Cegah Kematian Massal Ikan, KKP Dorong Panen Parsial Jelang Perubahan Iklim

55
Dok. Humas KKP

KKPNews, Jakarta – Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) melalui Badan Riset dan Sumber Daya Manusia Kelautan dan Perikanan (BRSDM) melakukan upaya pencegahan dan pengendalian atas penyebab kematian ikan massal yang terjadi akibat perubahan musim. Terlebih saat ini Indonesia tengah mengalami musim kemarau akibat memanasnya suhu muka laut di Samudera Pasifik bagian tengah hingga timur. Musim kemarau kini sudah menghampiri utara dan timur Aceh, Sumatera Utara, Sumatera bagian selatan, Jawa, Bali, NTB, NTT, Kalimantan bagian tenggara, pesisir barat Sulawesi Selatan, pesisir utara Sulawesi Utara, pesisir dalam perairan Sulawesi Tengah, sebagian Maluku, dan Papua bagian selatan.

Kepala BRSDM, Sjarief Widjaja mengungkapkan, kematian massal ikan pada umumnya terjadi karena adanya pergantian cuaca sehingga terjadi penurunan massa air hingga upwelling, yang menyebabkan pasokan oksigen ikan berkurang secara drastis. Hal tersebut berimbas pada rusaknya suhu air.

BRSDM merekomendasikan untuk sementara waktu aktivitas Keramba Jaring Apung (KJA) dihentikan terlebih dahulu sekitar dua bulan, agar perairan bisa memperbaiki kondisinya seperti semula. Di samping itu, ia juga mendorong pembudidaya untuk melakukan panen sebagian atau panen parsial.

“Ketika waktu kematian massal ikan sudah diketahui, kenapa tidak dilakukan panen parsial, panen awal, sehingga risiko kematian massal akan lebih kecil,” ungkap Sjarief di Jakarta, Selasa (1/10).

Berdasarkan hasil riset dan informasi yang dilakukan oleh Peneliti Balai Riset Pemulihan Sumber Daya Ikan (BRPSDI) – BRSDM, Krismono dan Joni Haryadi, kemarau yang melanda Indonesia saat ini membuat daerah perairan waduk dan telaga mengalami penurunan kedalaman air dari 10 – 20 m, luas perairan menurun sehingga tinggal 50 – 60 persen. Hal ini mengindikasikan bahwa daya dukung perairan juga menurun. Daerah perairan yang mengalami penurunan kedalaman antara lain Telaga Sarangan, Danau Singkarak, Waduk Kedung Ombo, Rawa Pening, Waduk Saguling, Waduk Cirata, Waduk Wadaslintang, dan Waduk Sempor, serta Waduk Jatiluhur.

Penyusutan volume air ini juga menyebabkan konsentrasi beberapa senyawa kimia perairan menjadi lebih tinggi. Berdasarkan prakiraan cuaca dari BMKG, musim hujan akan diawali sekitar Oktober-November 2019 serta puncaknya terjadi pada Januari 2020.

“Seperti biasa, pada musim hujan maka akan terjadi pencucian daerah tangkapan air (catchment area) dengan air hujan yang kemudian masuk ke perairan waduk atau danau. Masuknya air dengan material yang dibawa dari wilayah daratan dan besarnya arus yang masuk ke perairan akan mengakibatkan pembalikan material di dasar perairan yang dangkal, sehingga akan mengakibatkan kualitas air yang jelek. Ini dapat mengakibatkan kematian ikan khususnya ikan budidaya dalam keramba jaring apung,” tuturnya.

Menurutnya, konsentrasi oksigen saat ini masih baik dan layak untuk kehidupan ikan. Sebagai contoh di Telaga Sarangan berkisar 5,59-6,23 mg/L; untuk Kedung Ombo 9,42 mg/L, dan Waduk Jatiluhur berkisar 3,83-5,76 mg/L. Namun konsentrasi oksigen terlarut ini akan menurun secara drastis ketika datang musim penghujan. Hasil monitoring rutin menunjukkan bahwa konsetrasi oksigen pada musim penghujan berkisar 1,54-3,55 mg/L, sedangkan konsentrasi oksigen yang dibutuhkan oleh ikan > 5 mg/L.

