Gunakan Bom Ikan, KKP Tangkap Satu Kapal Perikanan di Kupang

372
3 (tiga) nelayan kapal pelaku pengeboman ikan di perairan Pulau Kambing, Kupang, beserta dengan alat bukti diamankan di Stasiun PSDKP Kupang, Sabtu (23/3). Dok. Humas PSDKP

KKPNews, Jakarta – Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) terus melakukan upaya pemberantasan penangkapan ikan yang merusak (destructive fishing) untuk mewujudkan keberlanjutan pengelolaan sumber daya kelautan dan perikanan. Hal ini dibuktikan dari operasi Kapal Pengawas Perikanan (KP) yang berhasil menangkap 1 (satu) kapal pelaku pengeboman ikan di perairan Pulau Kambing, Kupang pada Sabtu (23/3).

“Kapal ditangkap dalam operasi pengawasan oleh KP Napoleon 054. Kapal ditangkap karena melakukan kegiatan penangkapan ikan di Wilayah Pengelola Perikanan-Negara Republik Indnoesia (WPP-NRI) menggunakan alat tangkap bom ikan (handak) yang dilarang,” ucap Plt. Pengawasan Sumber Daya Kelautan dan Perikanan (PSDKP), Agus Suherman, di Jakarta (25/3).

Penangkapan bermula saat tim operasi usai melakukan penyelaman untuk memantau kondisi karang di Perairan Pulau Kambing pada pukul 12.15 WITA. Melihat kapal motor yang tengah melaut dilengkapi dengan sampan yang membawa alat tangkap gillnet monofilament, tim mencurigai kapal hendak melakukan penangkapan ikan dengan handak di wilayah Tanjung Batu Lelan, Kabupaten Kupang, yang berjarak sekitar 1 km dari Pulau Kambing.

Selanjutnya, KP Napoleon 054 bergegas menghampiri lokasi tersebut dan memerintahkan kapal untuk berhenti. Kendati demikian, kapal pelaku tetap melaju dan berusaha melarikan diri. Menanggapi kondisi di lapangan, petugas memberikan tembakan peringatan sebanyak 3 kali hingga akhirnya kapal berawakan 3 orang nelayan tersebut berhenti dan diperiksa pada koordinat 10° 17. 960′ S dan 123° 25.199′ E.

“Dalam pemeriksaan, ditemukan sejumlah ikan yang terdiri dari ikan hiu, ketamba, kakak tua, dan teri sebanyak kurang lebih 1 kantong jaring dengan ciri-ciri mata pecah dan badan memar. Setelah dibedah, ditemukan bercak darah dalam daging ikan yang diduga diakibatkan oleh ledakan handak,” jelas Agus.

Dari hasil interogasi, dua nelayan mengaku bahwa ikan tersebut ditangkap dengan sebuah bom yang dirakit dalam kemasan botol minuman. Bom ikan itu kemudian dilemparkan ke perairan oleh juragan kapal bernama Princes (49 tahun), beralamat di Desa Tabulolong, Kabupaten Kupang.

Berdasarkan alat bukti yang didapat, kapal beserta sampan dan ketiga nelayan kemudian dibawa ke Pelabuhan Perikanan Tenau untuk proses pemeriksaan lebih lanjut. Kapal diduga melanggar Undang-Undang Nomor 31 Tahun 2004 tentang Perikanan sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 45 Tahun 2009 dengan ancaman pidana penjara paling lama 6 (enam) tahun dan denda paling banyak Rp20 miliar.

Menteri Kelautan dan Perikanan kembali mengapresiasi kerja sama petugas di lapangan yang berhasil menangkap pelaku penangkapan ikan yang merusak (destructive fishing).

“Sekali lagi saya tekankan, penggunaan alat tangkap tidak ramah lingkungan (destructive fishing) itu dilarang. Tidak boleh tangkap ikan pakai bom, portas, dan bahan-bahan kimia berbahaya lainnya supaya ekosistem laut kita tidak rusak, ikan tetap banyak. Demi anak-cucu kita juga toh?,” tandas Menteri Susi. (ERB)

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?
  • Sedih (57.1%)
  • Senang (28.6%)
  • Terhibur (14.3%)
  • Terinspirasi (0.0%)
  • Terganggu (0.0%)
  • Takut (0.0%)
  • Marah (0.0%)
  • Tidak Peduli (0.0%)

Comments

comments