Cintai Laut, Rapatkan Barisan Jaga Laut Bebas Sampah Plastik

144
Kegiatan bersih pantai di PPS Bitung, Minggu (19/08/2018). Dok. Humas KKP/Handika Rizki Rahardwipa

Indonesia merupakan salah satu negara asia tenggara yang memiliki kekayaan alam serta keindahan taman bawah laut yang tak kalah menarik dengan taman bawah laut di belahan dunia lain. Namun keindahan tersebut tampaknya tidak bertahan lama terutama di era golobalisasi saat ini. Faktor manusia menjadi alasan utama terhadap kerusakan ekosistem biota perairan di Indonesia, salah satunya pembuangan sampah sembarangan tanpa memikirkan efek janga panjangnya.

Di akhir tahun lalu, kita dikejutkan dengan penemuan seekor penyu dalam kondisi tidak bernyawa, dengan perut terburai plastik sampah di kawasan pinggir pantai Congot, Yogyakarta. Hal ini cukup mengkhawatirkan keberlangsungan lingkungan di Indonesia. Berdasarkan laporan yang disampaikan oleh Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), terdapat sekitar 100.000 ton hingga 400.000 ton sampah plastik yang masuk ke laut Indonesia per tahun. Jika keadaan tersebut terus berlangsung, diprediksi bahwa pada tahun 2050 jumlah sampah plastik akan melebihi jumlah biota laut.

Berdasarkan data yang diperoleh dari Asosiasi Industri Plastik Indonesia (INAPLAS) dan Badan Pusat Statistik (BPS), sampah plastik di Indonesia mencapai 64 juta ton/tahun. Di mana sebanyak 3,2 juta ton merupakan sampah plastik yang dibuang ke laut.  Tidak hanya itu, kantong plastik yang terbuang ke lingkungan (daratan) sekitar 10 miliar lembar per tahun atau 85.000 ton kantong plastik. Padahal kita semua tahu bahwa ketika sampah plastik masuk ke laut, mereka dapat terbelah menjadi partikel-partikel kecil yang disebut microplastics dengan ukuran 0,3 hingga lima mm. Microplastics inilah yang kemudian dikonsumsi oleh hewan laut.

Pencemaran tersebut dapat ditekan dengan melibatkan berbagai pihak, antara lain pemerintah, dengan memperkuat kedudukan regulasi yang telah ditetapkan serta berbagai program yang dapat menunjang kebersihan laut menyambut awal tahun. Upaya yang dapat dilakukan seperti menegaskan kedudukan peraturan Undang-undang Nomor 18 tahun 2008 terkait pengelolaan sampah, dan membentuk kerja sama atau permintaan pertanggungjawaban kepada pihak produsen yang memproduksi produk berupa barang atau jasa dengan kemasan plastik karena menjadi salah satu penyumbang limbah sampah plastik di laut Indonesia.

Selain itu, komitmen dan inisiatif baik juga dituntut dari produsen untuk ikut bertanggung jawab besrama pemerintah dalam pengelolaan sampah. Terutama barang-barang berasal dari kemasan yang mereka produksi, impor, distribusi, dan jual.

Pada Our Ocean Conference, 29-30 Oktober 2018, di Bali, beberapa produsen dan perusahaan produk kemasan telah berkomitmen untuk mengurangi sampah plastik.  Danone-Aqua berkomitmen membuat seluruh kemasan plastik 100% dapat didaur-ulang dan meningkatkan proporsi plastik daur ulang pada botol hingga 50% pada 2025. The Coca-cola Company berkomitmen membuat kemasan 100% dapat didaur-ulang pada 2025 dan 50% berbahan daur ulang pada seluruh kemasan utama global pada 2030. Unilever menargetkan pada 2025, semua kemasan plastik bisa didaur ulang, pakai kembali, ataupun bisa jadi bahan kompos.

Terakhir, tentunya perilaku kesadaran dan keperdulian setiap masyarakat individu terhadap sampah di perairan Indonesia akan membantu mengurangi volume sampah jauh lebih tinggi. Berbagai cara dapat kita lakukan untuk membantu mendukung program pemerintah dan produsen dengan tujuan yang sama di antaranya, menggunakan peralatan makan yang dapat digunakan ulang, seperti menggunakan tempat makan, tumblr, dan sedotan stainless steel. Kemudian membawa perubahan dengan mengikuti komunitas peduli lingkungan dan juga gerakan sosial (social movement) sehingga dapat mengajak orang lain untuk bersama-sama menjaga kelestarian laut Indonesia.

Mеmаng potensi kelautan ѕаngаt melimpah tеrutаmа dі negeri kita іnі Indonesia, tарі іtu ѕеmuа bukan tаnра batas karena alam termasuk punya daya maksimal dan butuh untuk recovery. Di sinilah perlunya kita cinta аkаn laut agar laut tetap lestari, sehingga diperlukan kebijakan maupun regulasi уаng meng-cover ѕеmuа hal tеrѕеbut sehingga laut аkаn dараt memperbaiki diri.

Dеngаn mencintai laut dan ikut menjaganya maka potensi lestari аkаn tinggi. Kerusakan laut tіdаk melulu soal over eksploitasi tарі ada banyak lаgі mulai dаrі pembuangan sampah sembarangan baik langsung ke laut ataupun ke sungai уаng bermuara ke laut. Maka mulailah mencintai laut kita јugа untuk anak cucu kita, agar laut tetap indah dan lestari. Mencintai tidak hanya melalui pemberitahuan semata melainkan dengan aksi bersama. (Fatimah Hilwah/AFN)

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?
  • Terinspirasi (100.0%)
  • Terhibur (0.0%)
  • Senang (0.0%)
  • Tidak Peduli (0.0%)
  • Terganggu (0.0%)
  • Takut (0.0%)
  • Marah (0.0%)
  • Sedih (0.0%)

Comments

comments