Pada musim penghujan, dikatakan terdapat hembusan angin kencang serta arus air yang deras dari sungai inlet yang menyebabkan pembalikan massa air dari dasar. Air di dasar perarian umumnya akan memiliki kualitas air yang kurang baik dengan kandungan oksigen yang rendah dan kosentrasi senyawa yang bersifat racun seperi nitrit dan amoniak sehingga ketika terjadi pembalikan massa air akan menyebabkan kematian ikan.

Kualitas yang buruk ini sebagai akibat dari dekomposisi bahan organik yang terakumulasi di dasar perairan. “Pada umumnya kematian massal ikan ditandai oleh terjadinya mendung disertai gerimis selama beberapa hari. Hal ini mengakibatkan proses fotosintesis yang menghasilkan oksigen diperairan menjadi tidak optimal, sedangkan oksigen yang ada terus digunakan untuk respirasi. Sehingga konsentrasi oksigen tidak mencukupi untuk organisme akuatik termasuk ikan budidaya,” jelasnya.

Sementara Joni menambahkan, untuk pembudidaya ikan, kondisi perairan tersebut harus menjadi perhatian. “Pembudidaya harus mengambil langkah-langkah antisipasi untuk ikannya. Langkah tersebut antara lain dengan: mengurangi kepadatan ikan (dengan dipanen), memindahkan letak KJA ke tempat yang lebih dalam, atau mempersiapkan alat aerasi karena biasanya kandungan oksigen terlarut turun, mempersiapkan penampungan ikan di kolam darat, dan lain-lain. Perhatian ini untuk pembudidaya ikan dalam KJA yang ada di perairan waduk atau danau supaya tidak terjadi kerugian besar karena kematian ikan masal,” papar Joni.

Lebih lanjut dijelaskan bahwa fenomena kematian ikan budidaya tersebut sudah sering terjadi dan menimbulkan kerugian bagi pembudidaya bahkan hingga gulung tikar. Terkadang petani telah mengetahui tentang fenomena kematian massal ikan, namum tetap melakukan kegiatan budidaya pada saat rawan kematian karena tergiur besarnya keuntungan yang akan diperoleh ketika dapat panen ikan.

Untuk beberapa lokasi seperti Waduk Jatiluhur dan Danau Toba, BRSDM telah mengeluarkan rekomendasi berupa kalender ‘Prediksi Kematian Massal Ikan’ dan skema ‘Alur Penanganan Kematian Massal Ikan’, yang berisikan data dan informasi penyebab kematian massal ikan di KJA, termasuk upaya penanggulangannya sebagai bagian upaya pencegahan dan pengendalian peristiwa kematian massal ikan agar tidak kembali terjadi. Kalender tersebut diharapkan dapat menjadi pedoman bagi pembudidaya.

Kejadian kematian massal ini umumnya terjadi pada badan air dengan kegiatan budidaya yang telah melebihi daya dukung lingkungan. Oleh karena itu, pihak pengelola juga harus mengakkan aturan tentang jumlah KJA yang boleh beroperasi.

Beban pencemaran yang masuk ke perarain juga berasal dari luar badan air, sehingga aktivitas pemanfaatan lahan di sekitar badan air juga harus diperhatikan. Kegiatan pertanian dan perkebunan yang menggunakan pupuk serta limbah rumah tangga yang masuk ke badan air juga menyebabkan penurunan kualitas air.

Sebagai informasi, BRPSDI adalah Unit Pelaksana Teknis KKP di bidang riset pemulihan sumber daya ikan perairan tawar dan laut. BRPSDI mempunyai tugas pokok melakukan riset pemulihan, konservasi, dan rehabilitas terhadap sumber daya ikan dan lingkungan di perairan laut dan tawar. (Humas BRSDM)

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?
  • Terinspirasi (100.0%)
  • Terhibur (0.0%)
  • Senang (0.0%)
  • Tidak Peduli (0.0%)
  • Terganggu (0.0%)
  • Takut (0.0%)
  • Marah (0.0%)
  • Sedih (0.0%)

Comments

comments