Dukung Pemerintah, BBKIPM Makassar Deteksi Dini Ikan Tangkapan Destructive Fishing

61
Dok. Humas BKIPM

KKPNews, Makassar – Balai Besar Karantina Ikan, Pengendalian Mutu dan Keamanan Hasil Perikanan (BBKIPM) Makassar bekerja sama dengan Pos Pengawasan Sumber Daya Kelautan dan Perikanan (PSDKP) Wilayah Kerja (Wilker) Selayar menyelenggarakan kegiatan Pengenalan Pemeriksaan Klinis dan Deteksi Cepat Ikan Hasil Tangkapan Destructive Fishing. Kegiatan tersebut dilaksanakan di Benteng, Selayar, Kamis (31/7).

Kegiatan ini dihadiri oleh 30 orang penyuluh perikanan di lingkup Kabupaten Kepulauan Selayar.

Kepala BBKIPM Makassar, Sitti Chodidjah mengatakan, kegiatan ini dilakukan untuk memberikan pemahaman dan peningkatan kapasitas penyuluh perikanan, mengenai penangkapan ikan yang merusak dan sistem deteksi cepat identifikasi ikan hasil tangkapan yang tidak ramah lingkungan.

Penyuluh dipilih sebagai agen sosialisasi yang nantinya dapat memberikan penyuluhan kepada nelayan sesuai tugasnya.

Untuk itu, dalam kegiatan ini dijelaskan tahapan pemeriksaan klinis ikan yang ditangkap dengan cara dibom melalui metode visual dan pembedahan untuk mengetahui kerusakan organ tubuhnya.

Analis laboratorium BBKIPM Makassar, Astina Sartika, yang menjadi narasumber dalam kegiatan ini menyebut, biasanya ikan yang dibom organ dalamnya sudah pecah dan tidak utuh lagi.

“Organ dalam yang diperiksa antara lain gelembung renang maupun tulang. Jika gelembung renangnya pecah dan keluar darah dari ruas tulangnya, ini merupakan indikasi awal bom yang dipakai untuk menangkap sangat eksplosif,” jelas Astina.

Tak hanya pemeriksaan klinis, dalam kegiatan tersebut peserta juga diperkenalkan metode deteksi cepat ikan yang ditangkap melalui destructive fishing melalui uji laboratorium. Melalui uji laboratorium, hasil dapat diperoleh hanya dalam waktu kurang dari 2 jam dengan menggunakan natrium hidroksida dan asam sulfat.

Sitti menambahkan, dalam dua tahun belakangan, pihaknya telah mengembangkan metode deteksi cepat ini sebagai bentuk dukungan terhadap kebijakan Kementerian Kelautan dan Perikanan dalam memberantas destructive fishing. Terlebih lagi menurutnya, di wilayah Sulawesi Selatan masih kerap ditemukan praktik penangkapan ikan dengan cara yang merusak tanpa memperhatikan kelestarian sumber daya perikanan.

“Khusus untuk destructive fishing, kami bekerja sama dengan labotarium forensik Polri mengembangkan metode deteksi cepat yang hasilnya valid dan akurat. Beberapa instansi terkait seperti TNI AL juga pernah meminta bantuan kami mengidentifikasi barang bukti ikan yang ditangkap dari nelayan,” terang Sitti.

Kegiatan ini mendapat apresiasi dari Penanggung Jawab Pos PSDKP Selayar, Syaiful Asri. “Ke depannya, mungkin lebih bagus diprogramkan setiap tahun dan melibatkan nelayan di pulau-pulau kecil,” tuturnya.

Sementara itu, Andi Rismayani, salah satu penyuluh perikanan yang mengikuti kegiatan tersebut berharap, BKIPM dapat memberikan dukungan sarana bagi penyuluh untuk melakukan penyuluhan ke nelayan.

“Dengan adanya alat dan bahan laboratorium, kami bisa langsung mempraktikkan metode tersebut ke nelayan untuk memberikan penyadaran,” ujarnya. (Humas BKIPM)

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?
  • Terinspirasi (100.0%)
  • Terhibur (0.0%)
  • Senang (0.0%)
  • Tidak Peduli (0.0%)
  • Terganggu (0.0%)
  • Takut (0.0%)
  • Marah (0.0%)
  • Sedih (0.0%)

Comments

comments