Geliat Budidaya Udang, Optimisme Pergerakan Ekonomi Pasca Pandemi

75
Menteri Edhy mengikuti panen udang Vaname di Kabupaten Pasangkayu, Sulbar

KKPNews, Pasangkayu – Di hari kedua kunjungan kerja ke Sulawesi, Menteri Kelautan dan Perikanan, Edhy Prabowo bertolak ke Kabupaten Pasangkayu guna meninjau langsung pengembangan Kawasan budidaya udang berkelanjutan, sekaligus melakukan panen udang di lahan milik PT. Manakara Sakti Abadi yang terletak di Desa Sarjo Kab Pasangkayu.

Turut serta pada kegiatan tersebut antara lain Bupati Pasangkayu, Eselon I Lingkup KKP, dan jajaran Forkopinda.

“Saya sangat bahagia melihat keberhasilan budidaya udang intensif ini. Tentu ini jadi harapan besar bagi pergerakan ekonomi kita ditengah pandemi Covid-19. Tadi dikatakan bahwa melalui konsep klaster ini produktivitasnya bisa sampai 45 ton per ha. Jika ini bisa dilakukan diberbagai daerah, maka target 250% sangat mudah dicapai. Kalau berkaitan dengan teknologi, saya percaya kita sudah mumpuni. Tinggal komitmen kerjasama yang perlu kita dorong,” jelasnya.

Edhy berharap konsep pengelolaan bisnis budidaya udang yang dikelola pihak perusahaan bisa diadopsi di berbagai daerah. Menurutnya, udang masih jadi andalan meraup devisa ekspor.

Edhy kecrik

“Harapan saya keberhasilan di sini bisa diikuti oleh daerah lain juga. Sehingga secara nasional produksi udang kita naik signifikan. Ini saya rasa pasar sudah mulai stabil, tadi saya denger size 50 harganya 78.000 per kg dan ini sy prediksi akan naik lagi”, kata Edhy.

Direktur Utama PT. Manakara Sakti Abadi, Rudy Hartanto, mengungkapkan bahwa teknologi yang diterapkan mengadopsi konsep klaster budidaya udang berkelanjutan. Menurutnya, dalam pengelolaannya mengusung konsep budidaya yang ramah lingkungan dengan full kontrol secara ketat. Tidak heran menurut Rudy, selama ini pihaknya sukses panen dengan produktivitas yang signifikan yakni rata-rata 45 ton per ha.

“Bisnis budidaya udang ini sangat menjanjikan. Jika panen berhasil selama 2-3 tahun modal termasuk investasi sudah bisa kembali. Catatannya yakni pegang SOP untuk menerapkan best management practices”, ungkap Rudy.
Salah satu SOP yang harus dijalankan adalah pengelolaan kualitas air serta penerapan Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL) yang baik.

Rudy menambahkan, “sebagai gambaran tambak kami dilengkapi dengan IPAL yang efektif berupa kolam sistem berkelok sepanjang 1,5 km dengan biofilter berupa ikan dan rumput akar wangi, disamping itu terdapat kolam pengendapan untuk treatment air yang diisi ikan bandeng sebagai filter biologis, zero antibiotik, penggunaan plastik HDPE, penggunaan automatic feeder untuk menekan FCR dan penerapan sistem biosecurity yang ketat”.

“Kami sangat concern untuk menerapkan mengelolaan air baik air masuk maupun air keluar, karena kami ingin agar usaha kami dapat berkelanjutan, sehingga SOP harus benar-benar kami patuhi. Saya kira itu menjadi salah satu kunci keberhasilan di PT Manakara Sakti Abadi. Kami bisa panen rata-rata 15 ton per minggu,” imbuh Rudy.

“Ke depan kita merencanakan mengembangkan seperti sistem klaster perumahan dan bisa ditawarkan untuk menarik investasi. Kaitannya dengan pemberdayaan masyarakat sekitar, kami merekrut sekitar 90% teknisi adalah masyarakat sekitar,” tutup Rudy.

Sementara itu, Direktur Jenderal Perikanan Budidaya, Slamet Soebjakto membeberkan terkait konsep pengembangan budidaya udang berkelanjutan yang akan jadi model nasional. Menurut Slamet, model klaster budidaya udang berkelanjutan sangat pas karena menyesuaikan dengan daya dukung lahan yang ada. Ia menyebut potensi lahan non produktif harus dioptimalkan melalui intensifikasi. Oleh karenanya, model ini dinilai sangat cocok dan terbukti berhasil setelah diadopsi banyak pelaku usaha dan investor.

“Usaha budidaya udang ini harus terus berjalan. Kita tidak ingin masuk pada kesalahan pengelolaan seperti jaman udang windu. Kita terlena dan pengelolaannya dilakukan secara tidak terukur, cenderung merusak lingkungan dan eksosistem yang ada. Saat ini kita lakukan transformasi teknologi yang lebih ramah lingkungan. Salah satu yang penting adalah IPAL untuk pengelolaan limbah budidaya agar sesuai baku mutu,” jelas Slamet.

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?
  • Terhibur (0.0%)
  • Terinspirasi (0.0%)
  • Senang (0.0%)
  • Tidak Peduli (0.0%)
  • Terganggu (0.0%)
  • Takut (0.0%)
  • Marah (0.0%)
  • Sedih (0.0%)

Comments

comments