya di laut baik diving, snorkeling, jetski dan sebagainya agar memastikan membawa pulang kembali peralatan utama maupun pendukung, seperti kantong kresek dan sebagainya. “Tidak boleh you tinggalin sampah satu lembar pun. Itu disiplin yang benar. Kalau lihat ada hal-hal yang merusak lingkungan sambil diving atau snorkeling seperti lihat senar atau net yang terputus ditinggal, ambil dong jangan malas,” pesan Menteri Susi.

“Mari bersama jaga laut demi masa depan anak cucu kita,” tandasnya.

Pada kesempatan ini Menteri Susi secara simbolisasi menitipkan laut kepada 14 Finalis Putri Selam Indonesia, sebagai perwakilan generasi muda yang nantinya dipersiapkan menjadi para influencer untuk membangun kesadaran menjaga laut. Putri Selam Indonesia merupakan bagian dari gerakan Pandu Laut dalam menjaga laut masa depan bangsa.(AFN)

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?
  • Terhibur (0.0%)
  • Terinspirasi (0.0%)
  • Senang (0.0%)
  • Tidak Peduli (0.0%)
  • Terganggu (0.0%)
  • Takut (0.0%)
  • Marah (0.0%)
  • Sedih (0.0%)

Comments

comments