BRSDM Komitmen Tingkatkan Budidaya Perikanan Indonesia

38
Dok. Humas KKP

KKPNews, Bogor – Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) melalui Badan Riset dan Sumber Daya Manusia Kelautan dan Perikanan (BRSDM), menyelenggarakan Product Innovation Fisheries dan Aquaculture Festival (RIFA Fest), pada 13 – 14 Desember 2019. Kegiatan ini terlaksana dalam rangka meningkatkan kapasitas pelaku perikanan di bawah Satuan Administrasi Pangkalan (satminkal) Balai Riset Budidaya air Tawar dan Penyuluhan Perikanan (BRPBATPP) Bogor sebagai kelanjutan komitmen multi lima tahunan KKP secara umum dalam memperkuat dan meningkatkan standar ekonomi masyarakat perikanan.

“Saat kita makan siang, makan pagi, makan malam, mungkin kita hanya menemukan sekitar 50 jenis ikan saja yang biasa dikonsumsi. Namun sebenarnya, Indonesia memiliki lebih dari 3.000 spesies ikan. Inilah tugas kami, KKP, untuk memastikan ketersediaan bahan makan dari ikan untuk generasi masa depan dengan domestifikasikan dan budidayakan di area-area tertentu. Di samping itu, kita juga kembangkan jenis ikan baru untuk menjadikannya sumber protein bagi bangsa Indonesia,” terang Kepala Badan Riset dan Sumber Daya Manusia Kelautan dan Perikanan (BRSDM) Sjarief Widjaja.

Di samping itu, angka konsumsi ikan Indonesia setiap tahun terus mengalami peningkatan, yakni dari 41,11 kg/kapita tahun 2015 menjadi 50,69 kg/kapita di tahun 2018, dan tahun ini ditargetkan menjadi 55 kg/kapita. Hal ini perlu terus dikampanyekan dengan melibatkan seluruh pemangku kepentingan, baik pemerintah pusat, daerah, dunia usaha, maupun masyarakat umum.

Saat ini, produksi perikanan didominasi hasil kegiatan budidaya dan tangkap. Negara-negara Asia masih menguasai 88 persen produksi dunia. Budidaya mampu menyediakan setengah dari kebutuhan ikan konsumsi dunia, dengan kebutuhan ikan dunia sebesar 3,1 juta ton, Indonesia peringkat ke-4 produsen perikanan budidaya dunia. Tahun 2019 KKP pun telah melakukan eksport serentak di lima kota melibatkan 147 perusahaan perikanan. Eksport 8.9 ribu ton hasil perikanan senilai 588 M ke 21 negara tujuan, meenjadi devisa yang cukup menjanjikan dari usaha perikanan.

“Sejak 2011, BRPBATPP yang merupakan satker BRSDM, telah berhasil membudidayakan Ikan Dewa (Tor Soro) atau Kancra. Pada 2012-2015, aplikasi teknologi budidaya Ikan Dewa pun sudah diadaptasi di 12 Unit Pembenihan Daerah. Pada 2016, mulai banyak masyarakat mengadopsi budiayanya. Jenis ikan ini juga sudah dinikmati oleh masyarakat di Negara Malaysia, Singapura dan Thailand. Harga Ikan Kancra/ Dewa per kg mencapai 1,5 Juta Rupiah, namun ekspor ikan air tawar masih terbatas,” tutur Sjarief.

“Maka, mulai hari ini kami menyiapkan mekanisme dari hulu sampai hilir. Dari hulu disiapkan oleh BRPBATPP dengan menyediakan jenis ikan air tawar baru. Di tengahnya, dikembangkan UKM yang mengolah ikan air tawar jenis baru, hasil ikan berupa filet ikan dan olahan ikan lainnya. Dengan mengembangkan industri hulu sampe hilir, maka produksi ikan air tawar akan meningkat,” tegasnya.

Pengembangan perikanan budidaya yang berkelanjutan membutuhkan pengetahuan mendalam tentang genetika, sejarah kehidupan dan kemampuan adaptif dari spesies ikan yang berkaitan dengan lingkungan. Peningkatan produksi dapat dikembangkan melalui peningkatan manajemen induk dan optimalisasi produksi benih. serta, manajemen kesehatan ikan.

Pada tahun 2030, diperkirakan perikanan budidaya akan memasok lebih dari 60 persen ikan konsumsi. Namun, berkelanjutannya pembangunan akan terganggu. Intensifikasi ekologis dapat menjadi alternatif rasional untuk meningkatkan produksi perikanan budidaya dengan mengoptimalkan proses ekologis dan ekosistem.

“Langkah pertama BRSDM dalam mengembangkan perikanan budidaya yakni menyiapkan UPR (unit Pembenihan Rakyat). Kita siapkan pakannya dengan maggot dan akhirnya ekspor. Wilayah budidaya kita jadikan wisata edukasi, sentra kuliner dan kunjungan hiburan. Untuk mewujudkan hal tersebut, butuh peran peneliti, penyuluh, pendidik, pelaku perikanan dan kebijakan guna meningkatkan hasil yang inovatif dan mampu merambah dunia industri 4.0,” tuturnya.

Tujuan umum dari kegiatan Product Innovation Fisheries Aquaculture Festival (RIFA Fest) ini adalah mencari terobosan inovatif untuk kolaborasi riset dan penyuluhan dapat aplikative kemasyarakat perikanan.

Pelaksanaan kegiatan ini diharapkan berkontribusi terhadap pengelolaan kelautan dan Perikanan, dengan melahirkan lima output, yakni menyebarluaskan informasi hasil riset dan inovasi teknologi budidaya air tawar yang dihasilkan para peneliti; pengembangan wawasan dan motivasi bagi peserta UKM untuk meningkatkan kualitas produk yang dihasilkan agar dapat bersaing dipasaran; peningkatan SDM dan informasi mengenai perkembangan usaha yang dilakukan sehingga peserta memiliki perbandingan dengan usaha yang dimiliki; peningkatan akses pemasaran, menjadi ajang temu bisnis para pelaku usaha; serta sucses story hasil riset dan hasil binaan Penyuluh dengan produk unggul BRPBATPP.

Hadir dalam kesempatan tersebut, Walikota Bogor, Bima Arya; Kepala Badan Karantina Ikan dan Pengendalian Mutu, Rina; Sekretaris BRSDMKP, Maman Hermawan; Kepala Pusat Riset Perikanan; Kepala Dinas Pertanian (Kota Bogor, Kab Bogor, Kota Depok); Kepala Balai Besar Pengolahan Produk Perikanan, PSDKP; Kepala Balai lingkup BRSDMKP; para Pejabat lingkup BRSDMKP dinas Prov dan Kab-Kota
Ketua Pengurus Perhimpunan, Asosiasi, perkumpulan Perikanan di Indonesia; Stakeholder, para pelaku perikanan, Sponsor, Industri dan pelaku usaha perikanan, lembaga mitra. (Humas BRSDM)

Bagaimana reaksi Anda tentang artikel ini?
  • Terhibur (0.0%)
  • Terinspirasi (0.0%)
  • Senang (0.0%)
  • Tidak Peduli (0.0%)
  • Terganggu (0.0%)
  • Takut (0.0%)
  • Marah (0.0%)
  • Sedih (0.0%)

Comments

comments