Genjot Devisa Ekspor, KKP Targetkan Produksi Ikan Hias Capai 1,8 Milyar Ekspor

15
Dok.Humas KKP

KKPNews, Jakarta – Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) memasang target produksi ikan hias di tahun 2020 sebanyak 1,8 milyar ekor. Sebagaimana diketahui ikan hias menjadi salah satu sumber devisa yang bisa diandalkan untuk menopang pertumbuhan ekonomi nasional.

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat kinerja perdagangan ikan hias dalam kurun waktu tahun 2012 sampai semester 1 tahun 2019 terus mengalami peningkatan. Tahun 2012 nilai ekspor ikan hias mencapai USD 21,01 juta, sementara tahun 2018 mencapai USD 32,23 juta.

Direktur Jenderal Perikanan Budidaya, Slamet Soebjakto dalam keterangannya di Jakarta baru-baru ini mengatakan, bahwa capaian nilai ekspor ikan hias Indonesia berpeluang untuk terus digenjot. Menurutnya saat ini share ekonomi ikan hias terhadap nilai ekspor produk perikanan mencapai 0,66%. Slamet juga memastikan KKP akan mendorong strategi khususnya penguatan di hulu yakni dengan terus menggenjot produksi ikan hias bernilai ekonomis tinggi.

“Saya kira, kita akan mampu genjot produksi. Ada dua keunggulan kita, pertama potensi pengembangan dan varian komoditas bernilai ekonomis tinggi yang besar. Lebih dari 650 jenis ikan hias (tawar, dan laut) ada di perairan kita. Oleh karenanya, pemanfaatan untuk jenis ekonomis tinggi akan terus kita dorong apalagi saat ini upaya perekayasaan teknologi sudah berkembang dengan baik”, ungkap Slamet.

Slamet menambahkan, saat ini KKP bersama dengan lintas sektoral terkait tengah menyempurnakan peta jalan (road map) percepatan industrialisasi ikan hias nasional. Roadmap ini menurut Slamet akan memetakan berbagai strategi konkrit yang meliputi percepatan produksi, pengaturan tata niaga, penguatan daya saing dan nilai tambah, investasi, serta perluasan dan penguatan pasar ekspor.

Slamet juga membeberkan bahwa selama kurun waktu 2012 hingga 2018, produksi ikan hias nasional tumbuh rata-rata sebesar 5,05% per tahun. Tahun 2012 produksi mencapai 938,47 juta ekor dan naik pada tahun 2018 menjadi 1,19 milyar ekor.

“Kalau dilihat dari capaian tahun sebelumnya, saya kira target produksi tahun ini sangat realistis. Apalagi saat ini kita telah berhasil mengembangkan secara masal berbagai varian jenis semisal clownfish, banggai cardinal dan lainnya. Disamping itu ikan hias saat ini menjadi usaha yang sangat menjanjikan di kalangan masyarakat. Jadi, Pemerintah tinggal siapkan regulasi dan memfasilitasi akses apa yang dibutuhkan pelaku usaha, selanjutnya mereka akan berkembang dengan sendirinya”, jelas Slamet.

Hasil survey pertanian 2013 (BPS, 2014) menunjukkan bahwa pendapatan rumah tangga pembudidaya ikan hias mencapai Rp. 50,48 juta per tahun atau sekitar Rp. 4,2 juta per bulan dan merupakan jenis usaha yang memiliki nilai tambah ekonomi paling tinggi.

“Saya kira ini yang bisa memicu animo masyarakat untuk terjun menekuni budidaya ikan hias. Saat ini kita akan menyasar pada jenis-jenis yang punya pangsa ekspor tinggi. Catatan kami ada lima komoditas dominan yang dibudidayakan masyarakat untuk tujuan ekspor antara lain ikan arwana, koi, cupang, gapi, dan manvis. Belum lagi saat ini kita sudah mulai fokus untuk menggenjot produksi jenis ikan hias air laut utamanya clownfish (nemo)”, imbuh Slamet

Bicara strategi, Slamet menjelaskan bahwa KKP telah menyiapkan langkah konkrit yang fokus utamanya pada peningkatan produksi di hulu, peningkatan nilai tambah dan daya saing impor.

