Dorong Peningkatan Konsumsi Ikan, KKP Serahkan Bantuan Sarana Budidaya dan Ikan Segar di Jawa Barat

48
Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti mengampanyekan Gerakan Memasyaratkan Makan ikan (Gemarikan) dan Gerakan Masyarakat untuk Sadar Mutu dan Karantina Ikan (Gemastukata) di Ponpes Al-Quran Cijantung, Kabupaten Ciamis, Jawa Barat pada Senin (8/4). Dok. Humas KKP / Joko Siswanto

KKPNews, Ciamis – Dalam rangka meningkatkan konsumsi ikan masyarakat melalui Gerakan Memasyarakatkan Makan Ikan (Gemarikan), Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti mengunjungi sejumlah pondok pesantren (Ponpes) di Jawa Barat. Senin (8/4), Menteri Susi mendatangi tiga Ponpes sekaligus yaitu Ponpes Al-Quran Cijantung, Kabupaten Ciamis; Ponpes Darussalam, Kabupaten Ciamis; dan Ponpes Al Munawar, Pasir Bokor, Tasikmalaya.

Dalam kegiatan tersebut turut hadir mendampingi, Direktur Jenderal Perikanan Budidaya Slamet Soebjakto dan Kepala Badan Karantina Ikan, Pengendalian Mutu dan Keamanan Hasil Perikanan (BKIPM) Rina.

Menurut Menteri Susi, selain mengampanyekan Gemarikan guna menangggulangi persoalan stunting (gangguan pertumbuhan), kegiatan tersebut juga bertujuan untuk mendorong  Gerakan Masyarakat untuk Sadar Mutu dan Karantina Ikan (Gemasatukata) melalui pengenalan ikan segar dan berkualitas.

Untuk itu, dalam kesempatan ini Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) melalui Direktorat Jenderal Perikanan Budidaya (DJPB) dan BKIPM menyerahkan sejumlah bantuan program budidaya bioflok, benih ikan, dan ikan segar di ketiga Ponpes dimaksud.

Di Ponpes Al Quran Cijantung diserahkan bantuan berupa 12 lubang budidaya nila sistem bioflok, 20.000 ekor benih nila, 1.000 kg pakan ikan, dan 1,75 ton ikan sarden segar. Di Ponpes Darussalam diserahkan bantuan berupa 12 lubang budidaya nila sistem bioflok, 100.000 ekor benih nila, 1.500 kg pakan mandiri, dan 1,75 ton ikan sarden segar. Sementara di Ponpes Al Munawar diserahkan 12 lubang budidaya nila sistem bioflok, 100.000 ekor benih nila, 1.000 kg pakan mandiri, dan 1 ton ikan sarden segar.

Bantuan KKP berupa ikan segar tersebut dimasak untuk dimakan bersama para santri dan sebagian dibagikan bagi masyarakat sekitar.

Menurut Menteri Susi, generasi muda perlu diajarkan kecintaan mengonsumsi ikan. Harapannya dapat mengubah pola konsumsinya dari daging merah dan aneka junk food menjadi seafood atau makanan produk kelautan dan perikanan. Ia melanjutkan, misi ini merupakan tugas bersama seluruh komponen bangsa dalam mempersiapkan generasi muda yang berkualitas melalui konsumsi ikan yang memiliki kandungan gizi menyehatkan dibandingkan protein hewani lainnya.

Peningkatan konsumsi ikan ini merupakan program pemerintah lainnya di samping menjadikan Indonesia sebagai poros maritim dunia dan menjadikan laut masa depan bangsa. Sebagaimana diketahui, pemerintah tengah berupaya menurunkan angka gangguan pertumbuhan (stunting) di Indonesia. “Di Indonesia,¬† yang 1 dari 3 anak tumbuh stunting,” tutur Menteri Susi.

Usaha ini pun sudah mulai menumbuhkan hasil. Dengan peningkatan angka konsumsi ikan nasional dari tahun ke tahun menjadi 50.69 kg per kapita di tahun 2018, data terbaru Riset Kesehatan Dasar Kementerian Kesehatan 2018 menunjukkan terjadi penurunan angka stunting di Indonesia dari 37,8 persen di tahun 2013 menjadi 30,8 persen di 2018.

“Mudah-mudahan nanti tidak ada lagi yang stunting. Kalau Ibu masak untuk anak-anak, sediakan masakan ikan,” imbuhnya.

Hal ini karena selain bagus untuk pertumbuhan tubuh anak, kandungan gizi pada ikan juga dinilai bagus untuk perkembangan otak dan kecerdasan manusia. Untuk itu, Menteri Susi mengimbau seluruh pesantren untuk tidak lupa menyediakan menu makanan ikan setiap harinya.

Menteri Susi menyebut, konsumsi ikan masyarakat Jawa Barat masih jauh lebih baik daripada masyarakat Jawa Tengah dan Jawa Timur. Di Ciamis dan Tasikmalaya misalnya, meskipun kedua daerah tersebut tidak memiliki laut, angka konsumsi ikan mereka berada di atas rata-rata konsumsi ikan nasional. Kendati demikian, angka tersebut masih di bawah konsumsi ikan di daerah timur Indonesia.

“Di Jawa Barat ini saya lihat banyak sekali kolam-kolam, balong-balong. Setiap rumah punya kolam sendiri, pelihara ikan sendiri, dari nila, gurami, nilem, dan lainnya,” kata Menteri Susi.

