Fenomena Pemutihan Terumbu Karang di Pantau Manjunto, KKP Lakukan Identifikasi

62
Dok. Humas DJPRL

KKPNews, Pesisir Selatan – Menindaklanjuti laporan pemutihan terumbu karang alami di Kawasan Pantai Manjuto, Nagari Sungai Pinang pada Senin (21/10), Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) melalui BPSPL Padang bersama LRSDKP Bungus dan Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Provinsi Sumatera Barat melakukan Pengumpulan Bahan Keterangan (Pulbaket).

Untuk mengidentifikasi pemicu pemutihan karang, dilaksanakan observasi kondisi eksisting terumbu karang dan pengecekan kualitas air melalui dua (2) titik pengamatan dan metode tiga (3) kali pengulangan yaitu pada posisi air pasang, posisi air mulai surut dan posisi air surut.

Hasil observasi pertama pada posisi air pasang menunjukkan bahwa  diperoleh hasil rata-rata kualitas air (Ph) 8-8,5, kadar garam (salinitas) 16-24, dan suhu 27-28 lokasi titik yang pertama. Sedangkan pada lokasi titik yang kedua didapatkan hasil rata-rata Ph 8-8,4, salinitas 19-27, dan suhu 27-29.

Kemudian, pada pukul 15.00 WIB, kembali dilakukan pengecekan kualitas kadar air pada posisi air mulai surut dengan titik dan metode yang sama. Pada lokasi titik yang pertama diperoleh hasil rata-rata Ph 8-8,7, salinitas 20-27, dan suhu 28-29. Sedangkan pada lokasi titik yang kedua diperoleh hasil rata-rata Ph 8-8,5, salinitas 24-27, dan suhu 28-29.

Selanjutnya, observasi pada posisi air surut di titik lokasi antara titik 1 dan titik 2 diperoleh hasil Ph 8,6, salinitas 28, dan suhu 28,7. Selain itu, ditemukan kondisi bahwa fisik terumbu karang dalam keadaan masih berlendir.

Berdasarkan hasil Pulbaket tersebut, hasil analisis awal terjadinya pemutihan terumbu karang di Sungai Pinang  diperkirakan dipicu oleh kadar garam (salinitas) yang di bawah standar untuk terumbu karang. Lebih lanjut, kondisi tersebut diduga dipicu oleh debit air yang cukup tinggi dari tiga (3) muara di sekitar perairan tersebut.

Sedangkan dugaan bahwa isu terumbu karang mengalami pemutihan karena faktor kabut asap dapat disimpulkan tidak tepat. Hal ini dikarenakan fase pemutihan yang terjadi tidak merata dan tingkat kualitas air (Ph) yang terkandung dalam air dalam keadaan normal (tidak asam). Di samping itu, tim juga menemukan bahwa beberapa karang mati akibat aktivitas manusia (terinjak), terutama saat posisi air sedang surut. Tim memprediksi bahwa proses pemutihan yang lebih parah dapat terjadi pada lokasi tersebut apabila suhu air melebihi 30 derajat celcius. (BPSPL Padang/Humas DJPRL)

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?
  • Terhibur (0.0%)
  • Terinspirasi (0.0%)
  • Senang (0.0%)
  • Tidak Peduli (0.0%)
  • Terganggu (0.0%)
  • Takut (0.0%)
  • Marah (0.0%)
  • Sedih (0.0%)

Comments

comments