Pada tataran di hulu, KKP terus mendorong penerapan inovasi teknologi yang fokus pada peningkatan efisiensi dan produktivitas. Salah satu teknologi yang dikembangkan adalah sistem Recirculating Aquaculture System (RAS), dimana sistem ini mampu menggenjot produktivitas hingga 100 kali lipat dibanding konvensional. Ia menambahkan, bahwa paket teknologi RAS ini dapat diadopsi secara massal oleh masyarakat yakni dengan sistem mini RAS.

“Agar ini juga lebih memasyarakat, kami juga merancang mini RAS dan saat ini telah banyak diadopsi, seperti di Ambon dengan Kampung Nemonya”, kata Slamet

Disamping itu, penyediaan induk dan benih unggul menjadi fokus yang akan didorong dalam lima tahun kedepan.

Hal lain yang akan terus didorong, imbuh Slamet yakni pengembangan varian jenis ikan hias bernilai ekonomis penting. Ia mencontohkan keberhasilan BPBL Ambon yang telah mampu mengembangkan sebanyak 14 strain varian ikan hias clownfish (nemo).

Sedangkan pada tataran hilir, KKP bersama sektor terkait akan fokus pada perbaikan tata kelola niaga yang lebih efisien khususnya berkaitan dengan masalah distribusi dan biaya logistik yang masih tinggi.

“Saya kira masalah logistik ini perlu segera dibenahi. Bila perlu ada insentif khusus bagi komoditas ekspor, sehingga nilai tambah ekonominya tidak banyak hilang”, tegas Slamet.

Slamet juga mengatakan bahwa penguatan kulitas/mutu, branding dan promosi produk ikan hias, utamanya ikan hias asli Indonesia perlu di dorong. Menurutnya ini penting untuk menaikan posisi tawar dan daya saing ekspor kita.

Bangun Hatchery Sistem RAS Modern di Ambon

Untuk memenuhi kebutuhan benih ikan laut termasuk ikan hias, KKP telah membangun unit hatchery modern berskala besar di Ambon yakni di instalasi Balai Perikanan Budidaya Air Laut (BPBL) Ambon. Unit perbenihan modern yang menerapkan sistem RAS ini mampu memproduksi benih dan ikan hias laut dalam kapasitas besar.

Kepala BPBL Ambon, Nur Muflich Juniyanto, saat dimintai keterangan mengatakan bahwa unit RAS modern ini di-setting untuk menghasilkan kapasitas produksi benih hingga 3 juta ekor per tahun.

Adapun mengenai upaya peningkatan produksi ikan hias, Anto menjelaskan bahwa saat ini BPBL Ambon fokus pada pengembangan ikan hias laut baik untuk kepentingan ekspor maupun untuk restocking. Ia mengatakan saat ini unggulan utama di Ambon adalah jenis clownfish dan saat ini telah mulai memasyarakat.

“Saat ini kami telah mampu memproduksi varian strain ikan hias clownfish, koleksi kami ada sekitar 14 varian dari yang murah hingga yang mahal. Bicara pangsa pasar untuk jenis ini masih sangat tinggi. Disamping itu, kami juga tetap kembangkan jenis banggai cardinal dan yang terakhir kami berhasil mengembangkan varian baru yakni ikan hias laut jenis Nemo dengan varian Black Ice (Black Snowflake) dan Lightning Maron. Saya kira ini bisa jadi bagian penting dalam mendorong ekspor ikan hias asal Indonesia”, jelas Anto.

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?
  • Terhibur (0.0%)
  • Terinspirasi (0.0%)
  • Senang (0.0%)
  • Tidak Peduli (0.0%)
  • Terganggu (0.0%)
  • Takut (0.0%)
  • Marah (0.0%)
  • Sedih (0.0%)

Comments

comments