Guna meningkatkan produksi ikan untuk kebutuhan santri, Menteri Susi juga memperkenalkan budidaya sistem bioflok. Menurutnya, dengan sistem bioflok, dengan tempat yang kecil dapat dihasilkan ikan dalam jumlah yang besar. “Bisa dapat 1 ton per kolam dalam 100 hari.”

Tak melulu bicara soal konsumsi ikan, dalam kesempatan tersebut Menteri Susi juga berbagi pengalamannya menegakkan kedaulatan di laut Indonesia. ‘Tenggelamkan’ yang kini sudah menjadi jargon merupakan sebuah upaya menyelesaikan permasalahan di laut Indonesia.

“Kalau tidak dienggelamkan, menyelesaikan pekerjaan ini susah karena sudah puluhan tahun ribuan kapal asing terbiasa menangkap ikan di Indonesia. Mereka tidak merasa mereka salah dan mencuri,” ujarnya.

“Ini satu-satunya cara untuk membuktikan negara kita tegas, negara kita berdaulat, dan kita tidak main-main memberantas pencurian ikan,” tambahnya.

Kepada para santri, Menteri Susi berpesan untuk selalu menjaga kehormatan diri. “Kehormatan diri itu apa? kepribadian, kejujuran, integritas, tidak bisa dibeli oleh uang, tidak tergiur oleh uang karena kita menghormati diri kita.”

Ia mencontohkan pada dirinya sendiri. Meskipun berasal dari Kampung Pangandaran bahkan tidak menamatkan bangku SMA, ia berhasil sampai pada tahap ini dengan memegang teguh prinsip tersebut.

“Hidup saya diberi oleh Tuhan hal-hal yang luar biasa, keajaiban-keajaiban, (bisa) jadi menteri. Saya harus hormati. Kehormatan yang diberikan Tuhan ini harus saya junjung tinggi. Dengan apa? Dengan integritas, komitmen, dan kesungguhan kerja. Saya buktikan ternyata kalau kita benar-benar mau komitmen dan lurus, Indonesia ini bisa jadi negara apa saja. Nyatanya dalam 4,5 tahun ini kita bisa jadi negara eksportir tuna terbesar di dunia yang tadinya di Asia Tenggara saja tidak diperhitungkan. Selalu yang punya nama Thailand, Vietnam, dan Filipina,” terangnya.

Ia juga meminta santri untuk bersyukur dan menikmati proses belajar di Ponpes. Menurutnya, dirinya juga tidak akan utuh seperti saat ini jika ia tak pernah menjalani kehidupan di Ponpes.

“Saya jalan ke mana, saja ingin melakukan apa saja, saya selalu ingat border line (batasan yang diajarkan di sekolah agama). Ini titik yang tidak boleh saya lewati. Kenal agama, tauhidnya, akidahnya. Jadi walaupun kemana-mana tidak pernah kesasar, tetap kembali pulang,” cetusnya.

“Adik-adik semua harus bangga dan bahagia bersekolah di pesantren. Banyak persoalan hidup yang kadang-kadang antara yang benar dan yang batil itu garis tipis sekali,” ia melanjutkan.

Menteri Susi mengatakan, bagi para santri yang ingin bersekolah tinggi di bidang perikanan, kesempatan menempuh pendidikan di Sekolah Tinggi Perikanan (STP) atau Politeknik Kelautan dan Perikanan (Poltek KP) terbuka lebar. Para santri yang merupakan anak pelaku utama usaha perikanan baik nelayan maupun pembudidaya dapat bersekolah dengan beasiswa. Hal ini karena KKP tak hanya fokus membangun infrastruktur tetapi juga membangun sumber daya manusia.

Terakhir, Menteri Susi berpesan agar semua santri menjadi anak bangsa yang cerdas, tangkas, dan berintegritas. “Yang terakhir (integritas) ini yang paling penting karena integritas ini yang akan menentukan harga saudara-saudara di kehidupan yang sesungguhnya. Jika saudara menjunjung tinggi integritas, negara akan membutuhkan saudara di tempat yang terbaik,” tandasnya.

Adapun Ketua Yayasan Al Quran Otong Nur Muhammad menyampaikan terima kasih atas bantuan yang diberikan KKP. Ia juga mengapresiasi Menteri Susi atas berbagai program dan kebijakan yang dinilai telah mampu menggerakkan sektor kelautan dan perikanan ke arah yang lebih baik.

“Kami sangat mengapresiasi sekali Bu Menteri. Teruskan dan gaspool, jangan sampai berhenti di sini. Kami masih menunggu gebrakan-gebrakan dan kemajuan lainnya,” tuturnya.

Selain itu dia berharap, silaturahmi KKP dengan masyarakat Ponpes ini dapat memperkuat sinergi untuk menuju Indonesia yang lebih maju.

“Mudah-mudahan melalui sinergitas antara pondok pesantren dan pemerintah, kita dapat membangun bangsa lebih maju, dengan lebih komplit, lebih mengena, sehingga Indonesia maju dapat bersama-sama kita wujudkan,” tutupnya.(AFN)

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?
  • Senang (100.0%)
  • Terhibur (0.0%)
  • Terinspirasi (0.0%)
  • Tidak Peduli (0.0%)
  • Terganggu (0.0%)
  • Takut (0.0%)
  • Marah (0.0%)
  • Sedih (0.0%)

Comments

comments