Budidaya Rumput Laut, Tingkatkan Kesejahteraan Menuju Kemandirian

1617
probisnis.net

Rumput laut merupakan salah satu komoditas utama perikanan budidaya yang menjadi andalan dalam peningkatan produksi, meningkatkan perekonomian daerah dan kesejahteraan masyarakat pesisir. Pengembangan budidaya rumput laut secara sinergi dan simultan merupakan bagian dari visi misi pembangunan Kabinet Kerja untuk mendorong laut sebagai sumber ekonomi bangsa di masa depan.

“Kualitas dan kuantitas produksi rumput laut akan selalu kita tingkatkan dan mendukung laut sebagai halaman depan kita, sebagai masa depan kita dan sebagai sumber devisa untuk menggerakkan perekonomian bangsa”, demikian disampaikan Direktur Jenderal Perikanan Budidaya, Slamet Soebjakto, pada acara Indonesia Seaweed Forum ketiga di Makassar.

Indonesia saat ini merupakan produsen rumput laut terbesar di dunia untuk jenis rumput Eucheuma cottonii dan Gracilaria. “Untuk cottonii, produksi kita mencapai 97,83 % dari produk dunia, sedangkan untuk gracilaria mencapai 96,4%. Ini berdasarkan data statistic FAO tahun 2014. Pada tahun 2014, produksi rumput laut kita mencapai 10,23 juta ton dan tahun 2019, target produksi kita mencapai 19,5 juta ton. Kita optimis target ini dapat tercapai karena luas lahan potensi untuk budidaya laut di seluruh Indonesia, masih cukup luas”, jelas Slamet.

Budidaya rumput laut dapat  juga dilakukan baik melalui system monokultur di laut dan tambak maupun system polikultur. “Untuk system polikultur, budidaya rumput gracilaria bisa mengurangi resiko serangan white spot pada budidaya udang. Sehingga selain mengoptimalkan produktivitas lahan, cuga mencegah serangan penyakit pada budidaya udang”, terang Slamet.

Budidaya rumput laut, ke depan akan dikembangkan di pulau-pulau terpencil dan juga di daerah perbatasan. “Saat ini, masalah kesejahteraan menjadi isu yang terdapat di kawasan perbatasan dan pulau-pulau terpencil. Dengan budidaya rumput laut yang mudah dan murah, kemudian mampu menyerap tenaga kerja dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat, kita akan terus dorong untuk pengembangan budidaya rumput laut di wilayah-wilayah tersebut. Ini juga wujud dari kedaulatan bangsa melalui budidaya rumput laut”, papar Slamet

Pada tahun 2016, Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) menganggarkan Rp. 300 milyar untuk pengembangan rumput laut. “Anggaran ini mencakup pengembangan bibit unggul rumput laut, sarana budidaya dan pengawalan teknologi budidaya rumput laut. Bibit rumput laut kultur jaringan  (KULJAR) hasil kerjasama KKP dan SEAMEO Biotrop, akan terus dikembangkan karena memiliki keunggulan baik dari segi kandungan karaginan maupun pertumbuhan yang lebih cepat”, ujar Slamet.

Terkait dengan tata ruang pesisir dan kawasan laut, pengembangan budidaya rumput laut di arahkan ke wilayah Indonesia Timur. “Pengelolaan budidaya rumput laut juga akan berdasarkan pengembangan kawasan. Sehingga selain mudah di control, budidaya rumput laut akan dapat dikembangkan secara berkelanjutan dan berbasis pada ekosistem. Wilayah Indonesia Timur, seperti Sulawesi Selatan, Sulawesi Tenggara, Nusa Tenggara Timur dan Nusa Tenggara dan Bali, merupakan wilayah dengan potensi yang cukup besar untuk dikembangkan menjadii sentra budidaya laut. Ke depan, wilayah ini akan juga dikembangkan menjadi kawasan industry rumput laut, yang terintegrasi dari hulu sampai hilir”, kata Slamet

Slamet menuturkan bahwa pengembangan industry rumput laut suatu daerah akan berhasil apabila ada sinergi dari semua pihak yang terkait. “Dukungan dan kerjasama dari pemerintah daerah sangat diperlukan dan terus di tingkatkan. Ini akan mempermudah kita bersama dalam memajukan dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat pembudidaya khususnya dan masyarakat sekitarnya pada umumnya melalui Perikanan Budidaya yang Mandiri, Berdaya Saing dan Berkelanjutan”, pungkas Slamet.

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?
  • Senang (100.0%)
  • Terhibur (0.0%)
  • Terinspirasi (0.0%)
  • Tidak Peduli (0.0%)
  • Terganggu (0.0%)
  • Takut (0.0%)
  • Marah (0.0%)
  • Sedih (0.0%)

Comments

comments